blogger widget
Minggu, 26 Februari 2012

Serpihan Kenangan


Melihat pintu kayu dengan guratan-guratan tua di wajahnya itu seketika beberapa serpihan kenangan terlintas di pikiranku. Serpihan-serpihan kenangan yang mulai sambung menyambung membentuk satu kenangan yang utuh ketika aku mulai melewati pintu kayu lapuk itu.

Terbayang semua begitu aku masuk ke dalam ruang tamu, bayangan masa lalu memperlihatkan betapa tertata rapi ruang tamu itu. Berbeda dengan yang aku lihat sekarang, ruangan kosong berdebu lah yang memenuhi pandangan mataku sekarang ini. Tak ada lagi pot bunga berwarna-warni di sudut ruangan ini, hanya rangkaian sarang laba-laba menjadi dekorasi sudut ruang ini.

Berjalan sedikit kembali sebuah ruangan membawaku terbang ke masa lalu, melihat lagi betapa hangatnya suasana saat itu. Saat dimana ketika aku baru saja bisa berjalan, nenek dan kakekku mengajak aku berlari-lari kecil. Tawa canda dan tangis menghias susasana saat itu, tawa ketika nenek tersenyum ke arahku dan tangis ketika aku terjatuh mengejar kakekku. Sejenak wajahku terhias oleh senyuman ketika terbayang kenangan bahagia itu.

Seketika aku kembali ke masa sekarang ketika tangan istriku memegangku lembut. Kembali aku berjalan pelan menuju ruangan lainnya, kali ini bersama istriku, mengajaknya untuk ikut terhanyut dalam kenangan indahku saat kecil. Masih terukir dengan kuat di otakku memori-memori di kamar ini. Ketika aku bercanda bersama nenekku, ketika aku menarik-narik rambut nenekku. Tawa bahagia terukir jelas di wajahku saat itu, bagaimana ketika kakekku selalu menemani ketika aku bermain di atas tempat tidurnya, menunda sebentar waktunya untuk tidur hanya untuk menemaniku bermain.

Belum lagi ketika aku menonton televisi bersama kakek dan nenekku, bernyanyi lagu apa saja yang aku ingat ketika menonton televisi. Dengan suara yang tidak bagus sama sekali saat itu aku bernyanyi seadanya, tidak peduli kata-kata yang berbeda dari lirik sebenarnya, yang terpenting bisa bernyanyi bersama dengan kakek dan nenekku. Tetapi itu 25 tahun yang lalu, ketika aku baru berumur 4 tahun, sudah lancar berjalan tetapi masih sulit untuk membaca dan menulis.

“kekkkk..susuu..” Kata-kata yang selalu terucap ketika aku ingin tidur saat itu. Sebotol susu yang mengantarku tidur ditemani kakek dan nenekku.

Lebih banyak kuhabiskan waktuku bersama kakek dan nenekku ketika aku menginap di rumah mereka dulu. Ayah dan ibuku lebih banyak berada di kamarnya sendiri di rumah yang terbilang besar ini. Kenyamanan dan suasana hangat begitu terasa ketika aku bersama kakek dan nenek, itu yang membuatku selalu ingin menginap di rumah ini. Seandainya saja saat itu aku sudah lancar berbicara, sudah bisa berpikir dengan baik tentunya aku akan berbicara dengan orang tuaku untuk diasuh saja oleh kakek dan nenek.

Terasa berbeda memang, orang tua ku selalu saja membuatku menangis saat itu, banyak memberi nasehat, dan tidak lupa kemarahan selalu terdengar di telingaku. Terkadang pula tangan ibuku yang mendarat tepat di punggungku, memukul cukup keras untuk menghentikan tangisanku dan sudah bisa ditebak saat itu aku tidak berhenti menangis , tangisanku semakin keras dan semakin keras pula pukulan ibuku.

Tapi memang begitu lah cara orang tuaku mengasuh, cara mengasuh yang membentukku menjadi seperti sekarang ini, menjadi laki-laki yang kuat, yang tangguh dan pekerja keras. Kesuksesanku sekarang ini memang tak lepas dari peran orang tuaku.

Menjadi berbeda ketika aku bersama kakek dan nenek, nasehat-nasehat yang mereka beri padaku sungguh enak di telinga. Tidak ada beban dalam diri mereka ketika mengasuhku, tidak pernah mereka membuatku menangis karena amarah, ketika aku menangis pun mereka menenangkanku dengan penuh kesabaran.

Ya memang tanggung jawab yang besar padaku yang menjadikan orang tuaku mengasuh dengan keras. Mereka ingin aku menjadi laki-laki yang sukses nantinya, dan aku selalu bersyukur bisa mempunyai orang tua seperti mereka , ayah ibuku yang sekarang sudah mulai tampak keriput di wajah mereka. Keriput-keriput yang penuh kenangan, yang mengantarku sampai kepada kesuksesanku sekarang.

Tak ada hentinya serpihan-serpihan kenangan ini berputar di otakku, mengajakku untuk berpikir, untuk menyatukan serpihan-serpihan itu. Serpihan kenangan yang tak ada habisnya ketika aku berkunjung ke rumah kakek nenekku, yang sampai sekarang masih ada walaupun tidak terawat dengan baik.

Walaupun rumah ini sudah berusia sangat tua setidaknya ketika aku berkunjung ke rumah ini memberi aku kesempatan untuk kembali ke masa lalu, dan berenang-renang dalam lautan kenangan. Serpihan kenangan yang sulit aku satukan ketika aku tidak berada di rumah ini, serpihan kenangan yang mengingatkanku cara mengasuh yang berbeda antara orang tuaku dan kakek nenek, serpihan kenangan yang selalu membuatku tersenyum ketika aku berhasil menyatukannya.Ya rumah tua ini membuatku selalu mengenang lagi kakek dan nenek yang saat ini mungkin juga sedang tersenyum melihatku berkunjung ke rumah tuanya ini.

1 komentar:

Teguh Kurnaen at: 3 April 2012 21.26 mengatakan...

saya suka blognya, simple tampilannya, isi bagus. :D
salam kenal
Ada event buat para blogger nih, hadiahnya Samsung Galaxy ACE dan uang tunai.

Poskan Komentar

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia