blogger widget
Minggu, 08 Januari 2012

Lautan Tulus Persahabatan


Awan mendung terlukis jelas di langit, sinar matahari tak mampu menembus tebalnya awan mendung pagi itu. Setidaknya ini menjadi gambaran suasana hati Clara yang sedang bersedih, sinar kebahagiaan tidak bisa memancar dari wajah cantik Clara, terhalang oleh banyaknya masalah yang ia hadapi.

Pagi itu Clara hanya duduk diam di kamarnya, memandang ke luar jendela, meratapi nasib hidupnya sekarang, dan berusaha untuk lari dari kenyataan hidupnya sekarang. Tatapan matanya beralih seketika saat handphonenya berdering, satu pesan pendek masuk dan itu melengkapi puluhan pesan pendek lainnya yang dari kemarin masuk ke handphonenya. Masih sama seperti kemarin, pesan pendek dari Cecil sahabatnya yang mendominasi, begitu juga puluhan panggilan tak terjawab dari Cecil yang dibiarkan begitu saja.

Dari kemarin Clara tidak masuk sekolah, waktunya ia habiskan di rumah, mengurung diri di kamar, mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Sebagai sahabat tentu Cecil merasa khawatir dengan keadaan Clara, sejak kemarin Cecil terus mencoba menghubungi Clara dan sempat datang berkunjung ke rumah Clara yang hasilnya sama saja, Cecil tidak tahu keadaan sahabat sejak kecilnya itu.

~~~

“Halo.selamat siang, bisa bicara dengan Clara?”

“Clara sedang tidak ada di rumah mbak, maaf ini dengan siapa?”  Suara yang asing seorang perempuan, bukan ibunya Clara ataupun pembantu yang biasanya ada di rumah Clara.

“Saya Cecil teman sekolah Clara..kalau boleh tau kemana ya Clara?” Cecil tidak peduli dengan siapa yang mengangkat telepon, mungkin saja dia pembantu baru di rumah Clara karena Cecil sudah hafal dengan suara penghuni di rumah Clara karena hampir setiap hari main ke rumah Clara.

“Kurang tahu saya mbak..”

“Dengan siapa ya Clara perginya?” Cecil masih penasaran.

“Saya juga kurang tahu,..”

“Ohhh yasuda, terima kasih ya..” Cecil semakin khawatir.

“Tadi dari siapa mbak?dari Cecil ya?”

“Iya non..tadi tanya tentang non Clara terus saya jawab non Clara lagi pergi.”

“Bagus mbak, kalau ada telpon lagi bilang aku lagi pergi aja ya mbak.”

Ternyata Clara masih tidak ingin diganggu, sekalipun oleh sahabatnya sendiri, Clara masih ingin sendiri dan merenung.
`~~~

Malam harinya Cecil semakin khawatir dengan sahabatnya itu, pikirannya dipenuhi dengan kekhawatiran akan keadaan Clara. Cecil yakin kalau Clara ada di rumah dan malam itu Cecil memutuskan untuk ke rumah Clara.

 “ Clara nya ada mbak?” Seorang perempuan keluar ketika Cecil baru saja menekan bel rumah Clara.

“Clara tidak ada di rumah..” Suara yang sama ketika Cecil menelpon tadi siang.

“Ohhh.terima kasih ya mbak..” Cecil tidak menyerah begitu saja, dia hanya memastikan apa jawaban dari pembantu Clara.

Cecil kemudian berjalan menjauh dari pintu rumah Clara.Cecil  berjalan ke arah belakang rumah ketika pembantu Clara masuk. Diam-diam Cecil menuju ke kamar Clara dan akhirnya dia bisa masuk ke kamar Clara yang saat itu sedang duduk diam di atas tempat tidur, dengan wajah yang menyedihkan, dengan kantong mata di wajah yang begitu tebal, serta dengan badan yang berubah kurus.

“Cecil!!!” Clara kaget begitu melihat ke arah tangan yang merangkulnya dari samping. Clara tidak menyadari kedatangan sahabatnya itu, kesedihan membuatnya sejenak melayang dari dunia nyata.

Seketika tangis Clara pecah, Clara memeluk erat tubuh Cecil, meluapkan semua emosinya yang selama ini terpendam. Cecil mencoba menenangkan Clara, membelai-belai rambutnya, memberi kenyamanan, dan membiarkan Clara menangis.

Setelah Clara sedikit tenang, ia mulai menceritakan masalahnya itu. Clara tidak tahan setiap hari melihat pertengkaran orang tuanya sejak dua bulan lalu , dan puncaknya ketika tiga hari lalu orang tua Clara bercerai dan meninggalkan begitu saja Clara di rumah sendiri saat kedua orang tua Clara menyelesaikan perceraian dan hak asuh Clara.

Cecil akhirnya tahu keadaan sahabatnya itu, dan saat ini hanya dia lah yang bisa membuat Clara kembali seperti biasanya walaupun tidak akan seperti dulu saat kedua orang tuanya masih bersama.

Clara  hanya bisa menerima segala perlakuan yang dilakukan sahabatnya Cecil, perlakuan yang membuatnya nyaman, yang sedikit demi sedikit mulai mengembalikan senyumnya. Cecil hanya melakukan yang ia bisa sebagai seorang sahabat,  mengembalikan kebahagiaan dari kesedihan dalam lautan tulus persahabatan, dengan ketulusan yang tak ada habisnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia