blogger widget
Minggu, 06 Mei 2012

Boneka Beruang



Suara tangis seorang perempuan perlahan mulai terdengar, dari yang tadinya pelan sedikit demi sedikit mengeras dan memekakan telinga. Kemudian suara langkah kaki juga terdengar menjadi pengiring nyanyian tak bernada itu , langkah kaki yang dengan cepat menuju ke arah suara tangis itu.

"Kamu kenapa nak?" Suara perempuan dewasa mencoba menenangkan seorang anak yang terus saja menangis layaknya menyanyi tanpa nada dan tak beraturan

Tak ada jawaban, tangisannya justru semakin keras ketika pelukan hangat mencoba menenangkan. Seorang anak dan ibu sekarang sedang berpelukan hangat mencoba kembali membuat suasana menjadi tenang.

Dengan tertatih-tatih akhirnya anak itu berbicara, "Boneka kesayanganku hilang bunda."

Ibu anak itu menghela nafas panjang.Setidaknya dia sudah tahu kenapa anaknya menangis, kekhawatiran seorang ibu mulai hilang perlahan. 

"Yaudah, kita cari dulu aja yuk." Ajak ibu itu.

Sang ibu sadar bahwa bahwa boneka itu memang boneka yang sangat disayangi anaknya itu. Sang ibu tidak heran anaknya menangis seperti itu ketika kehilangan bonekanya.  Boneka kesayangannya itu sudah menemani sang anak sejak dia berusia dua tahun sampai sekarang berusia empat belas tahun.

Menjadi tidak biasa memang ketika remaja berusia empat belas tahun masih saja bermain dengan boneka. Tetapi itu memang bukan boneka biasa, boneka beruang yang sedang ukurannya itu menjadi sosok pria yang selalu menemani sang anak.

Sejak kecil anak itu sudah ditinggal bapaknya yang menceraikan ibunya. Dan sekarang yang tersisa hanya lah dua orang sosok wanita tangguh yang mencoba menjalani hidup bersama. Boneka beruang itu menjadi sosok yang setidaknya bisa menjadi tempat bercerita untuk anak itu yang akhirnya rasa sayang terhadap boneka itu hampir sama dengan rasa sayang pada ibunya.

Rasa kehilangan yang berat melanda anak itu walaupun hanya kehilangan sebuah boneka tetapi seperti kehilangan seorang yang disayangi. Dua belas tahun bukanlah waktu singkat, bukan lah waktu yang akan cepat bisa dilupakan. Ratusan bahkan ribuan kenangan sudah tersimpan dengan baik dalam memori selama dua belas tahun bersama boneka kesayangannya itu, boneka yang menjadi sosok pria dalam keluarga, yang selalu bisa menjadi tempat bercerita dan meluapkan emosi hati.

Tidak mudah bagi anak itu untuk kembali bahagia setelah bonekanya hilang. Pikirannya melayang kemana-mana, membayangkan bagaimana kalau ibunya juga akan meninggalkannya, bagaimana jika nantinya dia sendiri menjalani waktu-waktunya dalam hidup.

~~~

Tatapan matanya kosong, melihat ke arah depan, melihat rumput-rumput yang tertiup angin, melihat daun-daun yang menari mengikuti iringan angin. Sang anak pergi ke padang rumput luas agak jauh dari rumahnya, tempat favorit sang anak ketika merasa sedih. Pergi untuk menyendiri sejenak setelah satu hari kemarin mencari-cari boneka kesayangannya itu. 

Angin bertiup semakin kencang, ranting-ranting pohon yang tadi hanya terdiam mulai ikut menari bersama dedaunan. Tarian ranting yang begitu kencang menggugurkan daun satu per satu, daun-daun hijau mulai lepas dari rantingnya karena tidak kuat  tiupan angin yang kencang.

Dalam hati sang anak berbicara, "Andai saja pohon itu punya mulut dan mata pasti dia sudah menangis, pasti dia sudah sedih karena kehilangan daun-daun hijaunya itu."
Sejenak anak itu memandangi pohon itu, meratapi sedih pohon itu yang terlihat sedikit tidak bagus karena daun-daunnya berguguran.

Tetapi kemudian sang anak tersadar sesuatu dibalik ratapannya itu, "Tapi mungkin aja pohon itu tidak akan menangis, ketika satu daun lepas maka kemudian hari pasti tumbuh daun lagi yang lebih hijau."

Anak itu terdiam sejenak lagi dan kemudian berbicara kembali dalam hati, "Ternyata selalu ada hal baru dari kehilangan, kehilangan sudah menjadi unsur kehidupan pohon itu ternyata. Andai saja dia itu manusia pasti sudah tersenyum bahkan tertawa mendengar aku berbicara bahwa dia akan menangis ketika kehilangan daun-daunnya."

Setiap manusia pasti akan mengalami kehilangan, kehilangan menjadi sebuah proses untuk lebih menghargai rasa memiliki. Tak akan pernah memiliki sesuatu seutuhnya jika belum pernah merasakan kehilangan. Kehilangan menjadi suatu hal yang harus dirasakan untuk bisa menghargai apa yang dimiliki.
Berbagai macam cara dan tindakan yang dilakukan untuk menghadapi kehilangan, tidak ada yang benar dan tidak ada yang cara yang salah untuk menghadapi kehilangan. Ketika sudah merasa bahwa betapa pentingnya menghargai dan mempertahankan apa yang  dimiliki maka saat itu lah masa-masa sulit dalam menghadapi kehilangan sudah terlewati.

0 komentar:

Posting Komentar

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia