blogger widget
Kamis, 05 Januari 2012

Senyuman Satu Malam


“Masih ada tiga bulan lagi..” Tangan  Riba menghitung hari di kalender yang ia pegang.

Riba kemudian keluar dari kamarnya, melewati sekat yang hanya terbuat dari kain bekas yang dijahit kembali menjadi seukuran pintu, untuk menutupi kamarnya. Riba berjalan keluar rumah dan disambut dengan matahari yang menyinari tepat di tubuhnya. Matahari yang sudah tidak ada di titik tertingginya dan perlahan sudah mulai bersiap untuk bersembunyi di balik awan yang mulai berubah warna menjadi oranye.

“Ibu..Riba pergi dulu ya, mau belajar kelompok..” Ibunya tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil mengambil pakaian dari jemuran yang ada di luar rumah.

~~~

“Rokoknya pak..rokoknya...” Satu wadah besar terbuat dari kayu sudah dibawa oleh Riba, tidak hanya berisi rokok, ada juga minuman dan makanan kecil.

Langit sudah berubah jadi gelap, cahaya bintang dan bulan sudah menggantikan matahari. Kira-kira pukul setengah tujuh malam Riba sudah berada di terminal, menunggu para penumpang yang turun ataupun penumpang yang akan berangkat, berharap kiranya mereka mau membeli barang dagangannya.

Riba berbohong pda ibunya dengan beralasan belajar kelompok padahal sebenarnya dia menjadi pedagang asongan di terminal untuk mencari uang. Riba tidak berani beterus terang pada ibunya kalau dia bekerja karena pasti ibunya akan sangat marah. Ibunya ingin Riba belajar dengan serius di bangku SMA, ibunya ingin Riba fokus pada sekolahnya agar dia bisa sukses.

Walaupun begitu selalu terjadi pergolakan dalam hati Riba, di satu sisi ia ingin membantu ibunya mencari uang untuk menghidupi satu adiknya dan dia sendiri tetapi di sisi lain ibunya tidak memperbolehkan dia untuk bekerja. Sejak ditinggal pergi ayahnya memang sekarang ibu Riba menjadi tulang punggung utama di keluarga. Ibu Riba hanya bekerja sebagai buruh cuci dan bekerja apa saja agar mendapat uang. Akhirnya Riba pun berinisiatif untuk mencari uang tanpa sepengetahuan ibunya.

~~~

“Tinggal dua minggu lagi, semoga sudah cukup..” Riba melihat kalender dan menimbang-nimbang tabungannya.

“Riba!! Makan dulu ayo..” Suara keras ibu Riba  sedikit mengangetkannya.

“Ini buat kamu..” Ibu Riba membagikan sepotong tempe padanya, sepotong tempe lagi diberikan adiknya. Ibunya tidak kebagian dan hanya makan nasi dan sayur daun pepaya.

Memang sudah biasa mereka makan seperti ini, ibu Riba selalu mengalah membiarkan anaknya mendapat jatah makanan yang lebih enak. Riba sendiri pun sering membagikan makanannya tapi ibunya selalu menolak, ibu Riba selalu beralasan anak-anaknya lah yang lebih butuh , makan nasi putih saja bagi ibu Riba tidak masalah.

“Tunggu ya bu, Riba akan buat ibu bahagia walaupun Cuma satu hari, ini untuk membalas semua kebaikan dan kerja keras ibu.” Dalam hati Riba berbicara sambil melihat ibunya yang sedang makan, dengan wajah yang masih bisa tersenyum walau dengan keadaan seperti ini.

~~~

“Riba!!!Kenapa nilai kamu begini?!!!Ibu sudah capek cari uang buat kamu, buat sekolah kamu, tapi kenapa begini??!!!!” Ibu Riba memegang hasil ulangan yang ia temukan di kamar Riba, beberapa kertas ulangan yang disimpan Riba.

Riba hanya terdiam dan menunduk lesu. Ini semua adalah akibat dari Riba yang malam harinya bekerja jadi dia tidak belajar tiap kali ulangan.

“Maaf  bu..” Riba mencoba menenangkan ibunya. Ibu Riba langsung berjalan keluar dari kamar Riba.

“Padahal hari ini hari ulang tahun ibu dan aku sudah siapkan pesta kecil untuk ibu, tapi kenapa malah begini..kenapa hasil ulanganku bisa ditemukan ibu..”Wajah Riba terlihat sedih.

“Hari ini harus aku berikan hadiahnya!hari ini harus ada pesta untuk ibuku!” Riba kemudian menyiapkan semuanya, kue yang telah ia beli, hiasan yang telah beli untuk menghias ruang makan yang menyatu dengan ruang keluarga  yang nantinya jadi tempat pesta kecil untuk ibunya. Dari tadi Riba juga belum memberi ucapan selamat pada ibunya dan mungkin saja itu yang membuat tadi ibunya sangat marah.

“Selamat ulang tahun ibu..” Akhirnya waktunya tiba juga, malam hari ibu Riba baru pulang dari bekerja menjadi buruh cuci bersama adiknya.

Wajah ibu Riba seketika berubah, dari yang semula biasa saja dan sedikit terlihat sedih berubah menjadi kaget dan tidak percaya. Seketika kemudian wajah ibu Riba berubah lagi, kali ini muncul senyuman ketika Riba memberikan kue ulang tahun pada ibunya.

“Terima kasih ya nak..” Air mata menetes dari mata Ibu Riba dan langsung memeluk Riba, air mata yang bercampur senyum kebahagiaan. Kerja keras Riba selama ini setidaknya bisa membuat ibunya bahagia walaupun harus mengorbankan nilainya jelek tapi nilai tentunya  masih bisa diperbaiki. Karena bisa melihat senyum bahagia dari wajah ibunya adalah suatu hal yang membahagiakannya juga walaupun itu hanya satu malam saja.

0 komentar:

Posting Komentar

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia