blogger widget
Selasa, 27 Desember 2011

Selembar Kain Hitam


“Ini ayah beri selembar kain hitam..” Kain hitam yang tidak terlalu panjang itu diberikan pada anaknya Raka. Anak muda berusia 20 tahun yang sudah mendapatkan pekerjaan tetap di kota lain.

Raka kebingungan, “Ini buat apa yah?” Dilihatnya selembar kain hitam itu, dia coba pasangkan di lengannya, lalu dicobanya sebagai ikat kepala, diapakai juga di lehernya. Ayahnya hanya tersenyum.

“Nakkk..bis sudah datang nak.” Suara lembut perempuan terdengar dan seketika untuk sementara waktu membuyarkan kebingungan Raka.

Tanpa berlama-lama, Raka mengambil tas kopernya dan bergegas menuju ke bis yang sudah menjemputnya. Bis yang akan mengantarkannya berpisah dengan keluarganya, menuju ke tempat yang asing baginya, untuk sementara waktu tidak akan melihat wajah ayah dan ibunya, wajah yang nantinya hanya akan ada di angan-angan saja.

Di dalam bis Raka masih memegang kain hitam yang diberikan ayahnya itu. Dalam hati terus terjadi pergolakan, terus muncul berbagai pertanyaan untuk apa kain hitam itu. Raka hanya percaya pada ayahnya kalau kain hitam itu pasti berguna di tempat kerjanya nanti apalagi memang ayah dulunya juga bekerja di tempat yang akan menjadi tempat kerjaku nanti. Raka menggantikan ayahnya bekerja, bekerja di sebuah perusahaan yang terbilang cukup sukses di kota itu.

~~~

“Ini ruang kerja kamu..” Sesaat setelah tadi sampai Raka langsung diantar ke tempat kerjanya.

“Ini nanti buku-buku yang ada di sini boleh saya rapikan dan saya buang yang tidak perlu Pak?” Raka memperhatikan sekeliling ruang kerjanya yang berantakan itu.

Dengan nada yang agak tinggi orang yang menemani Raka itu menanggapinya,” Jangan, nanti itu ada yang merapikan. Kamu kan belum tahu apa-apa, kamu kan masih baru.”

“Iya pak..” Raka menjawab dengan pelan sambil menganggukkan kepalanya.

Tidak lama memang datang seseorang yang bertugas merapikan buku-buku maupun beberapa tumpukan kertas yang ada di meja ruang kerja Raka. Dilihat dari pembawaannya terlihat orang ini seperti birah yang tak berakar. Dari cara berjalan terlihat malas-malasan, badannya pun tidak tegap dan sedikit membungkuk, serta wajahnya hanya berhias ekspresi datar saja.

“Mas mas, bawanya jangan begitu, nanti jatuh lho.” Raka memberi saran melihat orang itu membawa tumpukan buku dan arsip hanya dengan satu tangan saja. Tangan yang satunya dimasukkan ke kantong.

“Ahhh..tau apa kamu?Saya sudah berpengalaman di sini, biasanya juga begini saya bawanya dan baik-baik saja!”  Orang itu terlihat sedikit marah.

“Maaf  mas..” Raka hanya tersenyum dan meminta maaf.

~~~

Sudah beberapa minggu Raka bekerja di tempat itu. Hari demi hari ia lalui dengan semangat, tidak pernah ia mengeluh dengan banyaknya pekerjaan yang ia jalani. Tidak peduli jika harus bekerja sampai matahari sampai larut malam, sampai bintang-bintang bersinar sangat terang. Walaupun Raka sangat bersemangat, dia sulit mendapatkan teman yang baik di kantornya itu, kebanyakan dari mereka sudah berusia tidak muda lagi. Bahkan Raka justru sering membuat masalah dengan karyawan lain dan harus sering dipanggil atasannya.

“Raka!!Lagi-lagi kamu membuat masalah, sudah berapa kali kamu saya panggil??!!Sudah banyak yang melapor pada saya tentang kelakuanmu..”

“Maaf pak..saya Cuma memberi saran buat mereka pak..” Raka tertunduk lesu.

“Mereka itu jauh lebih tua dari kamu, mereka sudah lama kerja di sini, kurang ajar namanya kalau kamu begitu!!” Atasan Raka semakin marah mendengar Raka yang justru menanggapi.

Lagi-lagi Raka tidak tinggal diam, kata-kata yang sudah lama terpendam ini akhirnya keluar juga, “ Tapi mereka banyak melakukan kesalahan Pak, bukannya saya mau kurang ajar atau mau sok tahu tapi mereka melakukan kesalahan pak.” Raka mulai mengangkat kepalanya dan menatap atasannya itu.

“Brakkkk!!!!” Tangan atasan Raka menggebrak meja, keripu di wajah atasan Raka terlihat sedikit kencang, matanya menatap tajam Raka.

Dengan nada yang semakin tinggi atasan Raka semakin marah,”Hormati mereka yang lebih tua dari kamu, kamu memberi saran begitu memang kamu sudah paling hebat di sini? Kamu tu masih baru di sini, usia kamu saja masih setengah dari usia saya.Jangan kurang ajar kamu ya!!!”

Raka mengerutkan dahinya, wajahnya sedikit marah dan kecewa tapi dia tetap tidak tinggal diam kali ini,” Tapi mereka itu Pak menulis pembukuan yang salah, mereka tidak teliti dan saya hanya membenarkan saja, saya memebri tahu bagaimana yang benar, tapi mereka malah tidak terima dan malah melapor ke bapak.”

Raka sendiri sudah sering mendengar kemarahan dari atasannya dan baru kali ini dia berbicara karena dia sudah tidak tahan. Dengan masalah yang sama Raka akhirnya memutuskan untuk menjelaskan semuanya, menjelaskan mengapa banyak karyawan yang melapor ke atasannya. Dia sudah bosan mendengar amukan atasannya yang terus mendengung di telinganya, suaranya seperti kumbang yang dijolok, begitu keras dan sangat membosankan. Hanya itu yang terus ia dengar ketika masuk ke ruangan atasannya, hanya itu yang ia dapatkan ketika kakinya harus masuk ke ruangan atasannya.


Atasan Raka berdiri, “Sudah cukup!!! Kalau kamu bicara lagi saya pecat kamu!!!!”
Seketika Raka terdiam, mulutnya seakan terkunci rapat, kata-kata yang masih ingin keluar itu kembali tertelan. Dalam Hati Raka berpikir jika ia dipecat nanti maka itu akan sangat mengecewakan ayahnya, Raka tidak akan bisa membantu keluarganya lagi, padahal ia satu-satunya anak yang membantu ayah dan ibunya agar tetap bisa makan dan hidup.

“Maaf Pak..” Raka hanya mengeluarkan kata itu, kata yang sebenarnya tidak ingin ia keluarkan.

“Silahkan keluar dari ruangan saya!!” Raka berjalan keluar mendengar perkataan atasannya itu, langkah kakinya terasa berat mengingat masih ada yang ingin ia bicarakan, ia masih tidak terima dengan perlakuan atasannya yang tidak mau mendengarnya, tidak mau mendengar penjelasannya.

~~~

“Ibu...ini seharusnya begini, pencatatan penjualan dan pembelian ini terbalik bu, jumlahnya jadi tidak sama bu ini.” Raka memperlihatkan kesalahan yang ada pada pembukuan itu.

Raka disini memang bertugas sebagai pemeriksa pembukuan keuangan perusahaan, jadi laporan-laporan yang dibuat karyawan lain kemudiaan diberikan pada Raka untuk diperiksa. Hal ini lah yang sering membuat Raka bekerja keras, membetulkan semuanya sendiri jika terjadi kesalahan karena karyawan lain tidak ingin disalahkan hanya karena Raka karyawan baru dan masih muda. Hal ini juga lah yang membuat Raka dipanggil atasannya karena dianggap membuat masalah dengan karyawan lain.

“Sudah benar saya tadi mencatatnya, coba diperiksa lagi, saya mau membuat laporan yang lain..” Karyawan itu langsung pergi meninggalkan Raka tanpa mendengarkan koreksi Raka.

“Pak, tolong bapak  saja yang periksa, saya masih banyak laporan yang belum saya periksa.” Raka memberikan laporan karyawan tadi pada rekannya yang lain agar dibetulkan kesalahannya.

Rekan kerja Raka itu kemudian memeriksa sebentar dan kemudian berjalan ke tempat kerja karyawan yang membuat laporan itu. Tidak berapa lama laporan itu diberikan dan rekan kerja Raka ini kembali ke tempatnya tanpa membawa laporan yang ia bawa tadi. Dalam hati Raka menerka-nerka, mungkin saja ibu itu mau membetulkan laporannya.

“Pak, itu tadi laporannya dibetulkan ibu itu sendiri ya pak?” Raka kemudian bertanya.

“Iya, tadi saya lihat ada kesalahan dan dia mau  membetulkan sendiri . Makanya kalau bicara dengan karyawan yang lain sopan.”

Raka hanya tersenyum dan berbicara dalam hati, “Perasaan aku sudah sopan bicaranya, mereka aja yang nggak mau dengerin aku. Betul saja dia mau membenarkan laporannya, rekan kerjaku ini memang sudah jauh berpengalaman dari aku, jauh lebih tua pula.”
Raka mencoba bersabar dan berpikir lagi bagaimana agar ia didengarkan. Apa harus bersabar sampai nanti sudah bertahun-tahun di sini?Sulit memang keadaan Raka sekarang, yang muda tidak didengarkan sekalipun pendapatnya benar. Pemikiran orang-orang di kantor Raka yang kolot, yang jadul, dimana orang tua harus selalu dihormati dan dihargai serta menjadi yang paling benar memang menyulitkan Raka untuk berkembang.

Raka pun di dalam kamarnya merenung, mengingat-ingat lagi tujuannya ke sini, semua ia lakukan demi keluarganya. Raka teringat ayah dan ibunya, muncul bayang-bayang ayah dan ibunya, kemudian Raka teringat sesuatu. Raka teringat pemeberian ayahnya sebelum ia berangkat ke kota ini, ayahnya memberikan selembar kain hitam.

Raka kemudian berpikir lagi, memang pemberian ayahnya itu berhubungan dengan tempat kerjanya sekarang. “Wahhhh..benar juga ya ternyata kain hitam ini untuk itu, ternyata kain hitam ini mengingatkanku, seandainya saja aku tahu dari awal pasti aku bisa menghadapi semua ini.”

Ya, Raka sadar bahwa kain hitam itu harus ia gunakan pada orang-orang di tempat kerjanya ketika ia mengoreksi kesalahan dan memberi saran, digunakannya untuk menutup mata orang itu. Digunakannya agar orang-orang itu tidak melihat Raka dari usianya yang masih muda, tidak dilihatnya wajah muda dari Raka, tidak melihat bahwa dia baru saja bekerja di tempat itu.

“Hahahaha...tapi tidak mungkin aku melakukan itu, menutup mata mereka, kena marah pasti aku nanti. Setidaknya ini untuk memberiku kekuatan agar bisa bersabar, agar bisa siap menghadapi semua itu.” Raka hanya tertawa dan kembali bersemangat.

Raka sudah bertekad tidak akan diam saja menghadapi orang-orang di kanttornya, kain hitam pemberian ayahnya itu ternyata memberikan semangat padanya untuk bisa merubah pemikiran orang-orang di kantornya agar mau mendengarkan yang lebih muda dan yang masih kurang berpengalaman. Ya memang bukan masalah usia dan pengalaman semata, jika memang benar dan baik maka sebaiknya didengarkan, tidak perlu bukan kain hitam untuk menutup mata mereka yang tidak mau mendengarkan? Itulah tekad Raka, merubah pemikiran itu agar perusahaan tempatnya bekerja semakin maju dengan mau mendengarkan.
Sabtu, 24 Desember 2011

Lembaran-Lembaran Hidupku


Pagi buta aku sudah harus membuka mataku, ketika matahari masih belum menampakkan dirinya aku sudah harus mulai keluar menembus dinginnya pagi. Kaki-kakiku yang kaku harus dipaksa untuk bergerak, menyusuri jalanan yang masih sepi menuju ke tempat yang tiap hari selalu aku tuju, tempat dimana aku bisa menyambung hidupku.

"Ini buat kamu.." Seorang laki-laki berbadan tegap besar menyodori aku setumpuk koran yang sudah diikat rapi.

Dia adalah bosku, dari dia lah aku bisa makan, dari dia lah hidupku kugantungkan. Tidak hanya aku, banyak anak-anak seusiaku lainnya yang bekerja dengan bosku ini. Bekerja sepanjang hari, melupakan mimpi kami untuk bersekolah, melupakan keinginan kami untuk bisa bermain-main di usia seperti kami. Jika diluar sana anak-anak lain duduk manis di sekolah, mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Pertama, aku dan teman-teman yang lain sudah harus berpikir cara bertahan hidup.

Belum sempat aku beristirahat setelah tadi berjalan cukup jauh, aku kembali harus menggerakkan kaki-kakiku ini. Aku harus berpacu dengan matahari, harus sampai ke tempat aku menjual sebelum matahari muncul dari persembunyiannya.

Dengan nafas yang cukup terengah-engah aku mulai menawarkan lembaran-lembaran hidupku ini, "Pak korannya pak.." Tanganku juga ikut menawarkan.

Hanya gelengan kepala dan lambaian tangan saja yang aku dapat dari orang di dalam mobil itu. Dengan tersenyum aku menanggapinya dan berjalan menuju ke kendaraan lain.

Motor, mobil, dan angkutan umum satu persatu aku hampiri. Menawarkan koran-koran ini, menawarkan lembaran-lembaran informasi dan pengetahuan ini. Satu per satu koran-koran ini mulai menghilang dari tanganku, mulai berkurang beban di tanganku ini, dan kantongku mulai terisi uang-uang kertas dan receh.

Matahari sudah mulai agak tinggi, yang tadinya hanya terlihat setengah sekarang sudah mulai terlihat penuh. Ini menjadi anda buatku untuk bersiap-siap. Aku harus siap menahan sengatan panasnya yang mendarat di kulitku, wajahku tidak lama lagi akan berhias tetes-tetes keringat, telapak kakiku harus terbakar panasnya aspal yang tersengat matahari. Semua itu akan semakin menguras tenagaku, perutku ini juga belum terisi makanan apapun dari semalam. Tapi itu semua tidak berarti bagiku, aku sudah biasa menghadapi semua itu, semua itu hanya lah rintangan kecil dalam kehidupanku karena dibalik semua itu aku sangat bersyukur atas banyak hal.

"Awwww.." Kakiku ku angkat dengan segera, tumpukan koran yang aku bawa terjatuh.

Seperti biasanya aku lalai, aku tidak memperhatikan lampu di traffic light itu. Aku fokus pada orang-orang di kendaraan-kendaraan itu. Sepeda motor tanpa sengaja menyerempetku ketika lampu traffic light sudah berganti hijau dan seketika rentetat suara klakson berdengung di telingaku. Aku segera berjalan cepat dari tengah jalan dan mengambil tumpukan koranku yan jatuh,untunglah tumpukan koran
itu tidak terlindas oleh kendaraan lain.

Suasana semakin ramai,  antrean kendaraan yang berhenti di traffic light semakin banyak, semakin siang memang akan semakin ramai. Ini saat menyenangkan bagiku karena koran-koran ini akan semakin cepat terjual.

"Ini Pak korannya.." Aku memberikan satu koran pada seorang pengendara motor yang sedang menunggu lampu berwarna hijau.

"Terima kasih ya Pak.." Aku menerima selembar uang dua ribu rupiah.

Kembali aku mendapatkan pembeli, "Ini Mas korannya.." Sambil menunggu orang itu mengambil uang aku melihat lampu traffic light agar aku tidak terserempet lagi.

"Mas..mas..mas..uangnya mas.." Aku berlari kecil ketika orang yang membeli koranku tadi belum membayar. Lampu traffic light sudah hijau dan orang itu belum membayar koran yang ia beli. Sulit bagiku untuk mengejarnya dalam keadaan lampu sudah hijau.

Aku hanya membuang nafas panjang dan kembali berjalan ke pinggir jalan untuk menunggu pembeli lain. Tidak jarang memang ada orang yang membeli korang dan tidak membayarnya, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa . Setidaknya ini bukan rejekiku hari ini karena aku harus mengganti rugi koran itu dengan uang pribadiku. Sudah pasti jika begitu uang yang aku dapat berkurang, tapi tidak masalah buatku, yang penting aku masih bisa makan, aku hanya menganggap itu sebuah cobaan kecil untukku.

Aku memang hanya memikirkan hidupku sendiri karena dari kecil aku sudah tidak punya orang tua, dari kecil aku sudah hidup di jalan. Entah kemana ayah dan ibuku, aku dari kecil hanya melihat orang-orang dari jalanan, mereka lah yang merawatku seadanya.Tidak ada susu untuk pertumbuhanku, hanya air putih. Tidak ada baju yang nyaman di tubuhku, hanya baju dengan ukuran seadanya dan sobek di beberapa bagian. Dan tidak ada popok untuk menampung kotoran-kotoranku, di mana saja aku buang air, di pakaianku, di celanaku, ataupun di trotoar tempatku tidur.

Aku istirahat sejenak, mengistirahatkan kakiku yang sudah mulai lemas, mengumpulkan tenaga yang sudah mulai habis. Aku berteduh di bawah pohon yang cukup rindang di pinggir jalan, cukup untuk melindungiku dari matahari, memulai untuk melakukan hal yang sangat aku sukai. Aku mulai membuka-buka koran yang aku bawa, mulai membacanya halaman per halaman dan coba untuk memahaminya dengan susah payah.

Beruntung bagiku karena aku bisa membaca walaupun tidak sekolah, aku diajar membaca oleh seorang yang kuanggap kakakku sendiri. Walaupun sulit awalnya tetapi setidaknya sekarang aku bisa membaca dan itu menjadi hal yang paling aku suka. Karena bisa membaca itu aku sangat menikmati pekerjaan ini, aku bisa tahu banyak hal, bisa belajar walaupun tidak dari pendidikan formal, bisa banyak tahu dari anak-anak lain seusiaku. Sedikit mungkin anak-anak seusiaku yang menempuh pendidikan formal yang mau membaca koran. Setidaknya ini menjadi kebanggaanku sendiri bisa tahu lebih banyak dari mereka walaupun tetap aku sangat ingin seperti mereka yang bisa menempuh pendidikan formal.

Aku membaca dengan perlahan, mencoba memahami berita yang aku baca, berpikir tentang apa yang diceritakan dalam tulisan itu. Berbagai macam tulisan aku baca walaupun terkadang aku tidak paham yang ada di tulisan itu, tetapi aku sangat menyukainya karena aku bisa tahu banyak hal dari tulisan-tulisan di koran ini.

Setelah tenaga kembali terkumpul walaupun tidak sepenuhnya karena aku belum makan, aku kembali melanjutkan menjual sisa koran-koran ini. Masih cukup banyak tumpukan koran yang aku bawa tapi masih banyak waktu pula yang aku punya untuk menjual koran-koran ini, sampai matahari kembali menghilang dari pandanganku.

Dari lembaran-lembaran ini lah aku menggantukan hidupku, dari situlah aku bisa makan dan terus menyambung hidupku. Lembaran-lembaran itu pula yang membuatku harus mengubur mimpi-mimpiku, harus terus membayangkan betapa menyenangkannya bisa bersekolah. Walaupun begitu aku tetap bersyukur karena dari lembaran-lembaran itu aku juga bisa belajar banyak, bisa tahu banyak hal, dan setidaknya aku memiliki pengetahuan yang mungkin akan berguna bagiku kelak . Dan aku tetap berharap kembali menggali mimpi-mimpiku dan mewujudkannya serta tetap bisa belajar dari lembaran-lembaran koran ini, karena akan selalu aku ingat dari lembaran ini lah aku bisa hidup dan belajar banyak hal.
Sabtu, 17 Desember 2011

Tangan Yang Tepat


Suara mesin terus meraung-raung di telingaku, andai saja aku tidak biasa mendengar suara ini sudah pusing kepalaku pastinya. Hampir tiap hari aku terus mendengar suara mesin-mesin itu, suara dari berbagai macam mesin, ada mesin mobil, mesin truk raksasa pengangkut pasir, ada pula suara mesin traktor yang meraung dengan keras.

Ya aku sudah biasa dengan semua suara ini, hampir tiap hari aku diajaknya ke pertambangan milik ayahku ini. Pertambangan yang besar dan terbilang sukses di negeri ini. Dengan kerja kerasnya ayahku berhasil merubah tempat yang dulunya hanya tempat yang biasa saja kini menjadi tempat sumber utama mencari nafkah bagi warga di kotaku. Ayahku memang lebih suka memakai orang lokal untuk menjadi pegawai di pertambangannya, hasilnya pun sangat baik karena pertambangan milik ayahku ini menjadi perusahaan yang sangat sukses.

Tiap hari aku melihat bagaimana mereka bekerja, bongkahan batu diangkut dengan kendaraan berat, tumpukan pasir diangkut dengan truk-truk yang berukuran tidak normal. Lahan hijau tidak terlihat sejauh mata memandang, hanya tanah-tanah gersang yang tampak. Itulah yang selalu aku liat ketika ayahku mengajakku ke tempat ini.

Tidak terbayang memang ketika aku berada di kantor ayahku, melihat album foto-foto masa lalu. Melihat bagaimana daerah pertambangan ini dulunya, hanya ada kumpulan pohon-pohon tinggi, ada beberapa dataran yang tinggi pula membentuk suatu bukit-bukit kecil. Tidak terpikir olehku bagaimana ayahku bisa merubahnya seperti ini sekarang, bagaimana ribuan orang bekerja di pertambangan yang luas ini, bagaimana mereka bisa bekerja dengan tugasnya masing-masing, menjadikan perusahaan milik ayahku ini berkembang pesat dan sukses.

Ayahku benar-benar bisa membaca potensi yang dimiliki daerah ini, hanya karena pertambangannya, sekarang di sekitar daerah ini mulai banyak muncul usaha-usaha lainnya. Dari mereka yang mengambil sisa-sisa tambang dan membuka usaha sendiri, misalnya membuat barang-barang hiasan dari emas, tembaga dari sisa-sisa pertambangan. Potensi daerah ini memang dimanfaatkan benar oleh ayahku ini, di tangannya daerah yang memiliki potensi hebat ini ternyata berubah menjadi daerah sumber uang dan sumber penghidupan bagi warga di kotaku ini.

Pernah suatu waktu aku ikut pergi bersama ayahku ke daerah lain untuk melihat pertamabangan milik perusahaan teman ayahku. Aku melihat perbedaan yang sangat besar, melihat bagaimana daerah yang seharusnya bisa dimanfaatkan sebaik mungkin tetapi tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh teman ayahku itu. Melihat lokasi pertambangannya saja aku sudah malas, semua tidak tertata rapi, banyak limbah-limbah berserakan dimana-mana, daerah hijau pun tidak ada padahal sangat penting daerah hijau di lokasi sekitar pertambangan apalagi jika memang sudah tidak digunakan lagi seharusnya ada daerah hijau sebagai ganti dari pohon-pohon yang ditebang dulu.

Akibat dari semua itu daerah sekitar pun tidak berkembang, tidak ada warga sekitar yang ingin membuka usaha di sekitar tambang. Para pekerja pun terlihat tidak bersemangat seperti para pekerja perusahaan ayahku. Mereka hanya berfokus pada uang, bagaimana bisa bekerja untuk menghasilkan uang bagi diri mereka sendiri. Berbeda dengan para pekerja di pertambangan ayahku, suasana kekeluargaan memang sudah ditanamkan oleh ayahku pada para pekerjanya, bisa terbayang bagaimana menyenangkannya bekerja dalam suasana kekeluargaan.

"Nak..!!" Aku seketika terbangun dari perjalanan kenanganku. Foto album segera aku tutup dan segera mengalihkan perhatian pada ayahku yang baru saja masuk.

"ikut ayah yuk." Belum sempat bertanya dan baru saja menoleh ayahku sudah mengajak aku pergi.

Kami berdua pun pergi, entah akan dibawa kemana aku. Aku hanya diam saja, mengikuti langkah kaki ayahku, hanya melihat-lihat suasana sekitar pertambangan.

Tidak berapa lama aku sampai di toko-toko kecil di luar pertambangan. Toko-toko kecil milik warga sekitar yang mengambil sisa-sisa barang tambang seperti emas untuk dijadikan hiasan. Ayahku tidak mempermasalahkan jika mereka mengambil hasil tambang miliki perusahaan tambang milik ayahku ini, toh itu semua hanya sisa-sisa hasil tambang yang tidak tersaring dengan baik.

"Selamat pagi pak.." Senyum manis sang penjaga toko menyambut ketika ayahku masuk ke salah satu toko.

Ayahku hanya tersenyum dan melihat-lihat hiasan yang dijual. Ayahku memang menjadi orang yang dihormati dan disegani, tidak hanya di perusahaan tambangnya tetapi warga sekitar juga menghormatinya. Aku juga melihat-lihat hiasan yang ada, ada cincin, kalung, ada gelas berhias emas dan perak, ada pula pajangan emas. Cukup bagus bila dilihat, apalagi dibuat dari hasil sisa tambang yang kualitasnya tidak sebagus biasanya.

Lalu aku diajak ke toko lain dan kali ini ke toko yang paling laris dan paling banyak pembelinya. Dan ternyata kali ini aku dibuat kagum oleh barang-barang yang dijual, memang benar hasil yang dibuat lebih bagus dari toko yang pertama aku datangi tadi. Misalnya saja cincin dari emas yang dibuat, begitu halus dan tidak terlihat itu dari emas sisa tambang. Belum lagi beberapa gelas dari perak yang memiliki bentuk yang indah.

Aku penasaran mengapa barang-barang disini bisa terlihat bagus dan pembuat barang-barang itu hanya berkata, "Ya mau pakai apapun buatnya ya yang lebih penting adalah siapa yang membuatnya." Aku hanya diam dan terkagum-kagum. Memang benar dengan bahan baku sisa tambang yang sama dengan toko yang sebelumnya aku kunjungi ternyata hasil di toko ini lebih bagus dan itu karena pembuatnya juga berbeda, jadi memang tergantung pada pembuatnya ternyata.

Kemudian aku kembali memutar otakku, berpikir lagi, mengapa ayahku mengajakku kesini dan mengajakku tidak hanya ke satu toko saja, dan aku juga sekilas teringat saat melihat foto album serta ingat kenanganku saat berkunjung ke perusahaan lain. Sejenak berpikir dan ternyata aku sadar bahwa ayahku bermaksud untuk memberi tahu seperti apa ayahku ini, menegaskan bagaimana sosok seorang ayahku ini. Ini menjadi pembelajaran yang sungguh luar biasa bagiku tentunya.
Kamis, 15 Desember 2011

Kaki-Kaki Emas


Kaki-kaki itu terlihat tidak normal, terlihat rapuh untuk menopang berat badannya, ukuran kaki yang tidak pas jika dibandingkan dengan ukuran badannya. Dia lah Rakal, seorang remaja pria yang tinggal di lereng gunung. Dari kecil memang Rakal memiliki sedikit kelainan, ukuran kakinya tidak pada ukuran normal, dia pun saat kecil terlambat untuk bisa berjalan. Walaupun begitu Rakal tetap bisa berjalan secara normal, hanya saja dia cepat lelah jika harus berjalan lama, kakinya akan terasa pegal jika terus saja berjalan.

Tinggal di lereng gunung berarti mau tidak mau harus siap untuk berjalan melewati jalan yang tidak mudah. Hanya ada beberapa jalan datar di sekitar kampung, kaki-kaki haruslah kuat untuk bisa berjalan dari rumah ke rumah. Apalagi  jika harus mengambil kayu di gunung, perjalanan yang akan menguras banyak tenaga, jika tidak punya kaki yang kuat tidak akan bisa kaki-kaki itu menginjak tanah gunung yang berbatu itu.

Angin berhembus pelan, angin yang membawa udara dingin menusuk tulang. Malam itu, hanya ditemani cahaya bulan Rakal duduk termenung di luar rumahnya, melihat lirih kaki-kakinya itu, melihat dengan penuh tanya, mengapa ia tidak punya kaki yang normal saja.

"Sial!!" raut wajah kecewa dan marah menghiasi wajah Rakal. Rakal mengenang kembali masa lalunya, masa-masa yang sangat berat.  Masih ada dalam kenangan ketika ia harus dicaci teman sebayanya, harus menerima kenyataan bahwa ia tidak akan pernah bisa melihat dan menginjakkan kaki di gunung di kampungnya itu. Ia hanya bisa melihat betapa tingginya gunung itu, betapa tinggi dan gagah gunung itu tanpa bisa pergi ke sana.

Masih terekam dalam memori ketika ibunya menceritakan masa kecilnya. Dimulai ketika Rakal baru saja lahir ke dunia, ukuran kaki yang terlihat tidak normal ketika ia lahir. Saat itu lah warga kampung terus membicarakannya, ini bisa menjadi pertanda sial, ini sebuah kutukan. Kata-kata itu terus terdengar dari mulut ke mulut warga kampung Rakal.

Sudah menjadi tradisi sejak dulu bahwa seorang bayi laki-laki yang lahir harus sehat dan yang paling penting harus memiliki kaki yang normal. Setelah itu setelah cukup dewasa anak itu harus sudah bisa berjalan dengan sempurna, para warga kampung bersama-sama akan menyaksikan ketika sang bayi menginjakkan kaki pertamanya di tanah. Karena saat itu lah warga akan menilai apakah anak itu bisa diterima masyarakat atau tidak.

Semua itu terjadi karena mata pencaharian utama di kampung ini ada di lereng gunung ini. Mau tidak mau mereka semua harus kuat berjalan naik ke gunung, mau tidak mau kaki-kakinya harus mampu menopang tubuh dan membawa beban hasil dari mencari kayu atau hasil dari perkebunan.
Rakal sedikit meneteskan air mata, selalu saja itu terjadi ketika ia mengenang masa lalunya, air matanya selalu terbuang percuma jika dia harus menerima kenyataan itu. Dalam tubuh yang kuat dari luar, dalam hati Rakal selalu menangis ketika harus menerima kenyataan pahit ini. Wajah tampan, badan yang cukup besar tidak ada artinya ketika orang lain harus melihat ke bawah, harus melihat ke kaki-kakinya yang terlihat rapuh.

Pernah suatu waktu Rakal memaksakan dirinya untuk mencoba naik ke gunung, mencoba untuk membuktikan pada teman-temannya bahwa ia adalah laki-laki yang normal yang siap mengemban pekerjaan berat dan menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Tetapi yang terjadi ia gagal, ia harus istirahat selama sekitar seminggu di rumah, tidak berjalan, hanya berdiam diri dan tidur di kasur. Kaki-kakinya tidak bisa digerakkan karena terlalu lelah, dia pun harus dibawa warga secara bersama-sama ketika ditemukan di dekat perkebunan warga di lereng gunung karena tidak bisa berjalan.

Semakin menjadi miris ketika Rakal melihat teman-teman perempuan yang lain bisa berjalan dengan santainya walaupun dengan kondisi jalan yang naik. Sejak kecil memang siapa saja di kampung ini harus dibiasakan untuk berjalan jika ingin pergi, jarang terlihat kendaraan bermotor, jika ada itu pun hanya untuk digunakan mengangkut hasil perkebunan ke kota untuk dijual. Anak-anak sekolah pun jika berangkat sekolah harus berjalan, tidak ada dari mereka yang diantar kedua orang tua mereka menggunakan kendaraan bermotor. Dari kecil memang kaki-kaki mereka sudah ditempa dengan keras.

Dari kecil anak-anak di kampung sudah disiapkan untuk menggantikan pekerjaan orang tua mereka bekerja di kebun, bekerja di lereng gunung mencari kayu atau mencari tumbuhan-tumbuhan untuk dijual. Dari kecil sampai tua mereka akan terus berjalan dengan medan yang sulit di gunung, bahkan ada warga kampung ini yang sudah menginjak usia 80 tahun masih kuat untuk naik turun gunung sambil membawa kayu. Tidak tampak muka lelah di wajah mereka, tidak terlihat mereka kelelahan membawa beban di tubuhnya karena memang mereka sudah dibiasakan sejak kecil.

"Nak..Sudah lah, jangan bersedih terus nak. Ibu tidak tega jika harus melihat kamu sedih hampir setiap hari." Rakal terbangun dari kenangan masa lalunya. Tangan ibunga merangkul tubuhnya, Rakal mencoba tegar tapi tetap tidak bisa. Ini bukan pertama kalinya ibunya menasehati seperti itu, hampir tiap hari sang ibu merangkul dan memberinya nasehat untuk tetap tegar.

Dalam hati Rakal semakin menangis, dia semakin merasa tidak berguna ketika ibunya memberi nasehat, ketika ibunya mencoba menghibur. Rakal merasa memikul beban yang berat karena dia mau tidak mau harus menjadi tulang punggung keluarganya, dia anak yang paling tua sedangkan adik-adiknya masih kecil. Dia tidak mau ayah dan ibunya yang terus bekerja. Tapi lagi-lagi kaki-kakinya tidak mampu untuk membawanya ke gunung untuk bekerja dan karena itu pula dia dikucilkan warga kampung karena seharusnya seorang laki-laki harus mampu bekerja walaupun masih remaja, bekerja untuk membantu keluarga.

Akhirnya Rakal pun menyerah dengan keadaan semua ini. Menyerah untuk bekerja di kampungnya, tapi tidak menyerah untuk terus membantu keluarga. Rakal pun memutuskan akan pergi meninggalkan kampungnya untuk bekerja di kota, suatu keputusan yang sulit karena bagaimanapun juga sudah menjadi tradisi desa jika lahir di kampung ini maka harus bekerja dan mengabdi pada kampung ini juga.

Rakal sudah bertekad kuat, dia tidak peduli cibiran dari warga sekampung. Dia tidak tahan lagi, jika berada di sana sama saja dia tidak bisa berbuat apa-apa, dan dia terus dicaci oleh teman sebayanya. Sudah bulat keputusan Rakal untuk bekerja di luar kampung, bekerja dengan tidak hanya mengandalkan kaki. Sebutan kaki emas tidak akan ada dalam diri Rakal, karena dia tidak bekerja di lereng gunung yang mengandalkan kekuatan kaki untuk menghidupi. Kaki menjadi senjata utama untuk bertahan hidup, dan Rakal sekarang harus pergi meninggalkan orang-orang dengan kaki-kaki emas di kampungnya.
Minggu, 11 Desember 2011

Pot, Kalung, dan Kain Hias



Seperti biasa, hari minggu adalah hari yang baik untuk berkumpul bersama keluarga.Hari dimana segala kepenatan bisa dilepaskan, sejenak tidak membebani pikiran dengan rutinitas. Begitu juga yang terjadi pada sebuah keluarga, hari minggu adalah hari yang selalu dinanti, untuk kembali merekatkan keharmonisan yang pada hari biasa sedikit berkurang keharmonisannya.

"Ayah, mau kemana ini?" Dua suara menjadi satu. Ya, kakak beradik dengan kompaknya sama-sama bertanya pada ayahnya akan kemana hari minggu ini.

"Ikut saja, asik koq." Sang ayah tersenyum lembut.

Ayah, ibu, dan kakak beradik bersama-sama pergi meninggalkan rumah mereka. Pergi untuk mencari hiburan, mencari perekat untuk keharmonisan keluarganya kembali.
"
Kerajinan Pelangi" Sang adik membaca tulisan di papan sesampainya di tempat tujuan.

Sang kakak juga ikut membaca dan segera bertanya," Mau ngapain kita yah di sini?"

Adik hanya diam saja mendengarkan, lebih senang melihat keadaan sekitar dan melihat-lihat tempat apa ini. Mencari tahu sendiri tempat apa ini, memutar otaknya untuk mencoba mengenali tempat yang baru pertama kali didatanginya ini.

" Ini tempat yang asik, nanti kalian selain senang juga tambah penngetahuan juga." Sang ayah menjawab pertanyaan.

"Masa iya bisa senang-senang yah? Lihat aja tu banyak barang-barang jelek di luar." Anak paling tua ini mengerutkan dahi, tidak terlalu suka ke tempat ini. Adiknya hanya tersenyum.

"Sudah tenang, asik koq pasti." suara perempuan yang lembut mencoba menenangkan anaknya yang terlihat tidak suka.

Mereka berempat pun segera melangkahkan kaki masuk ke dalam, melewati tumpukan barang-barang hasil kerajinan tangan. Memang tidak terlalu tertata rapi, tetapi barang-barang itu memperlihatkan keragaman dan menjadi hiasan tersendiri di depan bangunan itu. Memperlihatkan banyaknya orang yang berkunjung ke tempat ini dan belajar untuk membuat kerajinan tangan.

"Baiklah, sekarang silahkan adik-adik membuatnya, tadi kakak sudah mencontohkannya dan sekarang silahkan dicoba." Kata seorang mentor yang bertugas menuntun dan memberi contoh cara membuat kerajinan dari tanah liat.

Ya, bau tanah liat ada dimana-mana, beberapa bagian tanah ada yang jatuh di lantai, butuh kehati-hatian melangkah di lantai tempat ini. Ini adalah tujuan pertama kakak beradik untuk belajar membuat kerajinan, sang ayah dan ibu menunggui dari jauh, duduk di tempat yang sudah disediakan dan mengamati kedua anak lelakinya membuat kerajinan dari tanah liat.

"Begini adik, jangan terlalu terburu-buru, pelan-pelan aja.." Mentor mencoba membenarkan cara dari sang kakak dalam membuat pot dari tanah liat ini. Karena terlalu cepat menggerakkan tangan maka hasilnya menjadi tidak bagus, bentuknya menjadi tidak beraturan.

Sedangkan sang adik dengan sabar berusaha membuat pot, tidak jarang ada beberapa bagian tanah liat yang terlepas ketika membuatnya. Tapi bagi dia itu menjadi hal yang menyenangkan karena bisa belajar hal baru.

Walaupun sang kakak tidak terlalu menyukai membuat pot dari tanah liat ini tetapi akhirnya jadi juga pot yang tadi ia buat. Begitu pula sang adik, pot yang dia buat dengan susah payah juga sudah jadi.

Mentor mengarahkan kedua anak itu untuk beranjak menuju tempat lain. Tidak berapa lama mereka sampai ke tempat kerajinan untuk membuat berbagai macam aksesoris.

"Ini ada berbagai macam batu ya adik-adik, ada batu yang berwarna, ada batu berbagai macam bentuk, silahkan buat kalung atau gelang pakai ini." Mentor mulai mengawasi mereka berdua, membantu memberi tahu cara bagaimana memasang batu-batu itu.

Usia kedua anak itu terpaut tidak jauh, sang kakak berusia 7 tahun dan sang adik 6 tahun.  Mereka berdua pun segera memulai untuk membuat kerajinan tangan ini. Kali ini sang kakak terlihat antusias, dengan cepat dia memasang batu-batu itu. Sang adik juga terlihat mulai membuatnya.

Kedua orang tua anak itu juga masih terlihat melihat dari kejauhan, mengamati aktivitas kedua anaknya itu sambil sesekali mereka saling mengobrol.

"Ini yang terakhir ya adik-adik..." Sang mentor menunjukkan barang yang ia bawa, ada pensil, kuas, dan beragam warna cat. 

Tidak lama setelah mereka berdua selesai dengan membuat aksesoris, mereka melanjutkan untuk menghias kain dengan cat.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya selesai juga kegiatan membuat kerajinan ini. Sang ayah dan sang ibu tidak sabar melihat hasil-hasil yang dibuat kedua anaknya itu.

"Ini bapak..ibu..hasil yang dibuat mereka tadi.." Sang mentor menunjukkan barang-barang  hasil kerajinannya, ada pot dari tanah liat, kerajinan aksesoris, dan kain hias.Sang ayah dan sang ibu mengamati hasil kerajinan itu dan kedua anak itu sedang duduk istirahat di dekat mereka.

Terlihat pot dari sang kakak bentuknya tidak sempurna, berbeda dengan punya sang adik. Sang kakak membuatnya dengan terburu-buru tadi sehingga hasilnya tidak sempurna. Kemudian kalung yang dibuat si kakak terlihat bagus dan beragam, beragam bentuk dan warna batu terlihat padu menyatu. Kalung milik si adik terlihat monoton dan biasa saja ternyata tetapi hasilnya lebih rapi, lagi-lagi si adik membuatnya dengan sabar jadi lebih rapi.

Dan yang terakhir adalah kain hias yang dibuat, terlihat lagi sang kakak lebih kreatif, kain yang dihasilkan lebih bagus dengan gambar-gambar hias yang indah dan enak dipandang. Punya si adik cukup bagus walaupun tidak sebagus punya sang kakak, terlihat bagus karena cat warna terlukis rapi.

"Terima kasih ya mas atas bantuannya.." Sang ayah berpamitan dengan mentor setelah melihat hasil karya kedua anaknya.

"ohhh ya, ini barangnya saya bawa ya.." Sang ayah ingin membawa barang-barang hasil karya anaknya itu.

"Ohh ya, silahkan saja dibawa, dari pada ditinggal disini nanti semakin banyak tumpukan barang-barang itu.."Sang mentor tertawa kecil.

Sang ayah akan menyimpan hasil kerajinan yang dibuat kedua anaknya itu. Ada yang ingin ia lakukan memang dengan kedua barang itu. Barang-barang itu akan menjadikan ia bisa mengetahui bagaimana mendidik kedua anak mereka, bagaimana mengarahkan kedua anak mereka, bagaimana memanfaatkan kelebihan kedua anak mereka, dan bagaimana  memperbaiki kelemahan kedua anaknya itu. Selain itu jika kedua anaknya juga sudah cukup besar, ia akan memperlihatkan barang-barang hasil kerajinan itu agar mereka bisa mengenal diri mereka sendiri dan bisa berkembang dengan baik ke depannya.

Minggu, 04 Desember 2011

Pemimpin Yang Menggembala


Senang rasanya ketika sekarang melihat ayahku yang selalu tersenyum, langkah kakinya terlihat ringan ketika berjalan, dan selalu terpancar aura kebahagiaan dari dirinya. Dengan penuh semangat selalu menuntun, memerintah, memberi petunjuk, dan mengarahkan demi menyambung kehidupan.

Ya, dia adalah seorang penggembala yang terus merantau ke berbagai penjuru negeri. Tidak hanya satu macam hewan gembala saja yang ia pimpin, ada domba, kuda, babi, maupun sapi. Berbagai macam hewan dengan sifat berbeda berhasil ayahku satukan menjadi gerombolan hewan yang penurut.

Sudah 17 tahun aku menemani ayahku, menemani dimulai ketika aku masih digendong sampai ketika aku sudah bisa menggunakan kakiku untuk berjalan dan berlari. Entah sudah berapa hewan gembala yang mati karena usia, hewan-hewan ini adalah generasi yang baru yang digembalakan ayahku. Waktu 17 tahun tidaklah sedikit, banyak dari mereka yang sudah beranak, sudah dijual, maupun sudah mati karena usia.

Hanya aku dan ayahku, kami berdua lah yang terus menuntun hewan-hewan ini. Tidak ada sosok perempuan yang ikut membantu, tidak ada kelembutan yang ikut menggembalakan semua hewan ini. Ibuku memberikan nyawanya padaku ketika aku dilahirkan, nafasnya dihembuskan padaku ketika aku lahir walaupun akhirnya ibuku harus tidak bernafas lagi. Sejak itu aku hanya bersama ayahku tanpa ada bayangan wajah ibuku, tanpa ada kenangan manis bersama ibuku.

"Mau tidak mau aku harus menggantikan ayahku tidak lama lagi, aku sudah dewasa, aku sudah belajar banyak, aku harus menggantikannya." Dalam hati aku merenung, berbicara dalam hati, menatap ayahku yang sedang mengarahkan hewan gembalanya mencari makan.

Angin sepoi-sepoi, matahari yang bersembunyi dibalik awan, suasana ini membawaku duduk termenung di atas batu besar, membawaku jauh kembali ke masa lalu. Masa dimana aku melihat perjuangan ayahku untuk menaklukkan para hewan gembala ini.

Melihat bagaimana kuda-kuda yang terus meronta-ronta ketika diperintah, kuda yang berlari jauh ketika mendengar suara langkah kaki mendekat, dan yang tidak segan menendang ketika merasa terganggu. Perlahan ayahku mulai bisa mengendalikannya, memahami sifat kuda yang masih liar itu, menerima segala sifatnya dan akhirnya bisa menaklukkan kuda itu.

Beda lagi saat ayahku mencoba menggembalakan sapi. Badannya yang besar dan tegap jelas
memperlihatkan seberapa cepat mereka berjalan. Kelambatan dan kemalasan para sapi itu sungguh menyulitkan, tidak akan mampu satu tenaga manusia mendorong kawanan sapi itu. Tetapi dengan kesabaran dan dengan membiasakan para sapi itu untuk menurut tentu saja ayahku kembali bisa menjadi panutan yang baik untuk para kawanan sapi.

Tidak bisa diatur, liar, dan kotor. Itulah gambaran jelas tentang kawanan babi yang harus digembalakan ayahku. Tidak biasa memang ketika harus menggembalakan babi, sifat tidak mau diatur menjadi hal tersulit yang diatasi. tidak jarang para babi itu berlari bebas ketika mereka diberi kebebasan. Ayahku tidak menyerah begitu saja, dia coba beradaptasi dengan sifat para babi itu. Dia mengurung para babi itu dikandang, membiasakan para babi untuk mendengarkan senjata utama di tangannya yaitu lonceng yang diikat di tongkat.Anjing gembala pun sempat turut membantu ayah untuk menggembalakan kawanan babi ini, memberi perintah secara tegas dan keras memang diperlukan untuk mengatasi para babi yang tidak bisa diatur ini.

Mudah memang ketika dahulu ayahku menggembalakan kawanan domba. Sifat penurut, kalem, dan tenang menjadikan tidak ada masalah berarti ketika harus menggembalakan para kawanan domba.

"Nak ayo sini.." Suara ayah sontak membangkitkanku dari khayalan masa lalu.

Aku segera menuju ke arah ayah, ikut membantu ayah menggembalakan kawanan hewan gembala ini. Ada beberapa anjing gembala yang ada di dekat ayah, itu pun hanya sebagai pelengkap saja agar terlihat sebagai penggembala. Ayah tidak perlu anjing gembala itu, semua kawanan hewan itu sudah menurut dan patuh pada ayah. Berbagai cara sudah dia lakukan untuk mengendalikan berbagai macam sifat dari kawanan hewan-hewan ini. Kasih sayang, pengertian, ketegasan, dan menjadi bijak adalah senjata utama ayahku untuk menggembalakan semua ini.

"Ahh..sial!!" Aku mengeluh dalam hati ketika kawanan hewan gembala ini tidak mau menurut padaku. Cara yang kulakukan padahal sama dengan ayahku, aku sudah menggerakkan tongkat milik ayahku, menjadikan lonceng ikut berbunyi seirama dengan goyangan tongkat. Tetapi mereka tidak mau menurut.

"Anakku.." Ayah berjalan mendekatiku.

"Kamu harus sabar nak, tidak mudah memang ketika pertama kali kamu harus mengatur kawanan hewan-hewan ini. Kamu harus tau sifat-sifat mereka, kamu harus mencoba dekat dengan mereka dengan penuh kasih sayang, dan kamu harus selalu bijak ketika membawa hewan-hewan gembala ini nak..."Ayahku memberikan nasehat.

Memang benar tidak mudah ketika pertama kali aku harus menggembalakan kawanan hewan yang bermacam-macam ini. Memang benar apa yang dikatakan ayahku, nasehatnya harus aku dengarkan baik-baik dan harus benar-benar aku terapkan sebaik mungkin.Inilah saatnya aku menggantikan ayahku menjadi seorang pemimpin para hewan-hewan ini, tidak mudah memang. Aku harus mengenal kawanan hewan ini dengan baik, mengerti sifatnya, tau kapan harus bersikap tegas, dan selalu bijak ketika menuntun mereka.
Sabtu, 03 Desember 2011

Andai Aku Tuhan


Pemandangan biasa yang selalu aku lewati, dedaunan hijau menari-nari mengikuti iringan angin, rumput-rumput pendek bergoyang-goyang seirama, dan warna hijau mendominasi sejauh mata memandang. Tak ada pepohonan yang sakit, semua tumbuh dengan subur, daun-daun hijau lebat senantiasa memayungi pepohonan itu.

Tidak terbayangkan betapa indahnya melihat semua itu ketika aku melewati jalan setapak ini, tertata rapi dengan batu-batu kali yang ditanam di tanah. Perlahan berjalan menapaki jalan bebatuan ini,memandang hijaunya rumput, berhati-hati agar tidak menginjaknya. Aku menikmatinya, jalan menuju negeriku.

Semakin berjalan, semakin banyak yang bisa aku lihat. Pemandangan berganti menjadi suatu tontonan yang tidak membosankan untuk menemani perjalananku ini. Dari pepohonan dan rerumputan hijau, kali ini bukit-bukit berjajar tidak beraturan. Terlihat dari jauh bukit batu berdiri tegap menantang langit, diselingi sedikit rumput liar dan pohon kecil di badan bukit. Memberi warna tersendiri untuk bukit-bukit itu, tidak hanya warna batu saja yang terlihat, diselingi warna hijau nampak bukit semakin terlihat sedap untuk dipandang.
"
Ahh..!!Aku tidak menyukai ini!!" Perkataan yang selalu muncul dalam hatiku ketika aku mulai masuk ke perbatasan negeriku sendiri.

Di balik bukit-bukit batu yang baru saja aku lewati selalu saja bersembunyi hal-hal buruk di baliknya. Bukan hanya pemandangan yang tidak enak dipandang, rumah-rumah yang tidak tertata rapi, kelakuan orang-orang di dalamnya, sungguh membuatku tidak ingin kembali ke negeriku sendiri. Tetapi apa daya, aku lahir di negeri ini, aku membanting tulang untuk negeri ini. Setidaknya aku tidak terlalu malu dengan semua ini, negeriku ini selalu bersembunyi di balik bukit-bukit batu yang mengelilinginya, memberiku cukup ketenangan tidak banyak orang lain melihat.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku dan penduduk lainnya hanya bisa diam saja, menutup mulut rapat-rapat, mengaliri telinga dengan keringat yang terus mengucur. Mencari kesibukan sendiri, terus bekerja untuk tidak mendengarkan apa yang diperintahkan pada kami.

Seenaknya sendiri para penguasa memerintah, mengambil hak kami seperti merampas permen dari anak kecil. Begitu mudahnya hak kami dirampas, hak untuk hidup, hak untuk keadilan. Kami hanya lah rakyat yang tidak punya apa-apa, terinjak-injak oleh orang yang lebih berada, diinjak layaknya semut yang sedang berusaha mencari kehidupannya.

Uang menjadi senjata utama di negeri ini, menentukan hidup mati seseorang. Seandainya saja aku dan penduduk lainnya punya uang, tidak akan begini nasibku. Tidak akan mereka bisa mengambil nyawa anakku!! Nyawa yang terbuang sia-sia hanya karena anakku dituduh mencuri beras. Tidak ada keadilan, sang hakim yang katanya bijak, nyatanya dengan mudahnya mengetukkan palu, palu yang mencabut nyawa anakku.

Dibalik semua itu lagi-lagi uang lah yang berperan penting, orang-orang berada tidak ingin negeri yang mereka akui sebagai negeri mereka ini penuh sesak oleh orang-orang tak berguna seperti kami. Tidak ada yang bisa keluar dari negeri ini, kami dipenjara di balik bukit-bukit batu. Hanya ketika kami bekerja paksa untuk mengambil kekayaan alam kami boleh keluar dari negeri ini, itu pun hanya sebentar. Mengangkut hasil alam yang sudah di dapat, membawanya dengan tulang-tulang kurus kami.

Udara yang berbeda ketika kami keluar, udara kebebasan yang begitu segar, udara yang sudah lama tidak kami hirup. Kebebasan, keadilan, hidup layak.Itulah yang selalu aku teriak-teriakkan, teriakan keras dalam hati, tidak mampu jika mulut kecilku ini harus berteriak keadilan, harus menuntut kebebasan. Dengan mudah sabetan pedang akan mendarat di mulutku jika kata-kata itu keluar dan terdengar banyak orang.

Seandainya saja aku Tuhan, aku akan melakukan banyak hal untuk negeri ini. Aku akan membutakan para hakim, akan aku ambil matanya, bukannya hukum itu harusnya buta??!! Tidak akan ada hakim yang bisa melihat, tidak akan tahu berapa uang yang ia dapat ketika disuap. Tidak akan bisa dia melihat mana orang yang miskin, mana orang yang kaya. Dia hanya bisa mendengar, mendengar dengan telinga mereka, mendengar dengan hati mereka, mendengar mana yang merupakan kebenaran, mana yang merupakan kebohongan.

Para pemimpin negeri ini akan aku ambil mulutnya!!!Tidak perlu banyak bicara, tidak perlu banyak
memerintah sana dan sini. Tangan dan kaki lah yang banyak bekerja, biarkan mereka bicara dengan bahasa isyarat, bicara seperlunya, lebih banyak memberi contoh dari pada memerintah,lebih banyak bekerja dari pada berbicara. Akan aku buat lubang yang lebih besar lagi di telinga mereka, semakin jelas mendengar rakyatnya, dan semakin peka pada rakyatnya.

Tapi sayang aku bukanlah Tuhan, bukan seorang yang bisa melakukan segalanya.
Jumat, 25 November 2011

Pembicaraan Hangat Tentang Impian


"Hakim hebat siap datang, tunggu beberapa tahun lagi.." Tawa kecil menyertai kata-kata dari Lucas, seorang anak berusia 15 tahun dengan impian menjadi seorang hakim.

"Ahhh kakak ini.emang bisa? adek lihat kakak kerjaannya cuma main aja koq." Sang adik Robert menyangkal ucapan kakaknya.

Angin bertiup sepoi-sepoi, udara cukup dingin di teras rumah sederhana, matahari perlahan mulai memperlihatkan dirinya setelah semalam bersembunyi dan tidak menampakkan dirinya. Pagi itu minggu hari Lucas dan Robert sedang menikmati hari libur mereka. Bagi Lucas sang kakak hari ini sama seperti hari biasanya tetapi bagi Robert ini merupakan hari yang dimanfaatkan betul untuk istirahat karena hari-hari biasanya dia penuh dengan kesibukan.

Hanya berbeda usia 1 tahun tapi ada perbedaan besar antara kedua kakak adik yaitu sang adik lebih rajin dari sang kakak. Walaupun begitu ada juga persamaan di antara mereka, mereka berdua sama-sama punya mimpi dan impian besar untuk masa depan mereka. Jika Lucas ingin menjadi seorang hakim, Robert ingin sekali menjadi seorang ilmuwan.

"Nih, ayah bawakan minuman." Suara berat dan terdengar berwibawa.

Robert dan Lucas segera menoleh ketika mendengar suara ayahnya dan tersenyum ketika ada dua gelas teh hangat di nampan kecil yang dibawa ayahnya.

"Ayah.ayah, aku belikan buku tentang roket donk yah.." Robert membuka pembicaraan hangat di minggu itu.

Sang ayah hanya menganggukkan kepalanya, sudah biasa sang ayah membelikan buku pengetahuan
untuk anaknya Robert. Dengan penghasilan sebagai sastrawan serta guru besar di Universitas ternama tentu lebih dari cukup untuk membelikan anaknya buku.

"Kamu mau dibelikan juga Lucas? Buku tentang hukum.Mau?" Tidak lupa ayah menawarkan juga pada sang kakak.

"Enggakkk ah yah.."Lucas sambil menggelengkan kepalanya.

"Yauda.." Sudah biasa sang ayah mendengar jawaban itu ketika menawarkan Lucas untuk dibelikan buku.

Tiba-tiba Robert dengan cepat langsung berbicara menyela, " Kakak, kalau kakak nggak mau baca buku gimana mau jadi hakim hebat kak? Tiap hari cuma ngomong mau jadi hakim hebat tapi nggak berbuat apa-apa." Sang adek berbicara dengan sedikit jengkel.

Sang kakak menjawab dengan tenang dan santai, "Tenang aja dek, kan di sekolah juga ada sedikit pelajaran tentang hukum jadi ya kan udah dari sekarang kakak udah mulai belajar hukum, itu sudah bagus lho."

Sang adek kembali berbicara," Tapi kan kak, kalau memang mau jadi hakim yang hebat dari sekarang juga sudah mulai usaha yang keras kak, usaha apa aja kan bisa yang penting bisa jadi modal buat nanti ke depan kak." sang adek  justru terlihat lebih bijak, ini merupakan hasil dari kebiasaan Robert yang suka membaca buku, berbagai macam buku, tidak hanya buku-buku pengetahuan.

"Ahhh,,adek itu..cerewet banget sih..." sang kakak mulai marah.

"Sudah..sudah..jangan bertengkar  gitu." Sang ayah langsung menyela dan menengahi perdebatan mereka
berdua.

Dengan bijak sang ayah coba memberi nasehat, "Lucas..benar juga apa yang dikatakan adikmu itu, kalau punya impian apalagi itu impian yang besar memang harus berusaha keras. Dimulai dari ketika kamu mulai bermimpi dan bercita-cita, dari situlah kamu harus memulai juga untuk berusaha keras." Sang ayah berhenti sejenak, membelai rambut kedua anaknya.

Lucas dan Robert mendengarkan dengan baik nasehat ayahnya itu, "Jadi jangan cuma bicara aja kamu mau jadi ini, kamu mau jadi itu, cuma bicara hal-hal atau impian besar tapi tidak ada usahanya. Lakukan usaha apa aja yang bisa menunjang dan membantu kamu mewujudkan impian kamu."
"Iya yah.." Lucas dan Robert menjawab bersama-sama.

Sambil merangkul kedua anaknya dengan pemandangan matahari terbit di depan rumahnya itu sang ayah terus memberi nasehat. Seperti matahari yang sedang terbit, semangat Lucas dan Robert kembali muncul, semangat Lucas untuk mewujudkan impiannya mulai terbit seperti matahari yang perlahan terbit.

"Ingat ya nak. Impian yang besar itu tidak ada gunanya kalau tidak ada usaha dibaliknya. Impian besar itu bukan hanya sekedar impian saja, bukan hanya sekedar kata-kata saja. Jika memang sudah bermimpi dan punya impian besar maka harus siap untuk mewujudkannya dengan usaha keras. Ketika kamu sudah mulai memikirkan impian besar kamu ke depan, maka saat itu lah kamu harus mulai untuk berusaha keras untuk mewujudkannya."
Kamis, 24 November 2011

Tentang Laut dan Kehidupan


Ombak laut bergerak dengan kecepatan penuh menuju pantai, lajunya tidak bisa dihentikan, tetapi sesaat kemudian laju ombak terhenti secara mendadak ketika menghantam sekumpulan batu besar yang tidak tertata rapi. Batu-batu karang besar di pantai yang selalu menjadi penghenti gerakan ombak laut yang seenaknya sendiri, tapi itu lah yang selalu terjadi. Ombak akan selalu menghantam batu-batu itu, selalu menghasilkan suara khas hasil dari tubrukan ombak dan batu, suara yang selalu mengingatkan bahwa itu suara di pantai ketika siapa saja mendengarnya.

Angin bertiup kencang, tidak peduli ada apa di pantai, semua yang tidak berbobot pasti akan terhempas oleh tiupan angin pantai. Tapi ternyata itu tidak berlaku bagi manusia, dua orang manusia sedang asyik berdiri menatap ke arah laut, berdiri dengan tegak tanpa terganggu oleh tiupan angin pantai.

"Anakku, sudah saatnya kamu ayah kenalkan dengan apa yang ada di laut."

Dua manusia itu adalah ayah dan anak yang hidup dari laut, hidup dengan mengandalkan kekayaan yang dimiliki laut. Seorang laki-laki berbadan tegap dan sedikit atletis, dan tentunya dengan kulit berwarna hitam, dia lah sang ayah yang merupakan seorang nelayan berpengalaman. Dengan tinggi yang lebih pendek dari sang ayah, seorang anak berusia 10  tahun yang mempunyai tanggung jawab besar untuk melanjutkan pekerjaan ayahnya.

"Kamu nanti ayah ajak ke tengah laut, kita lihat apa saja yang ada di laut dan di situlah kamu nanti akan belajar dan hidup."

Senyuman bahagia terpancar dari wajah sang anak, dengan penuh semangat dia berlari ke arah perahu yang tersandar di pantai, "Ayo ayahh..buruan..udah tidak sabar yah aku.."

Ayah segera menyusul menuju ke kapal, mereka berdua lalu mendorong perahu mereka yang sengaja dibuat terdampar di pantai karena tidak ada dermaga di pantai itu.

Dengan tenaga dari semangat sang anak kapal itu berhasil menembus ombak laut yang cukup besar, membawa kapal perlahan bergerak menuju tengah laut. Perahu kayu yang sederhana, dengan mesin yang terlihat berkarat di beberapa bagian, dan terlihat genangan di dalam perahu kayu itu segera melaju perlahan menuju ke laut lepas.

"Nanti kamu kalau sudah mencari hasil laut sendiri yang terpenting itu kamu harus tau banyak tentang ombak,  kamu tidak bisa melawan ombak, kamu harus bisa berdampingan dengan ombak. Di balik keindahan ombak laut itu dibaliknya ada bahaya besar yang mengancam, sedikit saja tidak berhati-hati ombak siap menelan kamu hidup-hidup." Sang ayah sambil memegang kemudi sederhana di belakang perahu untuk membuat laju perahu stabil.

"Ohhhh, iya ayah.." Sang anak menganggukkan kepala sambil melihat ke arah laut lepas di depannya.

Tidak butuh waktu yang lama, mereka berdua sudah sampai di tempat yang ingin dituju, ombak tidak terlalu besar dan angin bertiup tidak terlalu kencang. Sang ayah segera menurunkan jangkar sederhana yang sudah berkarat ke dalam laut, memastikan perahu kayunya tidak terombang-ambing di laut.

"Anakku, ikutin ayah ya." Ayah menceburkan diri ke laut dan segera menyelam. sang anak segera mengikuti sang ayah.

Hanya beberapa menit di dalam karena keterbatasan nafas mereka berdua keluar dari dalam laut menuju ke pinggiran perahu kayu untuk berpegangan. " Ini anakku, ini salah satu yang harus kita cari kalau melaut, ini sangat bermanfaat dan harganya juga tidak terlalu murah." Ayah memperlihatkan dan memberikan hewan laut itu pada anaknya.

"Aduh ayahh. tapi ini bentuknya jelek yah, masa ini laku yah??namanya apa ini?" Terheran-heran dengan bentuk hewan laut ini.

"Anakkuuu, ini namanya teripang , walaupun bentuknya jelek begini tapi manfaatnya luar biasa, di balik bentuknya yang jelek di dalamnya ada manfaat yang bagus anakku, ini bisa buat salah satunya mengobati penyakit tekanan darah tinggi, jadi harganya juga lumayan."

"Ohhhh.." Sang anak mengiyakan penjelasan ayahnya.

Teripang yang di dapat tidak mudah itu diletakkan di perahu dan sang ayah tidak ikut menyelam kembali. Kali ini sang ayah membiarkan anaknya untuk menyelam sendiri karena ia percaya dan yakin anaknya sudah mampu.

Tidak berapa lama keluar sang anak, "Aduhh yahh..gatal-gatal ni yah.." Tangan sang anak terus menggaruk-garuk leher dan beberapa bagian di tangannya yang gatal.

"Kamu kenapa?kena ubur-ubur ya?" Sang ayah menarik anaknya ke perahu.

"Iya yah, tadi aku liat bentuknya bagus yah, selain itu terlihat menarik yah hewan itu, tapi kenapa jadi gatal-gatal gini ya yah?" Sang anak terus menggaruk-garuk.

"Anakku, ini buat pelajaran buat kamu, memang ubur-ubur itu bentuknya bagus tapi kamu harus tahu kalau ubur-ubur itu beracun, salah satunya ya bisa buat gatal-gatal itu. Jadi jangan sembarangan juga, di laut banyak hewan atau tumbuhan yang indah tapi dibalik itu semua kamu harus hati-hati bisa jadi mereka semua beracun."

"Ohhh gitu ya, aku kurang tau kalau ubur-ubur itu ternyata beracun, terus ini gimana?"

"Yauda kita pulang aja, kita obatin dulu aja, lain kali hati-hati ya, ini buat pelajaran juga buat kamu."

Ayah segera menyalakan mesin perahunya dan bergegas menuju kembali ke pantai. Di perjalanan pulang sang ayah memberikan nasehat-nasehat pada anaknya tentang laut.

"Jadi begini nak, apa yang ada di laut kamu harus tau semua, ada yang bentuknya bagus ada pula yang bentuknya jelek. Hewan maupun tumbuhan yang punya kelebihan dari bentuknya tentunya ada yang memiliki kekurangan juga, sebaliknya juga nak, hewan atau tumbuhan dengan kekurangan dari segi bentuk pasti ada kelebihannya juga.  Contoh saja tadi teripang dan ubur-ubur, jadi kamu harus tau dibalik kelebihan itu selalu ada kekurangan dan dibalik kekurangan itu selalu ada kelebihan juga." Sang ayah berhenti sejenak.

Kembali nasehat sang ayah dilanjutkan, kali ini menyambungkannya  dengan kehidupan, "Jadi jangan sedih kalau kamu punya kekurangan, dibalik itu kan kamu punya kelebihan jadi harus dicari kelebihan itu. Lalu jangan juga terlalu sombong dengan kelebihan yang kamu punya, karena kamu juga harus ingat ada kekurangan dibalik semua itu. Tinggal bagaimana kamu memperlakukan kelebihan dan kekuranganmu itu, ingat ya nak.." sang anak diam dan terlihat tersenyum dengan nasehat dari ayahnya itu, perahu pun terus melaju ke arah pantai.

Rabu, 23 November 2011

Hujan dan Cerah


Awan hitam perlahan merangkak di langit, petir dan kilatan cahaya senantiasa menemani ke manapun awan hitam ini bergerak. Awan hitam di langit tiba-tiba mendadak diam, terlihat titik-titik air yang terjun bebas dari langit, titik-titik air yang semakin banyak dan akhirnya menyatu menjadi satu kesatuan yaitu hujan.

" Ayah! Hujannn..." Kepala mungil keluar dari jendela mobil dan melihat ke arah langit..

"Kepalanya jangan keluar nak, bahaya, ditutup jendelanya, biar tidak masuk airnya."

"Koq bisa hujan ya yah?" Sang anak menoleh ke arah ayahnya begitu selesai menutup jendela.

"Ya bisa donk." Ayah tertawa kecil.

"Ahhhhh..ayahhh..kenapa?kenapa?kenapa??" Rasa penasaran seorang anak kecil berusia setengah dasawarsa begitu menggebu-gebu.

Kali anak sang ayah hanya diam saja dan memperhatikan jalan. "Kenapa?kenapa yahh??" Tangan kecil sang anak menarik-narik kaos ayahnya.

"Ya bisa..Udah lah, kamu dari tadi berangkat sampai sekarang tu tanya-tanya terus, nggak capek kamu?"
Anak itu hanya diam, tetapi beberapa detik kemudian, "Itu kenapa yang situ langitnya nggak hitam??" Anak itu menunjuk ke arah langit.

Belum sempat dijawab suara petir tiba-tiba menggelegar di langit seakan membentak sang anak agar diam. Anak itu langsung menutup kedua telinganya dengan cepat.

"Yauda ayah jawab deh.." Mata sang ayah melihat ke arah anaknya dan tangannya membelai rambut panjang anaknya, rambut yang memperlihatkan kecantikan anaknya itu.

Tidak ada reaksi apa-apa dari anak itu, dia hanya diam saja dan melihat ke arah luar, melihat ke arah lampu lalu lintas yang berwarna merah terang. " Jadi mau dijawab nggak?" Sontak pandangan sang anak berubah menuju ke ayahnya, "Iya jadi jadi..." Dengan penuh semangat.

Tawa kecil lah yang pertama muncul dari mulut sang ayah, anak itu hanya diam dan terus melihat ke arah ayahnya. Baru setelah itu kata-kata yang keluar dari mulut sang ayah, "Begini anakkuu..Kenapa tempat yang mau kita tuju itu langitnya cerah.." Ayah sambil menunjuk ke arah langit sambil matanya melihat ke arah lampu lalu lintas, menunggu isyarat untuk kembali jalan.

Sang ayah kembali melanjutkan, "Dunia ini adil nakk." Berhenti sebentar, tangan sang ayah mengganti gigi mobil dan mulai menjalankan pelan mobilnya karena mobil di depan sudah mulai menjauh.
Sang ayah kembali melanjutkan, "Dunia atau bumi ini adil nak, tau kalau kita mau ada outbond di sana jadi dibuat lah cerah tempat yang mau kita tuju.." Kembali tawa kecil keluar dari mulut ayah.Anak itu hanya diam dan tersenyum kecil.

" Ya walaupun terlihat tidak bagus langitnya, yang daerah sana cerah lalu yang daerah sini gelap tapi itu karena adil, tau mana yang butuh hujan tau mana yang tidak butuh hujan." Dengan bijak dan percaya diri sang ayah menjawab.

Mata anak itu kembali melihat ke arah luar, melihat keadaan luar yang dibasahi air yang turun dari langit, "Ayah..ayah..berarti anak-anak itu lagi butuh hujan ya??tapi kan kasian mereka jadinya basah gitu.." Tangan mungil sang anak menunjuk ke arah kumpulan anak sekolah dasar yang berjalan pulang dibawah guyuran hujan yang deras.

Ayah diam saja, mencoba memutar otak untuk mencari pembenaran dari jawabannya tadi, dalam hati ayah berbicara "Wah kenapa tanya gitu? pintar juga anakku ini.." senyuman menghias wajah sang ayah.
Seakan tidak mau kalah dari anak kecil dan ingin terlihat pintar di depan anaknya, ayah kembali menjawab, " Ya bukannya butuh, mereka ingin buru-buru pulang mungkin, sudah lah dunia itu adil, mereka mungkin aja butuh hujan itu.." Kembali tawa kecil terdengar dari mulut ayah.

"Ooooo..begitu ya.." Sang anak mengangguk-angguk, yakin dengan jawaban ayahnya.

Suasana menjadi hening, hanya suara hujan yang terdengar, suara yang tidak beraturan dan tidak bernada, suara yang muncul karena air turun di atas mobil.

"Wahhh..udah cerah ni yah.." Kembali sang anak mengoceh ketika melihat ke arah langit dan langit sudah cerah. Ayahnya hanya diam dan menganggukkan kepalanya

Sang anak kemudian melihat ke arah belakang, melihat ke arah jalan yang sudah dilaluinya. Terlihat daerah yang sudah dilewatinya masih ada awan hitam yang menyelimuti. Kepala anak itu kembali menoleh ke depan untuk melihat langit yang cerah, beberapa kali menoleh ke belakang dan ke depan untuk melihat ke arah langit, melihat perbedaan awan yang hitam dan putih cerah, membandingkan daerah yang dia lewati sekarang tidak hujan dengan daerah yang sudah dilewatinya masih turun hujan.

"Hebat juga ya yah bisa gini.." Anak itu terkagum-kagum sambil melihat dan menoleh berulang-ulang ke arah langit.

"Iyaa nak, adil yang pasti, kan kita mau outbond kan jadi ya harus cerah donk daerah kita."

"tapi kalau di sana hujan terus ada yang mau outbond gimana? kan nggak adil yah." Sang anak membandingkan dengan daerah yang baru dilewati.

"Tapi di sana kan tidak ada tempat outbond." Sang ayah tertawa kecil dan sok tau agar sang anak tidak bertanya lagi.

Anak perempuan kecil dengan sejuta pertanyaan itu terlihat sangat menikmati perjalanannya, menikmati hujan dan menikmati cuaca cerah yang dia lalui sekaligus, terus mencoba untuk bertanya banyak hal kenapa terjadi  perbedaan yang mencolok. Di satu daerah turun hujan lebat dan di daerah lain tidak turun hujan sama sekali, bahkan terlihat jelas perbedaannya jika melihat ke arah langit, awan hitam dan langit cerah biru terlihat kontras.

Raut wajah sang anak tiba-tiba terlihat serius, matanya menatap tajam ke arah luar. " Ayah ayah...itu kenapa ada rumah yang jelek terus di depannya ada rumah yang bagus dan besar yah? biar adil ya yah itu??"

Sang ayah segera melihat ke arah rumah-rumah itu, mukanya juga berubah serius. Kembali anak itu bertanya, "Iya yah??berarti itu adil ya yah? berarti orang yang tinggal di rumah yang jelek itu memang butuh rumah itu ya? memang ingin rumah itu ya yah? padahal kan enak tinggal di rumah yang besar itu yah, pasti mau apa aja ada, tapi kenapa ada yang mau tinggal di rumah jelek itu yah, kenapa ada yang butuh tinggal di rumah jelek itu yah,kan nggak enak."

Belum sempat menjawab anak itu kembali bertanya, "Berarti itu adil ya yah?" Sang anak seperti menagih kembali jawaban adil dari ayahnya tadi.Anak itu sendiri tidak bermaksud mempertanyakan kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat, tidak mungkin dan tidak mampu anak seusia dia mengerti akan hal itu.
Sang ayah sekarang hanya diam saja dan memilih tidak menjawabnya..
Selasa, 22 November 2011

Kotak Perkakas


Sebuah kotak perkakas tua berdebu tergeletak di sela-sela tumpukan kayu lapuk. Sarang laba-laba menjadi dekorasi kotak perkakas, tidak ketinggalan beberapa laba-laba kecil terlihat tidak bergerak di sarangnya itu. Warna coklat tua lapuk semakin memperlihatkan betapa tuanya kotak perkakas itu.

"kamu tidak apa-apa nak??!!!" Teriak seorang wanita dari kejauhan ketika mendengar suara keras dari benda yang berjatuhan. Kayu-kayu lapuk dan beberapa benda tua lainnya jatuh begitu seorang anak usia sangat muda membuka pintu cukup besar yang masih terlihat kokoh.

Gudang tua, itulah tempat yang menjadi tujuan dari sang anak itu. Gudang tua yang terletak di belakang rumah sederhananya.

"Iya bu, cuma kayu yang jatuh aja koq.." Teriak anak itu

Tanpa berlama-lama anak itu berjalan menuju ke kotak perkakas tua itu. Sudah tidak asing lagi letak kotak perkakas itu karena sebelumnya dia pernah ke gudang di rumahnya itu hanya saja kotak perkakas itu tidak pernah diambil. Ditiupnya kotak perkakas itu dari debu-debu sambil pelan-pelan dibawa menuju ke luar gudang.

"Ini buat apa ya??" Tanya anak itu dalam hati ketika dia mengambil palu dari kotak perkakas. Palu yang masih terlihat kuat, pegangan dari kayu yang masih utuh memperlihatkan palu yang masih kuat untuk menancapkan sebuah paku.

Tanah di halaman dekat gudang menjadi sedikit berubah bentuk, dari yang tadinya datar menjadi sedikit cekung ketika sang anak menghantamkan palu tua itu ke tanah. Beberapa kali palu menghantam tanah dengan cukup keras, beberapa pecahan tanah terhempas dan terlempar jauh dari tempat asalnya. Sang anak segera mencari lagi alat di kotak perkakas itu dan dia mengambil obeng yang cukup besar.

Dengan cepat obeng langsung ditancapkannya ke tanah cukup dalam, hampir setengah badan dari obeng tertancap di tanah. Sang anak mencoba mencongkel tanah itu menggunakan obeng, dengan tenaga seorang anak sekolah dasar yang masih kelas 1 tentu saja usahanya itu gagal. Anak itu tidak punya tenaga yang cukup kuat untuk mencongkel tanah dengan kepadatan yang baik itu, obeng lalu perlahan sedikit dinaikkan dan menjadikan obeng sekarang hanya sebagian badan saja yang ada di tanah. Tidak butuh tenaga yang banyak tanah dengan mudahnya berhamburan keluar.

Lagi, sang anak menancapkan obengnya ke tanah, kali ini obeng diapakai untuk menggali tanah. Dengan cepat tangan sang anak menancap keluarkan obeng dari tanah berkali-kalidan menjadikan tanah tidak menyatu lagi, beberapa bagian tanah berserakan kemana-mana. Dengan cepat anak sang anak melihat ke arah kotak perkakas lalu mengambil gergaji kecil yang berkarat.

Gergaji kecil berkarat itu digunakannya untuk mengambil tumpukan tanah yang sudah tidak menyatu lagi. Setelah tanah dipindahkan tangan kanan sang anak kembali menancapkan obeng dan mengulangi yang dilakukan sebelumnya lagi. Tangan kanan dengan obeng merusak kesatuan tanah dan tangan kiri dengan gergaji kecil mengambil tanah itu dan memindahkannya.

Alat-alat perkakas yang tidak digunakan sesuai fungsinya itu memang menyulitkan sang anak untuk menggali tanah yang memang merupakan tujuan utamanya itu. Menggali tanah dan menanamnya dengan bibit tanaman yang sudah dia persiapkan.

Kalau saja alat-alat perkakas itu manusia pasti mereka sudah protes, sudah mengumpat dalam hati, " Bodoh sekali ini anak!! Aku kan palu kenapa buat memukuli tanah??!!!" Belum lagi obeng dan gergaji kecil pasti juga tidak terima dengan perlakuan sang anak itu. Tapi mereka hanya lah benda mati yang tidak bisa merasakan apa-apa, tidak bisa berbuat apa-apa.

"Nak!!!" Sang anak terkaget mendengar suara ibunya dengan nada yang tinggi itu.

Sang anak hanya melihat ke arah ibunya yang berdiri di depannya tanpa berkata apa-apa. Sang ibu menatap anaknya itu, " Kamu menggali tanah kenapa pakai alat itu?? kalo mau menggali tanah pakai cangkul kecil yang ada di gudang."

Sang anak hanya diam dan menganggukkan kepalanya, sang ibu mulai duduk dekat dengan sang anak sambil memegang palu dan gergaji kecil," Ibu kasi tau ya nak, palu ini fungsinya bisa buat menancapkan paku, terus gergaji kecil ini buat memotong kayu nak." Sang anak kembali menganggukkan kepalanya lagi.

Sang ibu hanya tersenyum melihat anaknya itu, dia bisa maklum jika anaknya belum banyak tahu karena dia juga masih muda. " Ingat ya anakku, kalau alat-alat itu dipakai sesuai fungsinya alat itu jadi bisa berguna, jadi kalau sudah tau mau berbuat apa cari alat yang pas, cari alat yang emang berguna buat apa yang mau kamu lakukan. Ini sekalian nasehat buat kamu, kalau nanti besar mau sukses kamu harus tau mau jadi apa kamu,lalu kenali diri kamu sendiri biar nantinya kemampuan yang kamu punya bisa berguna buat cita-cita yang kamu ingin capai anakku..." Sang ibu tersenyum dan memeluk anaknya.

Koin Hidupku


Langkah kaki kecil berjalan menyusuri jalan raya dengan hiruk pikuk suara kendaraan, tak ketinggalan panas matahari menambah panas suasana di jalanan yang ramai itu. Tanpa alas kaki Resa berjalan mondar mandir di sekitar trafic light, berjalan menghampiri kendaraan yang berhenti menunggu isyarat dari lampu lalu lintas untuk kembali berjalan. Tanpa alas kaki dengan santainya Resa berjalan di atas jalan aspal yang terus tersengat sinar matahari, berjalan dari hari ke hari yang menjadikan kulit kaki Resa kebal terhadap aspal jalan yang panas. Kulit hitam Resa juga memperlihatkan betapa ia setiap hari ada di jalan itu, mencari koin-koin kehidupan dari jalanan.

“Terima kasih om..” Resa membawa gitar kecilnya dan kembali berjalan ke kendaraan lain sambil sekilas melihat ke arah lampu lalu lintas, memastikan tidak mengganggu kelancaran jalan raya.

Resa tersenyum dan menganggukkan kepalanya ketika menghampiri seorang yang sedang duduk nyaman di mobil. Dengan sikap tidak peduli orang di dalam mobil itu melambaikan tangannya ke arah Resa  untuk memberi tanda tidak akan ada uang koin yang keluar lewat jendela mobil. Tidak mudah bagi Resa mendapatkan koin-koin untuk menyambung kehidupannya.

Menjadi rutinitas menghitung-hitung koin yang ia dapat saat matahari tepat berada di atas kepala, menyisihkannya untuk membeli sesuap nasi untuk makan siangnya, makan yang mungkin hanya untuk satu kali selama satu hari itu.

“Nih buat kamu..” Resa menyodorkan nasi bungkusnya pada seorang anak kecil yang duduk lemas di trotoar.

Sudah menjadi pemandangan biasa banyak pengemis maupun pengamen kecil yang memenuhi jalan raya utama kota itu, mereka selalu ada dari pagi sampai malam hari. Pada siang hari anak-anak itu berkumpul di trotoar jalan yang cukup besar untuk bersama-sama istirahat sejenak dan makan. Banyaknya kumpulan anak-anak di siang hari itu membuat mereka bisa dijadikan dalam satu kelas di sebuah sekolah sebagai siswa untuk mengeyam pendidikan, tetapi sayang kumpulan anak-anak itu hanyalah sekumpulan anak jalanan dengan impian untuk bersekolah. Resa pun selalu terlihat dalam kumpulan itu, ikut bercanda bersama anak-anak jalanan itu, sama-sama punya mimpi yang besar untuk masa depan, sama-sama ingin untuk bersekolah, dan sama-sama ingin mewujudkan cita-cita.

Ayah dan ibu Resa yang sakit membuatnya harus putus sekolah saat dia duduk di kelas 5 SD dan sudah 2 tahun setelah putus sekolah Resa ikut membantu kakaknya yang juga sebagai pengamen untuk menghidupi keluarga mereka. Tidak hanya untuk makan sehari-hari, mereka berdua juga mengumpulkan uang untuk membiayai pengobatan bapak dan ibunya.

Tak terasa matahari sudah hilang dari pandangan, cahaya lampu jalan mulai menerangi menggantikan cahaya matahari. Resa berjalan lemas menuju rumahnya yang tidak jauh dari tempat dia mengamen. Berjalan perlahan membawa gitar kecilnya sambil menghitung koin-koin receh yang ia dapat tadi.
“Ini buat makan bapak sama ibu.....Ini buat aku tabung, buat beli obat...” Tangan Resa membagi uang koin yang ia dapat dan menaruhnya di kantung yang berbeda.

Sebelum pulang Resa membeli nasi bungkus untuk makan malam Bapak dan ibunya. Mengorbankan makan malamnya untuk bapak dan ibunya, uang makan malamnya ia sisihkan untuk ditabung membeli obat untuk kedua orang tuanya itu. Sudah menjadi hal yang biasa bagi Resa jika ia harus makan satu kali dalam sehari, itu pun dia hanya makan sedikit karena dia berbagi makanan juga dengan anak jalanan lain. Tubuh kurus kering, rambut merah karena matahari, dan kulit hitam dan kering menjadi gambaran nyata betapa kerasnya kehidupan jalanan hanya demi koin-koin receh untuk kehidupan.

Begitu tiba di rumah sangat sederhananya Resa segera merawat kedua orang tuanya dan beristirahat untuk bersiap menjalani hari esok. Menjalani lagi kerasnya kehidupan jalanan demi koin untuk menyambung hidupnya, koin yang bagi Resa sangatlah berharga dan berharap bisa merubah kehidupannya dari koin-koin itu.

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia