blogger widget
Jumat, 03 Februari 2012

Dedaunan Kering


Mata ini tidak bisa lepas memandang ketika dia lewat di tepat di depan tubuhku, aroma wangi dengan lembut dan perlahan tercium oleh indra penciumanku. Seakan ingin mengikuti pesona gadis itu, dedaunan kering  di sekitar kakiku melayang terbang begitu saja menjadi berserakan, tentu bukan karena ingin benar-benar mengikuti gadis cantik itu tetapi karena angin yang lewat saat tubuh gadis itu melintas dan karena sepasang kaki gadis itu yang tanpa sengaja menerbangkan tumpukan dedaunan kering itu . Aku baru menyadari ketika gadis itu sudah lepas dari pandanganku, dedaunan kering yang baru saja aku sapu tadi sekarang sudah tidak berkumpul menjadi satu tumpukan lagi, akan menjadi pekerjaan berat bagiku pagi ini.  Tetapi setidaknya aku senang bisa melihatnya dari dekat dan memberi senyuman terbaikku.

Dengan sapu lidi bergagang panjang yang aku pegang ini, aku kembali mulai mengumpulkan dedaunan kering untuk nantinya aku bakar. Menjadikan halaman sekolah ini terlihat bersih dan menyejukkan mata bagi siapa saja yang melihatnya. Dengan perasaan yang masih bahagia aku lakukan pekerjaan ini dengan selalu mengumbar senyuman, sejenak aku bisa melupakan betapa beratnya pekerjaan yang sebenarnya tidak aku inginkan ini.

Memang ternyata dibalik nasib baikku pagi ini terselip nasib sial yang aku alami, nasib bersama dedaunan kering ini. Lagi-lagi tumpuka daun yang sudah aku kumpulkan kembali terpisah, kali ini menjadi sangat berantakan. Menjadikan pemandangan halaman sekolah seperti habis dilanda angin topan, mataku pun ini menjadi berat, menjadi tak mau melihat pemandangan ini.

Beberapa anak lelaki dengan sengaja mengacak-acak daun-daun kering yang sudah aku sapu itu. Kumpulan anak-anak labil SMA yang tak tahu diri, dan bagiku mereka hanyalah anak kecil yang tak tahu malu. Sebentar aku melihat ke arah mereka, seperti sebagian anak-anak SMA yang tak punya rasa menghargai, dengan nada yang tinggi dan dengan wajah yang sombong  satu diantara mereka membentakku,”Apa kamu liat-liat??!!” Beberapa detik kemudian anak yang lain mengulangi kata-kata itu lagi, kali ini dengan mata melotot, kembali anak yang lain juga mengulang kata yang sama dan dengan langkah kaki yang dibuat-buat agar terlihat gagah mulai menghampiriku. Aku hanya melihat sebentar dan memilih tidak mempedulikannya. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku, membiarkan suara-suara mereka melintas seperti angin di telingaku, lewat begitu saja.Lagi pula buat apa aku meladeni mereka, meladeni anak-anak yang labil dan masih mencari jati diri itu. Walaupun usiaku sepantaran dengan mereka tapi aku jauh lebih dewasa dari mereka, walaupun aku hanya bersekolah sampai bangku SMP tapi aku lebih bermoral, sifat dan  kedewasaanku ini terbentuk dari kerasnya hidup yang aku jalani.

“Kringgggg..” Bunyi lantang bel masuk sekolah membubarkan mereka yang terus menggangguku. Kembali suara-suara bentakan muncul, “Awas ya nanti!!!” Walau berbeda kata tetapi mereka masih sama saling bergantian mengucapkan itu, terlihat seperti paduan suara yang saling sahut menyahut tetapi dengan suara dan nada yang buruk tentunya.

~~~

Betapa bahagianya aku ketika gadis yang aku suka itu menghampiriku dan mengajakku berbicara. Jantung ini seakan tidak ingin berdetak, berhenti karena ketidakpercayaanku ini. Betapa kagetnya aku dia menghampiriku, dan seperti pagi tadi aku kembali memberikan senyuman terbaikku. Kembali nasib baikku diselipi nasib sial, sepertinya nasib sialku tidak ingin melihat aku bahagia walau sebentar saja. Anak-anak pengganggu itu kembali datang,dan seperti biasa aku menjadi bahan ejekan mereka, apalagi kali ini gadis cantik itu sekarang bersamaku, tentu ini semakin menjatuhkan harga diriku. Cemoohan merendahakn aku terima dari mereka, dari tukang sapu sekolah yang tak tahu diri, tak tahu malu, sampai tukang sapu sekolah yang berharap terlalu tinggi untuk disukai seorang gadis cantik. Apa kalau aku tukang sapu aku tidak berhak menyukai orang lain?Bukannya suka, cinta, dan sayang siapa saja boleh merasakannya? Tidak peduli berpendidikan apa, tidak peduli apa pekerjaannya, tidak peduli status apa yang dipunya. Aku mengucapkan itu pada mereka semua, tetapi aku mengatakannya hanya dalam hati saja. Aku kemudian tersenyum pada para penggangu itu dan tentunya pada gadis itu dan kemudian pergi meninggalkan mereka. Kembali ke pekerjaanku, menyapu dedaunan kering dan membuangnya, sama seperti yang ingin aku lakukan pada anak-anak tak berguna itu.

0 komentar:

Posting Komentar

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia