blogger widget
Senin, 19 November 2012

Senyuman Pelangi



Menjadi yang pertama memang tak akan pernah terlupakan, selalu saja ada kenangan yang tertinggal walau itu hanya serpihan kecil kenangan.

Hujan sore ini turun tanpa celah, titik-titik hujan menyentuh dan membasahi tanah dengan sempurna. Ketika aku melihat rintik hujan ini saat itu lah kerinduanku muncul, tetes-tetes rindu membasahi hati yang sudah lama kering. Tetesan-tetesan yang dengan sempurna mengajak hati dan pikiranku kembali mengenang masa lalu, merasakan sejuknya cinta saat itu.

Tak selamanya hujan itu menyiksa, tak seharusnya hujan itu dibenci, ketika aku melihat hujan yang turun sore ini aku merasa nyaman. Kenyamanan ini terasa sudah lama sekali tidak aku rasakan, kenyamanan ketika aku ada di sampingnya dulu. Tiap belaian tangannya membelai lembut rambutku, ketika tangannya merangkul erat tubuhku, dan saat matanya menatap mataku adalah hal-hal terbaik yang mampu memberiku rasa nyaman dan bahagia.

Tetes-tetes hujan memberi kehidupan untuk tanaman yang dengan tulus menerima tetesan itu. Menyenangkan melihat ketika tetesan hujan menyentuh daun-daun hijau tanaman pekarangan rumahku. Bayangan dirinya muncul begitu saja di pikiranku, saat dia dulu memberi cintanya dengan tulus padaku dan aku dengan tulus pula menerimanya, saat itu lah dia memberiku hidup, memberiku harapan-harapan yang menjadi pengisi dalam hidupku.

Hembusan angin sore yang kurasakan sekarang memberiku ketenangan. Angin yang hanya mau datang bersama hujan, terasa dingin tetapi tidak memaksaku untuk menghangatkan diri. Angin yang dengan lembut menyentuh tubuhku, kelembutan yang hanya kurasakan ketika dia menyentuh tubuhku. Sekarang hanya hembusan angin ini  yang mampu mengganti kenangan itu, sentuhan yang hanya mampu terasa ketika cinta memberikan kelembutannya.

Aku begitu terhanyut dalam kenangan masa laluku ini, kenangan yang mengalir tak terbendung. Tetapi lamunanku hilang begitu saja ketika suara petir datang tanpa permisi, memberiku kejutan yang membawaku kembali ke waktu sekarang, jauh dari kenangan indah masa laluku. Tak berapa lama kilatan cahaya menerangi gelapnya langit yang tak berapa lama disambut suara lantang petir di angkasa. Mungkin ini memang menjadi pengingatku ketika aku terlalu terbuai dalam lautan kenangan yang aku selami, peringatan yang memberiku pertanda untuk berenang keluar dari lautan kenangan dan bernafas ke permukaan untuk melanjutkan hidupku sekarang. Jika tidak aku hanya akan mati tenggelam tak berguna dalam lautan kenangan ini.

Aku melihat ke arah langit, awan bergerak dengan cepat di angkasa. Hembusan angin bertiup kencang di angkasa memaksa awan-awan gelap pergi dari tempat nyamannya di langit. Tetesan-tetesan hujan yang tak terhitung jumlahnya itu juga ikut kemanapun awan pergi, tak ada awan maka tak ada hujan, tak ada hujan maka tak ada pula awan.

Tampak langit tak berwarna biru lagi, warnanya tak hanya biru cerah, warna oranye memberi warna lain di langit. Perlahan demi perlahan semakin terang dan terlukis indah perpaduan warna biru dan oranye di angkasa. Ketika itu pula matahari sudah mulai menampakkan dirinya, sinar oranye yang berasal darinya. Aku pun tersenyum melihat pemandangan ini, aku sudah bangun dari lamunanku.

Aku melihat ke arah jalanan yang ada di depanku, perlahan air yang membasahinya mulai menguap. Kenangan-kenanganku bersama dirinya dulu yang pernah aku cinta juga perlahan menguap. Mataku beralih ke tanaman hijau yang ada di dekatku, tetes-tetes air masih tak mau beranjak dari daun, batang, maupun tanah yang ada di sana. Begitu pula beberapa kenanganku, masih ada yang tersisa dan meresap di hati, yang tak mungkin terlupakan. Beberapa kenangan indah maupun buruk boleh saja menguap tetapi itu tidak berarti semua kenanganku bersamanya akan ikut menguap karena selalu ada yang tertinggal dari kenangan itu, yang akan tetap memberiku hidup ketika aku mengingatnya.

Sudah saatnya aku melanjutkan hidupku lagi, aku tak mau berlama-lama tenggelam dalam kenangan indahku bersamanya. Akan kucoba membuka hatiku, sama seperti ketika awan di angkasa membuka langit biru.

Ketika aku mulai ingin membuka hatiku lagi langit pun berubah menjadi lebih berwarna sekarang, warna-warni pelangi ikut terlukis di atas sana, aku tersenyum melihatnya,dan  aku yakin di balik pelangi itu dia tersenyum juga padaku. Aku berharap itu sebuah pertanda, pertanda bahwa dirinya yang pernah aku cinta dulu rela ketika aku membuka hati pada orang lain. Semoga dia tersenyum di atas sana ketika aku mulai melanjutkan hidupku lagi tanpanya. Aku yakin dia tahu bahwa aku akan tetap mengenangnya sebagai cinta pertamaku, cinta yang dulu terpisah oleh maut.

Minggu, 23 September 2012

Sebuah Alasan untuk Hidup



Tak seperti biasanya, seorang berbadan tegap dan gagah berdiri sekarang ini sedang tertunduk lesu di sudut ruangan. Sebuah ruangan yang cukup luas dan diterangi dengan cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela jendela yang terbuka. Beberapa perabotan tertata rapi, udara sejuk dari semilir angin begitu terasa menyentuh kulit. 

Begitu terlihat mencolok dengan keadaan ruangan ketika seorang pria hanya duduk di salah satu sudut ruangan tak bergerak dengan kepala yang tertunduk lesu. Seorang wanita tanpa segan masuk ke ruangan dan dengan cepat berjalan menuju ke sudut yang sama.

"Igra..Igra..Igra.." Annisa menepuk lembut tubuh itu sambil memanggil namanya.

Tak ada tanggapan, kembali Annisa mencoba menyadarkan atau pun membangunkan karena Annisa tidak tahu apa yang sedang dilakukan Igra. 

"Sudah...jangan begini." Suara lirih Annisa mencoba kembali mengembalikan jiwa Igra yang lari dari dunia nyata.

Annisa terlihat berhati-hati, dengan lembut dan perlahan Annisa mencoba menyadarkan Igra. Seorang laki-laki yang telah berhasil menggenggam hatinya dengan kuat, menancapkan pondasi yang kuat dalam hatinya dengan ketulusan cinta dari Igra.

Tangan Annisa kembali bergerak, kali ini dia memegang lembut dagu Igra dan diangkatnya perlahan. Sosok kuat dan tegar yang selama ini Annisa lihat tidak tampak sama sekali di wajah Igra. Annisa menatap dalam ke arah Igra, pandangannya terlihat kosong, tak ada pancaran semnangat dan harapan dari tatap mata Igra.

"Silahkan cerita aja, ungkapin semua aja. Aku tau memang berat gagal seperti ini. Luapin aja keluhan kamu, setidaknya masih ada aku yang mau mendengarkan."

Kegagalan dalam perlombaan yang telah Igra persiapkan lama memang sangat menyakitkan. Persiapan berbulan-bulan yang ia lakukan tidak mampu mengantarkan Igra memenangkan perlombaan. Padahal harapan besar dia taruh pada perlombaan ini karena hadiah bagi pemenang adalah beasiswa penuh kuliah s2  hukum di Belanda.

Perjuangan keras selama perlombaan pun tidak menghasilkan apa yang diinginkan Igra. Dimulai dari pembuatan karya tulis ilmiah yang dipersiapkan secara berbulan-bulan, kemudian presentasi sudah dia lakukan semaksimal mungkin tetapi ternyata masih banyak orang lain yang lebih beruntung ternyata.

Angan-angan Igra jika memenangkan perlombaan ini sudah terlukis jelas, bayangan dirinya pergi ke Belanda, membanggakan orang tua, membanggakan kekasihnya dan banyak orang sudah tergambar jelas dalam bayangannya ketika memenangkan perlombaan ini. Perlombaan ini sudah menjadi satu-satunya harapan bagi Igra, menjadi alasan bagi Igra untuk tetap melanjutkan hidup, menatap dunia dengan penuh motivasi dengan semangat. Tetapi yang terjadi benar-benar tak terbayangkan sama sekali.

Annisa mendengarkan dengan baik keluhan-keluhan Igra, diam tak berbicara hanya untuk mendengarkan apa yang terus diucapkan Igra. Annisa ingin agar Igra menumpahkan segala emosinya, meluapkan segala apa yang ada di pikirannya agar tak ada lagi pikiran-pikiran yang menghambat jalan hidupnya nanti.

"Gimana mau hidup coba kalau harapan satu-satunya sudah hilang?!!" 

Annisa tidak ingin menjawab, dia tahu Igra akan terus berbicara," Apa bisa hidup tanpa harapan?Bukannya harapan itu jadi satu alasan untuk bisa hidup??!!"

"Bagaimana bisa semangat kalau tidak ada motivasi??!! Bodoh sekali ya ternyata aku, bisa gagal seperti ini."

Annisa kali ini dengan cepat menanggapi," Kamu tidak bodoh, ingat kamu masih punya impian lain, kamu masih punya aku untuk motivasi dalam hidup kamu. Selama ini kamu sudah sangat tulus, kamu yang sudah banyak memberi pelajaran hidup buat aku. Aku cuma bisa mengingatkan kalau kamu masih punya harapan lain, kalau tidak ada motivasi tinggal cari aja motivasi lain, cari harapan lain di hidup kamu."

Igra terdiam sejenak, dia menatap Annisa, Annisa melanjutkan berbicara, " Aku ingatkan lagi, kamu masih punya impian lain, kamu sudah sering cerita kalau kamu ingin jadi menteri, kamu ingin jadi duta besar, kamu ingin kuliah di luar negeri, kamu ingin jadi seorang profesor, dan banyak lagi. Lihat sendiri kan betapa banyaknya impian kamu? jalan untuk impian kamu itu bukan cuma di perlombaan ini, masih banyak beasiswa lain, masih banyak kesempatan lain untuk bisa kuliah di luar."

"tapi aku sudah berjuang berbulan-bulan untuk ini, aku sudah berharap sepenuhnya untuk ini, apa usaha aku masih kurang? Apa usahaku sia-sia?"

"Tidak ada usaha yang sia-sia, usaha kamu tidak kurang. Bukankah kamu belajar banyak dari persiapan kamu selama ini? Bukankah kamu jadi lebih banyak tahu karena usaha kamu selama ini? Kamu pernah bilang ke aku kalau melihat kegagalan itu jangan hanya dari satu sisi, lihat sisi lainnya, lihat di balik kegagalan itu ada banyak hal yang bisa kamu dapat. Kamu jadi lebih pintar, jadi lebih banyak tahu, jadi punya pengalaman yang sangat berharga buat kamu. Aku ingetin kalau kegagalan itu tidak bisa dilihat dari sisi depannya saja tetapi lihat sisi belakangnya dimana kegagalan menghasilkan banyak hal jika kamu sadari, itu kamu yang bilang ke aku dulu."

Igra terdiam lagi, "Ini lah kenapa aku ada di sini, sebagai pengingat apa yang sudah kamu beri tahu dulu, menjadi orang yang ada buat kamu di saat-saat seperti ini, ada di saat yang tepat buat kamu bukan hanya di saat kamu senang, yang akan selalu aku ingatkan ke kamu percaya kalau aku selalu cinta kamu, cinta yang tulus buat kamu."

Igra tersenyum kecil, "Memang benar ya seseorang bisa hidup karena impian, impian yang memberi harapan, harapan yang menjadi alasan untuk hidup, hidup dengan penuh motivasi dan semangat. Dan betapa beruntungnya aku, kamu masih tetap jadi harapanku, yang membuatku hidup penuh semangat, dan selalu terbayang impian di kepalaku untuk bisa hidup dengan kamu selamanya." 
Jumat, 21 September 2012

Taman Surga



Sehelai daun itu lepas dari ranting yang menopangnya, turun perlahan melayang-layang tanpa tahu akan kemana terjatuh. Annisa menikmati apa yang dilihatnya sekarang, tidak hanya satu tetapi beberapa helai daun lepas tanpa beban.

Bola mata Annisa bergeser ke kiri dan kanan, melihat ke berbagai arah. Dedaunan yang terjatuh mulai berada pada tempat yang sudah ditentukan, bukan karena mereka sendiri tetapi karena angin yang menentukan. Wajah Annisa mengerut, dilihatnya daun kering berwarna coklat jatuh di atas kubangan air, seketika hilang ditelan air keruh berwarna coklat itu.

Ada lagi daun yang baru saja menyentuh tanah kembali terhempas tak berdaya, baru saja sebentar merasakan bau tanah sudah harus melayang lagi tanpa arah. Daun yang masih berwarna hijau itu terlempar tanpa arah tujuan. Daun yang tidak beruntung karena ranting yang menopangnya sudah rapuh, hilang sudah kesempatan menampakkan kehijauannya bagi ribuan pasang mata yang ingin melihatnya. 

Annisa melihat sedih daun hijau itu, seandainya saja ranting yang kuat yang menopangnya sudah tentu akan ada banyak waktu menikmati warna hijau segar daun itu.

“Nampaknya aku belajar banyak dari dedaunan ini.” Annisa berbicara dalam hati

Taman yang begitu luas ini memancing kaki Annisa untuk bergerak, berjalan di atas batu setapak 
menikmati berbagai macam pemandangan yang tersaji rapi. Berbagai macam warna memenuhi pandangan Annisa, bunga-bunga tumbuh sempurna, birunya danau menyejukkan mata,  hijaunya pepohonan menyegarkan mata.

“Rapuh sekali pohon ini.” Tangan berkulit putih Annisa memegang lembut batang pohon yang cukup besar.

Kulit-kulit pohon yang Annisa pegang mengelupas, memperlihatkan seberapa lama pohon ini berdiri dengan berbagai macam dedaunan berganti-ganti menghiasi kepalanya. Sekarang hanya beberapa lembar daun saja yang masih mau menghiasi kepala pohon tua ini.

“Tebang saja seharusnya pohon ini.” Annisa melihat pohon ini sudah tidak layak lagi untuk berdiri di tempat ini, kerapuhannya bagaikan satu titik hitam di atas kertas putih bersih. Satu pohon tua di antara ratusan pohon-pohon muda lainnya.

Tapi tidak tega juga Annisa jika pohon ini harus ditebang, dia masih hidup dan masih ingin berguna walau dengan segala keterbatasannya ini. Setidaknya akan mudah mencari pohon tua ini di antara banyak pepohonan di sini, tampak berbeda dengan lainnya.

“Baik-baik yaa.” Annisa tersenyum pada pohon tua ini dan berjalan meninggalkannya.

“Awww..” Jari telunjuk Annisa meneteskan darah, tertusuk duri tajam yang merobek kulit indahnya.

Dibalik keindahan warna merahnya ternyata ada bahaya yang membayangi. Annisa lupa mawar merah ini berduri. Lupa di balik kelebihan bunga ini, ada kelemahannya yang menyakitkan, duri-duri yang melindungi keindahan mawar ini, sebuah keindahan yang tidak akan mudah di dapat dan dinikmati.

Sambil mengecup jari telunjuknya Annisa melihat ke arah bunga di sebelahnya. Beberapa lebah sedang menikmati menghisap nektar. Bahan dasar bagi madu yang akan mereka buat nanti. Tidak lupa setelah selesai dan terbang meninggalkan bunga itu para lebah menyebar serbuk bunga yang menempel, memberikan bagi banyak bunga lain yang membutuhkan.

Terlukis guratan senyum di wajah Annisa melihat itu, betapa senangnya menjadi saling menguntungkan. Kembali Annisa berjalan menyusuri setapak dengan pijakan yang kuat.
Betapa senangnya pasti air di danau ini ketika tangan mulus Annisa masuk merasakan dinginnya air. 

Wajah Annisa melihat-lihat ke arah air danau ini, wajah cantik dengan rambut panjang terurainya terlukis manis di atas kanvas jernih air danau ini. Rambut bergelombang hitam terurai rapi di pundak Annisa. Mata bulatnya dihiasi dengan bulu mata yang lentik menjadi penyempurna hidungya yang mancung, bibir kecil manisnya semakin melengkapi bagian-bagian wajahnya yang menjadi satu kesatuan yang indah. Betapa beruntungnya air danau jernih itu bisa melihat dengan bebas kecantikan Annisa.

“Dasarnya terlihat jelas ya.” Annisa berbicara sendiri sambil melihat dasar danau yang tidak terlalu dalam itu.

Kejernihan air di pinggir danau ini memperlihatkan dasar berbatu dengan beberapa ikan berenang bebas di antara arus tenang danau. Annisa merasakan ketenangan melihat jernihnya air ini sama ketika ia merasakan ketulusan cinta yang pernah ia rasa, tanpa kecurigaan dan tak ada yang ditutup-tutupi. 

Berbeda ketika Annisa melihat jauh di tengah danau, tak terlihat dasarnya, hanya ketakutan yang ia rasa ketika melihat danau di bagian tengah itu, tak ada kejelasan, dan tak ada kejernihan.

Wajah Annisa berubah kecewa, di kejauhan matahari sudah ingin kembali ke tempat peraduan, sudah ingin mengakhiri pancaran sinar terangnya. Ini pula yang menjadi akhir Annisa menjelajahi taman indah ini, sebuah taman dengan berjuta keindahan dan pelajaran, sebuah taman yang mengajarkan arti kehidupan, memaknai dalam kesendirian, makna hidup yang begitu sederhana.

Sabtu, 19 Mei 2012

Sebuah Harapan Dari Kerinduan



Setiap kali kaki ini melangkah selalu saja terselip lumpur-lumpur kenangan  dan bahkan jatuh terpeleset untuk  sejenak bermain-main lagi dengan lumpur kenangan  ini. Terasa berat melangkahkan kaki di atas lumpur ini, terasa sulit bangkit lagi karena terasa menyenangkan bermain dengan lumpur ini. Kenangan ini tetapi semakin membuat gelap mataku melihat ke  arah depan, membuatku malas untuk berjalan lagi, dan membuat tak ada setitik cahaya dalam perjalanan cintaku.

Pernah satu waktu aku melihat  seorang wanita dalam perjalananku ini, makhluk  yang paling indah  yang diciptakan Tuhan. Paras cantiknya membangkitkan imajinasi dalam otakku, memfungsikan lagi fungsi otakku untuk membayangkan, membayangkan seandainya wanita cantik ini ikut dalam perjalananku. Belum lagi senyumnya  yang melelehkan hati yang sudah lama keras ini, memputihkan kembali hati yang gelap ini.

Sepatah kata meluncur tanpa halangan ketika aku  mulai menyapanya, tetapi beberapa kata kemudian terhalang tembok-tembok  trauma akan wanita. Terlihat sangat gugup saat itu, dengan terbata-bata mencoba aku memulai pembicaraan singkat ini. Perlahan demi perlahan pula tembok-tembok trauma ini mulai runtuh, runtuh oleh suara lembut wanita itu, bukan saja mampu meruntuhkan tembok penghalangku ini tetapi juga mampu membangun kembali pondasi-pondasi cinta yang sedikit demi sedikit mulai terbentuk.

Perjalanan cinta ini seketika berubah, bunga berwarna-warni tumbuh di sepanjang  jalan setapak yang aku lalui. Beberapa pohon berdaun hijau tegak berdiri menjadi tumpuan yang kuat bagi dedaunan untuk menari mengikuti irama tiupan angin. Danau dengan airnya yang jernih berada di sela-sela pepohonan yang tegak  berdiri, memantulkan cerahnya sinar matahari yang bersinar hangat.

Selangkah demi selangkah aku menikmatinya, senyum dan tawa tak henti-hentinya terlukis jelas di wajahku. Terkadang genangan air keruh dan sedikit berlumpur terinjak oleh langkah bahagiaku ini, air keruh dan lumpur  yang penuh dengan kenangan buruk akan cinta. Tetapi setidaknya itu tidak membuatku terjatuh, aku hanya berhenti sejenak, membersihkan kakiku yang terkena air dan lumpur, kemudian berjalan lagi  dan kembali menikmati indahnya jatuh cinta.

Perjalanan yang begitu menyenangkan karena wanita itu, yang akhirnya membuatku lupa bahwa kekecewaan, kesedihan, kecemburuan, penderitaan sudah menungguku di depan sana. Awan hitam yang penuh dengan kekecewaan mulai menghampiri dibarengi dengan kilatan kilatan kecemburuan yang dengan mudah menggoyahkan kekuatan pohon cinta yang sudah tegak berdiri. Tetesan-tetesan kesedihan akhirnya ikut turun membasahi bunga-bunga cinta yang menemani perjalananku, setetes demi setetes dan kemudian secaratak beraturan turun dengan cepatnya, menggenangi pijakan yang aku pakai saat ini, membanjiri bunga-bunga yang selalu menghiasi perjalananku ini.

Kembali kebahagiaanku membawaku masuk ke jurang kesedihan yang begitu dalam. Ketika aku sudah terbang tinggi karena cinta,  membuatku lupa akan daratan yang selalu aku pijak, yang akhirnya menghempaskan aku kembali ke tanah dengan rasa sakit dan derita. Wanita selalu bisa membuat bahagia tetapi selalu juga bisa membuat menderita jika cinta ada di baliknya.

Aku hanya bisa kembali berjalan, tidak mungkin aku hanya berdiam diri hanya karena cinta, tidak mungkin aku tidak melanjutkan langkahku hanya karena disakiti. Seperti saat pertama bertemu wanita itu pasti nanti di depan wanita lain yang lebih baik sudah menunggu dalam perjalanan cintaku ini. 

Untuk saat ini kembali jalan becek yang penuh dengan genangan air keruh dan lumpur menemaniku. Kenangan buruk kembali teringat ketika aku melihat ke arah kubangan air keruh dan lumpur itu. Setidaknya aku terus melihat ke depan dan berjalan berhati-hati, aku tidak ingin terjatuh karena lumpur-lumpur ini.

Keyakinanku akan cinta terus membawaku ke jalan yang benar, ketika ada persimpangan, keyakinan akan adanya cinta yang membahagiakan akan membawaku memilih jalan yang benar. Kebahagiaan sudah menungguku di depan, kebahagiaan yang akan menghapuskan kesedihan masa lalu, masa lalu yang membentuk hatiku sekarang ini, yang menguatkannya seperti sekarang ini, dan yang mendewasakan aku sampai seperti ini.

Memang benar adanya cinta akan membawa kebahagiaan, tetapi juga memang benar adanya cinta akan membawa kesedihan. Aku tidak bisa menentukan kemana cinta akan membawaku, aku hanya bisa mengikuti cinta, hanya bisa merasakannya, dan hanya bisa memahaminya saja. 

Yang terpenting saat ini adalah aku yakin bahwa cinta akan membawa kebahagiaan tetapi cinta juga akan membawa kesedihan. Aku hanya bisa menikmati semua itu, berharap perjalanan cintaku kali ini akan kembali dipenuhi ribuan bunga warna-warni, dedaunan yang menari di atas pohon yang berdiri kokoh, dan terbentang danau luas dengan sinar matahari hangat di atas permukaan air jernihnya itu. Sebuah harapan dari kerinduan akan kebahagiaan.
Minggu, 06 Mei 2012

Boneka Beruang



Suara tangis seorang perempuan perlahan mulai terdengar, dari yang tadinya pelan sedikit demi sedikit mengeras dan memekakan telinga. Kemudian suara langkah kaki juga terdengar menjadi pengiring nyanyian tak bernada itu , langkah kaki yang dengan cepat menuju ke arah suara tangis itu.

"Kamu kenapa nak?" Suara perempuan dewasa mencoba menenangkan seorang anak yang terus saja menangis layaknya menyanyi tanpa nada dan tak beraturan

Tak ada jawaban, tangisannya justru semakin keras ketika pelukan hangat mencoba menenangkan. Seorang anak dan ibu sekarang sedang berpelukan hangat mencoba kembali membuat suasana menjadi tenang.

Dengan tertatih-tatih akhirnya anak itu berbicara, "Boneka kesayanganku hilang bunda."

Ibu anak itu menghela nafas panjang.Setidaknya dia sudah tahu kenapa anaknya menangis, kekhawatiran seorang ibu mulai hilang perlahan. 

"Yaudah, kita cari dulu aja yuk." Ajak ibu itu.

Sang ibu sadar bahwa bahwa boneka itu memang boneka yang sangat disayangi anaknya itu. Sang ibu tidak heran anaknya menangis seperti itu ketika kehilangan bonekanya.  Boneka kesayangannya itu sudah menemani sang anak sejak dia berusia dua tahun sampai sekarang berusia empat belas tahun.

Menjadi tidak biasa memang ketika remaja berusia empat belas tahun masih saja bermain dengan boneka. Tetapi itu memang bukan boneka biasa, boneka beruang yang sedang ukurannya itu menjadi sosok pria yang selalu menemani sang anak.

Sejak kecil anak itu sudah ditinggal bapaknya yang menceraikan ibunya. Dan sekarang yang tersisa hanya lah dua orang sosok wanita tangguh yang mencoba menjalani hidup bersama. Boneka beruang itu menjadi sosok yang setidaknya bisa menjadi tempat bercerita untuk anak itu yang akhirnya rasa sayang terhadap boneka itu hampir sama dengan rasa sayang pada ibunya.

Rasa kehilangan yang berat melanda anak itu walaupun hanya kehilangan sebuah boneka tetapi seperti kehilangan seorang yang disayangi. Dua belas tahun bukanlah waktu singkat, bukan lah waktu yang akan cepat bisa dilupakan. Ratusan bahkan ribuan kenangan sudah tersimpan dengan baik dalam memori selama dua belas tahun bersama boneka kesayangannya itu, boneka yang menjadi sosok pria dalam keluarga, yang selalu bisa menjadi tempat bercerita dan meluapkan emosi hati.

Tidak mudah bagi anak itu untuk kembali bahagia setelah bonekanya hilang. Pikirannya melayang kemana-mana, membayangkan bagaimana kalau ibunya juga akan meninggalkannya, bagaimana jika nantinya dia sendiri menjalani waktu-waktunya dalam hidup.

~~~

Tatapan matanya kosong, melihat ke arah depan, melihat rumput-rumput yang tertiup angin, melihat daun-daun yang menari mengikuti iringan angin. Sang anak pergi ke padang rumput luas agak jauh dari rumahnya, tempat favorit sang anak ketika merasa sedih. Pergi untuk menyendiri sejenak setelah satu hari kemarin mencari-cari boneka kesayangannya itu. 

Angin bertiup semakin kencang, ranting-ranting pohon yang tadi hanya terdiam mulai ikut menari bersama dedaunan. Tarian ranting yang begitu kencang menggugurkan daun satu per satu, daun-daun hijau mulai lepas dari rantingnya karena tidak kuat  tiupan angin yang kencang.

Dalam hati sang anak berbicara, "Andai saja pohon itu punya mulut dan mata pasti dia sudah menangis, pasti dia sudah sedih karena kehilangan daun-daun hijaunya itu."
Sejenak anak itu memandangi pohon itu, meratapi sedih pohon itu yang terlihat sedikit tidak bagus karena daun-daunnya berguguran.

Tetapi kemudian sang anak tersadar sesuatu dibalik ratapannya itu, "Tapi mungkin aja pohon itu tidak akan menangis, ketika satu daun lepas maka kemudian hari pasti tumbuh daun lagi yang lebih hijau."

Anak itu terdiam sejenak lagi dan kemudian berbicara kembali dalam hati, "Ternyata selalu ada hal baru dari kehilangan, kehilangan sudah menjadi unsur kehidupan pohon itu ternyata. Andai saja dia itu manusia pasti sudah tersenyum bahkan tertawa mendengar aku berbicara bahwa dia akan menangis ketika kehilangan daun-daunnya."

Setiap manusia pasti akan mengalami kehilangan, kehilangan menjadi sebuah proses untuk lebih menghargai rasa memiliki. Tak akan pernah memiliki sesuatu seutuhnya jika belum pernah merasakan kehilangan. Kehilangan menjadi suatu hal yang harus dirasakan untuk bisa menghargai apa yang dimiliki.
Berbagai macam cara dan tindakan yang dilakukan untuk menghadapi kehilangan, tidak ada yang benar dan tidak ada yang cara yang salah untuk menghadapi kehilangan. Ketika sudah merasa bahwa betapa pentingnya menghargai dan mempertahankan apa yang  dimiliki maka saat itu lah masa-masa sulit dalam menghadapi kehilangan sudah terlewati.
Minggu, 26 Februari 2012

Serpihan Kenangan


Melihat pintu kayu dengan guratan-guratan tua di wajahnya itu seketika beberapa serpihan kenangan terlintas di pikiranku. Serpihan-serpihan kenangan yang mulai sambung menyambung membentuk satu kenangan yang utuh ketika aku mulai melewati pintu kayu lapuk itu.

Terbayang semua begitu aku masuk ke dalam ruang tamu, bayangan masa lalu memperlihatkan betapa tertata rapi ruang tamu itu. Berbeda dengan yang aku lihat sekarang, ruangan kosong berdebu lah yang memenuhi pandangan mataku sekarang ini. Tak ada lagi pot bunga berwarna-warni di sudut ruangan ini, hanya rangkaian sarang laba-laba menjadi dekorasi sudut ruang ini.

Berjalan sedikit kembali sebuah ruangan membawaku terbang ke masa lalu, melihat lagi betapa hangatnya suasana saat itu. Saat dimana ketika aku baru saja bisa berjalan, nenek dan kakekku mengajak aku berlari-lari kecil. Tawa canda dan tangis menghias susasana saat itu, tawa ketika nenek tersenyum ke arahku dan tangis ketika aku terjatuh mengejar kakekku. Sejenak wajahku terhias oleh senyuman ketika terbayang kenangan bahagia itu.

Seketika aku kembali ke masa sekarang ketika tangan istriku memegangku lembut. Kembali aku berjalan pelan menuju ruangan lainnya, kali ini bersama istriku, mengajaknya untuk ikut terhanyut dalam kenangan indahku saat kecil. Masih terukir dengan kuat di otakku memori-memori di kamar ini. Ketika aku bercanda bersama nenekku, ketika aku menarik-narik rambut nenekku. Tawa bahagia terukir jelas di wajahku saat itu, bagaimana ketika kakekku selalu menemani ketika aku bermain di atas tempat tidurnya, menunda sebentar waktunya untuk tidur hanya untuk menemaniku bermain.

Belum lagi ketika aku menonton televisi bersama kakek dan nenekku, bernyanyi lagu apa saja yang aku ingat ketika menonton televisi. Dengan suara yang tidak bagus sama sekali saat itu aku bernyanyi seadanya, tidak peduli kata-kata yang berbeda dari lirik sebenarnya, yang terpenting bisa bernyanyi bersama dengan kakek dan nenekku. Tetapi itu 25 tahun yang lalu, ketika aku baru berumur 4 tahun, sudah lancar berjalan tetapi masih sulit untuk membaca dan menulis.

“kekkkk..susuu..” Kata-kata yang selalu terucap ketika aku ingin tidur saat itu. Sebotol susu yang mengantarku tidur ditemani kakek dan nenekku.

Lebih banyak kuhabiskan waktuku bersama kakek dan nenekku ketika aku menginap di rumah mereka dulu. Ayah dan ibuku lebih banyak berada di kamarnya sendiri di rumah yang terbilang besar ini. Kenyamanan dan suasana hangat begitu terasa ketika aku bersama kakek dan nenek, itu yang membuatku selalu ingin menginap di rumah ini. Seandainya saja saat itu aku sudah lancar berbicara, sudah bisa berpikir dengan baik tentunya aku akan berbicara dengan orang tuaku untuk diasuh saja oleh kakek dan nenek.

Terasa berbeda memang, orang tua ku selalu saja membuatku menangis saat itu, banyak memberi nasehat, dan tidak lupa kemarahan selalu terdengar di telingaku. Terkadang pula tangan ibuku yang mendarat tepat di punggungku, memukul cukup keras untuk menghentikan tangisanku dan sudah bisa ditebak saat itu aku tidak berhenti menangis , tangisanku semakin keras dan semakin keras pula pukulan ibuku.

Tapi memang begitu lah cara orang tuaku mengasuh, cara mengasuh yang membentukku menjadi seperti sekarang ini, menjadi laki-laki yang kuat, yang tangguh dan pekerja keras. Kesuksesanku sekarang ini memang tak lepas dari peran orang tuaku.

Menjadi berbeda ketika aku bersama kakek dan nenek, nasehat-nasehat yang mereka beri padaku sungguh enak di telinga. Tidak ada beban dalam diri mereka ketika mengasuhku, tidak pernah mereka membuatku menangis karena amarah, ketika aku menangis pun mereka menenangkanku dengan penuh kesabaran.

Ya memang tanggung jawab yang besar padaku yang menjadikan orang tuaku mengasuh dengan keras. Mereka ingin aku menjadi laki-laki yang sukses nantinya, dan aku selalu bersyukur bisa mempunyai orang tua seperti mereka , ayah ibuku yang sekarang sudah mulai tampak keriput di wajah mereka. Keriput-keriput yang penuh kenangan, yang mengantarku sampai kepada kesuksesanku sekarang.

Tak ada hentinya serpihan-serpihan kenangan ini berputar di otakku, mengajakku untuk berpikir, untuk menyatukan serpihan-serpihan itu. Serpihan kenangan yang tak ada habisnya ketika aku berkunjung ke rumah kakek nenekku, yang sampai sekarang masih ada walaupun tidak terawat dengan baik.

Walaupun rumah ini sudah berusia sangat tua setidaknya ketika aku berkunjung ke rumah ini memberi aku kesempatan untuk kembali ke masa lalu, dan berenang-renang dalam lautan kenangan. Serpihan kenangan yang sulit aku satukan ketika aku tidak berada di rumah ini, serpihan kenangan yang mengingatkanku cara mengasuh yang berbeda antara orang tuaku dan kakek nenek, serpihan kenangan yang selalu membuatku tersenyum ketika aku berhasil menyatukannya.Ya rumah tua ini membuatku selalu mengenang lagi kakek dan nenek yang saat ini mungkin juga sedang tersenyum melihatku berkunjung ke rumah tuanya ini.
Selasa, 21 Februari 2012

Oni


Seperti aliran sungai yang terus mengalir uang yang mengalir ke orang tua Oni selalu saja mengalir, tak pernah berhenti seperti sungai yang kehilangan airnya saat musim kemarau panjang. Orang tua Oni bekerja sebagai pengusaha yang sukses, usahanya bermacam-macam dan itu yang membuatnya uang mereka selalu mengalir, tidak terpengaruh jika ada satu usaha yang mengalami kerugian karena usaha yang lain akan menutupinya.

Begitu mudahnya uang ada begitu mudahnya juga Oni meminta banyak hal, dari mobil, handphone, sampai rumah untuk dia sendiri. Padahal usia Oni masih 17 tahun tapi barang-barang yang dia miliki melampaui jauh dari apa yang semestinya dimiliki anak seusianya.

"Papa, mobil yang aku punya ini terlalu besar pa." Seperti biasa Oni mengeluh tentang apa yang dimilikinya dan itu menjadi senjatanya juga untuk bisa mendapatkan yang baru. Dengan keluhan maka akan muncul yang baru, itu lah yang selalu dilakukan Oni.

Seperti biasa pula dengan santainya papa Oni menjawab akan membelikan mobil baru. Dan memang benar keesokan harinya mobil lama sudah diganti dengan mobil yang baru. Belum puas akan keluhannya Oni kembali mengeluh pada papanya, kali ini Oni sambil melihat ke arah cermin di ruang keluarganya itu, "Kurang pas ni pa kalau di leher aku kalungnya bukan kalung emas putih."

Sang papa tersenyum, "Iya deh iya anakku yang cantik, nanti papa belikan kalung buat kamu." Pintar memang Oni dalam meminta suatu hal, dengan mudahnya pasti permintaannya akan dikabulkan karena selain uang orang tuanya yang melimpah dia juga merupakan anak tunggal di keluarganya. Satu per satu permintaannya selalu dikabulkan dan itu menjadikan dia hidup dengan sempurna.

Begitu lah kehidupan yang dijalankan Oni, begitu sempurna di mata orang lain tetapi ternyata belum sempurna di mata Oni. Selalu saja ia ingin hal yang lebih dari apa yang diinginkan, tetapi memang begitu lah selalu saja tidak puas dengan apa yang dimiliki. Ketika berada di atas maka tidak akan mau untuk melihat ke bawah, dan itu pula yang terjadi pada Oni, selalu ingin melihat ke atas, selalu mencari kesempurnaan.
~~~

Perlahan demi perlahan satu per satu usaha orang tuanya mulai berguguran, seperti daun di musim gugur, satu per satu mulai berjatuhan menyentuh tanah, mulai jatuh dan hilang. Satu per satu permintaan yang diminta oleh Oni juga semakin sulit untuk dikabulkan. Bukannya dikabulkan justru apa yang Oni punya sekarang mulai hilang sedikit demi sedikit.

Sederas air sungai mengalir, sebanyak air sungai yang mengalir pasti suatu waktu akan ada hambatan yang menghadang laju air itu. Uang orang tua Oni mulai terhambat alirannya, entah pergi kemana uang-uang itu, dan sampai pada akhirnya berhenti sama sekali. Tak ada lagi aliran uang, tak ada lagi uang yang melimpah.

Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan Oni sekarang, kesempurnaannya perlahan mulai memudar. Apa yang dia miliki mulai hilang satu per satu. Kekecewaan dan kesedihan tentu dirasakan Oni, dan tentunya sekarang penyesalan lah yang paling mendominasi dalam hati Oni. Ketika melihat ke cermin dalam hati Oni hanya bisa berkata," Tidak masalah sebenarnya dulu aku hanya memakai kalung emas biasa, dari pada sekarang aku tidak memakai kalung sama sekali."

Oni hanya duduk termenung dan melihat ke arah luar, melihat mobil yang dia miliki sudah tidak ada. Lagi-lagi penyesalan kembali datang, "tidak apa kalau aku punya mobil yang besar itu dari pada sekarang aku sudah tidak punya mobil lagi."

Melihat keadaan sekitar Oni kembali hanya bisa bersedih, melihat keadaan rumah yang jauh berbeda dari dulu, membandingkan dengan rumah mewah yang dahulu. Ini hanyalah sebuah rumah sederhana, ukurannya pun lebih kecil dari rumahnya yang dulu. Sekarang Oni harus menghadapi kenyataan, menghadapi bagaimana dia bisa bertahan dengan sikap perfeksionisnya ketika dirinya berada di bawah.

Sekarang Oni merasakan bagaimana melihat kesempurnaan dari ketidaksempurnaan yang ia alami, ia merasakan bagaimana rasanya melihat ke atas dengan kondisinya sekarang yang sedang ada di bawah, dengan kondisi jauh dari kemewahan. Oni juga tersadar bahwa tidak ada yang sempurna, tidak ada gunanya mengejar kesempurnaan, mengejar kesempurnaan hanya membuang waktunya, dan membuang segalanya. 

Ketika berada di atas seharusnya bukan hanya selalu melihat ke atas, terus melihat kesempurnaan tetapi seharusnya melihat ke bawah untuk  melihat bagaimana ketidaksempurnaan itu ada. Melihat begitu mahalnya kesempurnaan yang Oni miliki dulu, dan sekarang hanya penyesalan dan kesedihan yang dirasakan Oni.
Jumat, 03 Februari 2012

Dedaunan Kering


Mata ini tidak bisa lepas memandang ketika dia lewat di tepat di depan tubuhku, aroma wangi dengan lembut dan perlahan tercium oleh indra penciumanku. Seakan ingin mengikuti pesona gadis itu, dedaunan kering  di sekitar kakiku melayang terbang begitu saja menjadi berserakan, tentu bukan karena ingin benar-benar mengikuti gadis cantik itu tetapi karena angin yang lewat saat tubuh gadis itu melintas dan karena sepasang kaki gadis itu yang tanpa sengaja menerbangkan tumpukan dedaunan kering itu . Aku baru menyadari ketika gadis itu sudah lepas dari pandanganku, dedaunan kering yang baru saja aku sapu tadi sekarang sudah tidak berkumpul menjadi satu tumpukan lagi, akan menjadi pekerjaan berat bagiku pagi ini.  Tetapi setidaknya aku senang bisa melihatnya dari dekat dan memberi senyuman terbaikku.

Dengan sapu lidi bergagang panjang yang aku pegang ini, aku kembali mulai mengumpulkan dedaunan kering untuk nantinya aku bakar. Menjadikan halaman sekolah ini terlihat bersih dan menyejukkan mata bagi siapa saja yang melihatnya. Dengan perasaan yang masih bahagia aku lakukan pekerjaan ini dengan selalu mengumbar senyuman, sejenak aku bisa melupakan betapa beratnya pekerjaan yang sebenarnya tidak aku inginkan ini.

Memang ternyata dibalik nasib baikku pagi ini terselip nasib sial yang aku alami, nasib bersama dedaunan kering ini. Lagi-lagi tumpuka daun yang sudah aku kumpulkan kembali terpisah, kali ini menjadi sangat berantakan. Menjadikan pemandangan halaman sekolah seperti habis dilanda angin topan, mataku pun ini menjadi berat, menjadi tak mau melihat pemandangan ini.

Beberapa anak lelaki dengan sengaja mengacak-acak daun-daun kering yang sudah aku sapu itu. Kumpulan anak-anak labil SMA yang tak tahu diri, dan bagiku mereka hanyalah anak kecil yang tak tahu malu. Sebentar aku melihat ke arah mereka, seperti sebagian anak-anak SMA yang tak punya rasa menghargai, dengan nada yang tinggi dan dengan wajah yang sombong  satu diantara mereka membentakku,”Apa kamu liat-liat??!!” Beberapa detik kemudian anak yang lain mengulangi kata-kata itu lagi, kali ini dengan mata melotot, kembali anak yang lain juga mengulang kata yang sama dan dengan langkah kaki yang dibuat-buat agar terlihat gagah mulai menghampiriku. Aku hanya melihat sebentar dan memilih tidak mempedulikannya. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku, membiarkan suara-suara mereka melintas seperti angin di telingaku, lewat begitu saja.Lagi pula buat apa aku meladeni mereka, meladeni anak-anak yang labil dan masih mencari jati diri itu. Walaupun usiaku sepantaran dengan mereka tapi aku jauh lebih dewasa dari mereka, walaupun aku hanya bersekolah sampai bangku SMP tapi aku lebih bermoral, sifat dan  kedewasaanku ini terbentuk dari kerasnya hidup yang aku jalani.

“Kringgggg..” Bunyi lantang bel masuk sekolah membubarkan mereka yang terus menggangguku. Kembali suara-suara bentakan muncul, “Awas ya nanti!!!” Walau berbeda kata tetapi mereka masih sama saling bergantian mengucapkan itu, terlihat seperti paduan suara yang saling sahut menyahut tetapi dengan suara dan nada yang buruk tentunya.

~~~

Betapa bahagianya aku ketika gadis yang aku suka itu menghampiriku dan mengajakku berbicara. Jantung ini seakan tidak ingin berdetak, berhenti karena ketidakpercayaanku ini. Betapa kagetnya aku dia menghampiriku, dan seperti pagi tadi aku kembali memberikan senyuman terbaikku. Kembali nasib baikku diselipi nasib sial, sepertinya nasib sialku tidak ingin melihat aku bahagia walau sebentar saja. Anak-anak pengganggu itu kembali datang,dan seperti biasa aku menjadi bahan ejekan mereka, apalagi kali ini gadis cantik itu sekarang bersamaku, tentu ini semakin menjatuhkan harga diriku. Cemoohan merendahakn aku terima dari mereka, dari tukang sapu sekolah yang tak tahu diri, tak tahu malu, sampai tukang sapu sekolah yang berharap terlalu tinggi untuk disukai seorang gadis cantik. Apa kalau aku tukang sapu aku tidak berhak menyukai orang lain?Bukannya suka, cinta, dan sayang siapa saja boleh merasakannya? Tidak peduli berpendidikan apa, tidak peduli apa pekerjaannya, tidak peduli status apa yang dipunya. Aku mengucapkan itu pada mereka semua, tetapi aku mengatakannya hanya dalam hati saja. Aku kemudian tersenyum pada para penggangu itu dan tentunya pada gadis itu dan kemudian pergi meninggalkan mereka. Kembali ke pekerjaanku, menyapu dedaunan kering dan membuangnya, sama seperti yang ingin aku lakukan pada anak-anak tak berguna itu.
Minggu, 08 Januari 2012

Lautan Tulus Persahabatan


Awan mendung terlukis jelas di langit, sinar matahari tak mampu menembus tebalnya awan mendung pagi itu. Setidaknya ini menjadi gambaran suasana hati Clara yang sedang bersedih, sinar kebahagiaan tidak bisa memancar dari wajah cantik Clara, terhalang oleh banyaknya masalah yang ia hadapi.

Pagi itu Clara hanya duduk diam di kamarnya, memandang ke luar jendela, meratapi nasib hidupnya sekarang, dan berusaha untuk lari dari kenyataan hidupnya sekarang. Tatapan matanya beralih seketika saat handphonenya berdering, satu pesan pendek masuk dan itu melengkapi puluhan pesan pendek lainnya yang dari kemarin masuk ke handphonenya. Masih sama seperti kemarin, pesan pendek dari Cecil sahabatnya yang mendominasi, begitu juga puluhan panggilan tak terjawab dari Cecil yang dibiarkan begitu saja.

Dari kemarin Clara tidak masuk sekolah, waktunya ia habiskan di rumah, mengurung diri di kamar, mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Sebagai sahabat tentu Cecil merasa khawatir dengan keadaan Clara, sejak kemarin Cecil terus mencoba menghubungi Clara dan sempat datang berkunjung ke rumah Clara yang hasilnya sama saja, Cecil tidak tahu keadaan sahabat sejak kecilnya itu.

~~~

“Halo.selamat siang, bisa bicara dengan Clara?”

“Clara sedang tidak ada di rumah mbak, maaf ini dengan siapa?”  Suara yang asing seorang perempuan, bukan ibunya Clara ataupun pembantu yang biasanya ada di rumah Clara.

“Saya Cecil teman sekolah Clara..kalau boleh tau kemana ya Clara?” Cecil tidak peduli dengan siapa yang mengangkat telepon, mungkin saja dia pembantu baru di rumah Clara karena Cecil sudah hafal dengan suara penghuni di rumah Clara karena hampir setiap hari main ke rumah Clara.

“Kurang tahu saya mbak..”

“Dengan siapa ya Clara perginya?” Cecil masih penasaran.

“Saya juga kurang tahu,..”

“Ohhh yasuda, terima kasih ya..” Cecil semakin khawatir.

“Tadi dari siapa mbak?dari Cecil ya?”

“Iya non..tadi tanya tentang non Clara terus saya jawab non Clara lagi pergi.”

“Bagus mbak, kalau ada telpon lagi bilang aku lagi pergi aja ya mbak.”

Ternyata Clara masih tidak ingin diganggu, sekalipun oleh sahabatnya sendiri, Clara masih ingin sendiri dan merenung.
`~~~

Malam harinya Cecil semakin khawatir dengan sahabatnya itu, pikirannya dipenuhi dengan kekhawatiran akan keadaan Clara. Cecil yakin kalau Clara ada di rumah dan malam itu Cecil memutuskan untuk ke rumah Clara.

 “ Clara nya ada mbak?” Seorang perempuan keluar ketika Cecil baru saja menekan bel rumah Clara.

“Clara tidak ada di rumah..” Suara yang sama ketika Cecil menelpon tadi siang.

“Ohhh.terima kasih ya mbak..” Cecil tidak menyerah begitu saja, dia hanya memastikan apa jawaban dari pembantu Clara.

Cecil kemudian berjalan menjauh dari pintu rumah Clara.Cecil  berjalan ke arah belakang rumah ketika pembantu Clara masuk. Diam-diam Cecil menuju ke kamar Clara dan akhirnya dia bisa masuk ke kamar Clara yang saat itu sedang duduk diam di atas tempat tidur, dengan wajah yang menyedihkan, dengan kantong mata di wajah yang begitu tebal, serta dengan badan yang berubah kurus.

“Cecil!!!” Clara kaget begitu melihat ke arah tangan yang merangkulnya dari samping. Clara tidak menyadari kedatangan sahabatnya itu, kesedihan membuatnya sejenak melayang dari dunia nyata.

Seketika tangis Clara pecah, Clara memeluk erat tubuh Cecil, meluapkan semua emosinya yang selama ini terpendam. Cecil mencoba menenangkan Clara, membelai-belai rambutnya, memberi kenyamanan, dan membiarkan Clara menangis.

Setelah Clara sedikit tenang, ia mulai menceritakan masalahnya itu. Clara tidak tahan setiap hari melihat pertengkaran orang tuanya sejak dua bulan lalu , dan puncaknya ketika tiga hari lalu orang tua Clara bercerai dan meninggalkan begitu saja Clara di rumah sendiri saat kedua orang tua Clara menyelesaikan perceraian dan hak asuh Clara.

Cecil akhirnya tahu keadaan sahabatnya itu, dan saat ini hanya dia lah yang bisa membuat Clara kembali seperti biasanya walaupun tidak akan seperti dulu saat kedua orang tuanya masih bersama.

Clara  hanya bisa menerima segala perlakuan yang dilakukan sahabatnya Cecil, perlakuan yang membuatnya nyaman, yang sedikit demi sedikit mulai mengembalikan senyumnya. Cecil hanya melakukan yang ia bisa sebagai seorang sahabat,  mengembalikan kebahagiaan dari kesedihan dalam lautan tulus persahabatan, dengan ketulusan yang tak ada habisnya.
Kamis, 05 Januari 2012

Senyuman Satu Malam


“Masih ada tiga bulan lagi..” Tangan  Riba menghitung hari di kalender yang ia pegang.

Riba kemudian keluar dari kamarnya, melewati sekat yang hanya terbuat dari kain bekas yang dijahit kembali menjadi seukuran pintu, untuk menutupi kamarnya. Riba berjalan keluar rumah dan disambut dengan matahari yang menyinari tepat di tubuhnya. Matahari yang sudah tidak ada di titik tertingginya dan perlahan sudah mulai bersiap untuk bersembunyi di balik awan yang mulai berubah warna menjadi oranye.

“Ibu..Riba pergi dulu ya, mau belajar kelompok..” Ibunya tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil mengambil pakaian dari jemuran yang ada di luar rumah.

~~~

“Rokoknya pak..rokoknya...” Satu wadah besar terbuat dari kayu sudah dibawa oleh Riba, tidak hanya berisi rokok, ada juga minuman dan makanan kecil.

Langit sudah berubah jadi gelap, cahaya bintang dan bulan sudah menggantikan matahari. Kira-kira pukul setengah tujuh malam Riba sudah berada di terminal, menunggu para penumpang yang turun ataupun penumpang yang akan berangkat, berharap kiranya mereka mau membeli barang dagangannya.

Riba berbohong pda ibunya dengan beralasan belajar kelompok padahal sebenarnya dia menjadi pedagang asongan di terminal untuk mencari uang. Riba tidak berani beterus terang pada ibunya kalau dia bekerja karena pasti ibunya akan sangat marah. Ibunya ingin Riba belajar dengan serius di bangku SMA, ibunya ingin Riba fokus pada sekolahnya agar dia bisa sukses.

Walaupun begitu selalu terjadi pergolakan dalam hati Riba, di satu sisi ia ingin membantu ibunya mencari uang untuk menghidupi satu adiknya dan dia sendiri tetapi di sisi lain ibunya tidak memperbolehkan dia untuk bekerja. Sejak ditinggal pergi ayahnya memang sekarang ibu Riba menjadi tulang punggung utama di keluarga. Ibu Riba hanya bekerja sebagai buruh cuci dan bekerja apa saja agar mendapat uang. Akhirnya Riba pun berinisiatif untuk mencari uang tanpa sepengetahuan ibunya.

~~~

“Tinggal dua minggu lagi, semoga sudah cukup..” Riba melihat kalender dan menimbang-nimbang tabungannya.

“Riba!! Makan dulu ayo..” Suara keras ibu Riba  sedikit mengangetkannya.

“Ini buat kamu..” Ibu Riba membagikan sepotong tempe padanya, sepotong tempe lagi diberikan adiknya. Ibunya tidak kebagian dan hanya makan nasi dan sayur daun pepaya.

Memang sudah biasa mereka makan seperti ini, ibu Riba selalu mengalah membiarkan anaknya mendapat jatah makanan yang lebih enak. Riba sendiri pun sering membagikan makanannya tapi ibunya selalu menolak, ibu Riba selalu beralasan anak-anaknya lah yang lebih butuh , makan nasi putih saja bagi ibu Riba tidak masalah.

“Tunggu ya bu, Riba akan buat ibu bahagia walaupun Cuma satu hari, ini untuk membalas semua kebaikan dan kerja keras ibu.” Dalam hati Riba berbicara sambil melihat ibunya yang sedang makan, dengan wajah yang masih bisa tersenyum walau dengan keadaan seperti ini.

~~~

“Riba!!!Kenapa nilai kamu begini?!!!Ibu sudah capek cari uang buat kamu, buat sekolah kamu, tapi kenapa begini??!!!!” Ibu Riba memegang hasil ulangan yang ia temukan di kamar Riba, beberapa kertas ulangan yang disimpan Riba.

Riba hanya terdiam dan menunduk lesu. Ini semua adalah akibat dari Riba yang malam harinya bekerja jadi dia tidak belajar tiap kali ulangan.

“Maaf  bu..” Riba mencoba menenangkan ibunya. Ibu Riba langsung berjalan keluar dari kamar Riba.

“Padahal hari ini hari ulang tahun ibu dan aku sudah siapkan pesta kecil untuk ibu, tapi kenapa malah begini..kenapa hasil ulanganku bisa ditemukan ibu..”Wajah Riba terlihat sedih.

“Hari ini harus aku berikan hadiahnya!hari ini harus ada pesta untuk ibuku!” Riba kemudian menyiapkan semuanya, kue yang telah ia beli, hiasan yang telah beli untuk menghias ruang makan yang menyatu dengan ruang keluarga  yang nantinya jadi tempat pesta kecil untuk ibunya. Dari tadi Riba juga belum memberi ucapan selamat pada ibunya dan mungkin saja itu yang membuat tadi ibunya sangat marah.

“Selamat ulang tahun ibu..” Akhirnya waktunya tiba juga, malam hari ibu Riba baru pulang dari bekerja menjadi buruh cuci bersama adiknya.

Wajah ibu Riba seketika berubah, dari yang semula biasa saja dan sedikit terlihat sedih berubah menjadi kaget dan tidak percaya. Seketika kemudian wajah ibu Riba berubah lagi, kali ini muncul senyuman ketika Riba memberikan kue ulang tahun pada ibunya.

“Terima kasih ya nak..” Air mata menetes dari mata Ibu Riba dan langsung memeluk Riba, air mata yang bercampur senyum kebahagiaan. Kerja keras Riba selama ini setidaknya bisa membuat ibunya bahagia walaupun harus mengorbankan nilainya jelek tapi nilai tentunya  masih bisa diperbaiki. Karena bisa melihat senyum bahagia dari wajah ibunya adalah suatu hal yang membahagiakannya juga walaupun itu hanya satu malam saja.

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia