blogger widget
Selasa, 01 April 2014

Sebuah Cermin Diri


Karakter diri adalah hal yang fundamental dalam setiap diri manusia, seperti sebuah ungkapan yang berbunyi Knowledge is Power but Character is More. Karakter menentukan bagaimana seseorang berperilaku, menjalin hubungan antar personal serta memberi pengaruh pada sudut pandang atau cara pikir seseorang dalam berbagai hal. Karakter dapat dikatakan sebagai jiwa atau roh yang mengisi raga dari seorang manusia dan karakter itu akan lebih banyak dibentuk secara sengaja oleh masing-masing manusia itu sendiri.

Memang banyak cara untuk bisa membentuk sebuah karakter diri yang ideal namun yang sering dilupakan adalah tak banyak individu yang mau untuk mengenal karakter diri mereka masing-masing. Padahal untuk membentuk karakter diri hal yang paling dasar dan menentukan adalah bagaimana seseorang mampu untuk mengenal dirinya sendiri dan menganalisis karakter diri mereka masing-masing. Pengenalan diri ini akan meningkatkan efektifitas dari setiap pembentukan karakter yang dilakukan karena tak semua cara-cara pembentukan karakter sesuai dengan karakter diri masing-masing.

Mengambil salah satu cara dalam psikologi jawa bahwa untuk bisa jauh mengenal diri sendiri adalah dengan mawas diri. Mawas diri dapat dipahami sebagai upaya untuk memahami diri sendiri, keinginan-keinginan sendiri, dan susah senangnya sendiri. Mawas diri ini jika dilakukan dengan benar maka selanjutnya akan menuju tahap pemahaman diri, penyerahan diri serta pada akhirnya sampai pada penyadaran diri. Tidak mudah memang untuk menjadi seorang pribadi yang mawas diri, banyak kendala bagi seorang manusia untuk bisa menjadi seorang yang mawas diri.

Manusia pada dasarnya cemas dan khawatir untuk meneliti diri mereka sendiri, mereka cemas dan khawatir menemukan kenyataan-kenyataan diri yang tidak menyenangkan. Seseorang akan cenderung menghindari ketika mereka menemukan kelemahan mereka, berusaha untuk menutupinya dan menyembunyikannya jauh di dalam pikiran mereka sehingga orang lain tak akan melihatnya. Padahal untuk bisa mawas diri atau meneliti lebih jauh tentang diri sendiri dibutuhkan keterbukaan pada diri sendiri, dibutuhkan penerimaan diri dan menerima apa adanya semua yang ada dalam diri sendiri sekalipun itu adalah hal yang buruk. Untuk mampu mengenal dan menerima diri sendiri memang diperlukan langkah-langkah nyata dalam rangka untuk memahami lebih jauh tentang diri sendiri.

Melakukan perbincangan dengan diri sendiri bisa menjadi salah satu langkah untuk mengenal jauh tentang karakter diri. Perlu rasa bebas, perhatian terpusat yang artinya kini di sini saya memperhatikan dulu saya di sana atau yang lebih mudahnya dapat diartikan sebagai sebuah perenungan yang reflektif untuk melihat jauh ke dalam tentang karakter diri.

Perenungan diri ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri seperti misalnya, siapakah saya? Bagaimana saya bisa menjadi seperti diri saya sekarang ini? Bagaimana saya ketika berhubungan dengan orang lain? Mengapa saya ada di dunia ini? Apa tujuan hidup saya? dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan itu nantinya akan direnungkan dan dipikirkan untuk pada akhirnya menemukan jawaban-jawaban yang tentunya tidak memuaskan tetapi setidaknya membuka jalan untuk mengenal lebih jauh tentang diri sendiri.

Jawaban-jawaban itu akan menuntun lebih dalam untuk mengenal karakter diri apa saja yang dimiliki, karakter yang baik maupun karakter yang buruk. Selanjutnya akan ada perenungan lebih jauh lagi untuk meneliti karakter diri itu secara objektif dan sebagaimana adanya.Dari perenungan tentang karakter diri itu maka selanjutnya seorang individu akan bisa jauh mengenal dirinya sendiri dan tentunya itu akan berguna dalam pembentukan karakter seperti apa yang diinginkan di masa yang akan datang.

Ketika masing-masing individu sudah mengetahu karakter diri mereka masing-masing maka selanjutnya mulai masuk pada tahap pengembangan karakter. Ada banyak pembahasan mengenai karakter ideal apa saja yang bisa dibentuk seperti misalnya karakter seorang pemimpin yang memiliki kharisma yang digagas oleh John C Maxwell. John C Maxwell menyebutkan bahwa ada 4 karakter seorang pemimpin yang berkharisma yaitu mencintai kehidupan, menghargai orang lain, membangkitkan harapan, dan mau berbagi.Tak hanya itu ada pula karakter yang ideal adalah mereka yang disiplin, tegas, arif dan bijaksana, serta memiliki rasa empati pada orang lain.

Pada akhirnya pembentukan karakter itu memang diperlukan untuk membentuk seseorang yang bisa berguna bagi sesama. Karakter diri itu juga nantinya akan ikut menentukan karakter sebuah bangsa. Maka agar dapat membentuk sebuah karakter yang ideal tentunya harus melakukan hal yang sangat  mendasar yaitu pengenalan dan pemahaman mengenai karakter diri masing-masing terlebih dahulu.  Dari pengenalan karakter diri itu maka selanjutnya akan lebih mudah dalam hal pembentukan karakter seorang individu dan itu tentunya  dimulai dengan keterbukaan dalam menerima cerminan diri.


 Daftar Pustaka
Jatman, Darmanto. 2011. Psikologi Jawa. Yogyakarta: Yayasan Kayoman.
Pearson, Pat. 2006. Stop Self-Sabotage. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Setyono, Ariesandi dan Adi W.Gunawan. 2007. Manage Your Mind for Success. Jakarta: PT  Gramedia Pustaka Utama.
Soedarsono, Soemarno. 2005.  Hasrat untuk Berubah. Jakarta: PT Elexmedia Komputindo.
Winarti, Euis. 2007. Pengembangan Kepribadian. Yogyakarta: Graha Ilmu.



Kamis, 07 November 2013

Sebuah Akhir


Melihat pemandangan di depan mata membuat pikiran ini terbang melayang ke masa lalu, sepuluh tahun yang lalu. Samar-samar memang tapi terasa menyakitkan untukku, gumpalan kesedihan mulai pecah dan menyebar ke seluruh tubuhku. Selanjutnya air mata tak mampu berdiam di tempatnya saja, perlahan dorongan kuat dari buliran-buliran kesedihan menjadikannya turun perlahan mengikuti gravitasi.
Aku mencoba memejamkan mataku, mencoba menghapus semua ini, tapi ternyata justru kepingan-kepingan kenangan masa lalu makin tersusun rapi membentuk sebuah gambaran yang terasa nyata bagiku. Pertengkaran suami dan istri di antara hijaunya taman di sini mampu merubah semuanya, gersang dan kepedihan menjadi selimut baru di taman yang hijau ini.
Aku tak mau melawannya, aku biarkan setiap kepingan kenangan di kepalaku mengalir, membiarkannya seperti sehelai daun yang terbawa arus sungai dengan lembut. Aku membuka mataku dan melihat kembali apa yang ada di depanku. Aku seperti merasakan lagi suasana masa laluku, sebuah tontonan yang berakhir tak bahagia, suami istri itu berjalan menuju arah yang berbeda dengan wajah terlipat.
Aku tak tahu kenapa kenangan buruk ini terus melekat sepanjang hidupku, mungkin karena saat itu setiap butir kenangan yang aku terima menjadi pondasi bagi masa depan pikiranku. Jika ingin membuat seseorang menjadi manusia yang penuh amarah, kebencian, dan trauma maka cukup beri saja dia tontonan pertengkaran sepanjang hari ketika dia masih kecil, pasti itu akan membekas di pikiran dan perasaannya, seperti bekas luka yang tak kunjung sembuh sepanjang hidup.
“Ayo nak tiup lilinnya..” Aku tersentak dari lamunan. Seorang laki-laki dan perempuan yang baru aku kenal selama lima tahun kini menjadi ayah dan ibuku yang baru.

Aku memandangi angka 17 dengan lilin di atasnya yang menyala, tak kuasa aku menahan tangis, kobaran kecil api di lilin itu membuat air bah tumpah keluar dari mataku tak terbendung. Bongkahan besar kenangan jatuh tepat di pikiran dan perasaanku, membuat sebuah lubang besar kepedihan yang akan terus membekas, tak akan pernah hilang sepanjang hidupku. Kobaran api yang selalu membawaku untuk melihat ayah dan ibuku dulu saling membakar tubuh satu sama lain, menjadi akhir dari seluruh pertengkaran yang terjadi sepuluh tahun lalu, dan tentunya menjadi akhir bagiku untuk merasakan kasih sayang dari mereka berdua.

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia