blogger widget
Jumat, 21 September 2012

Taman Surga



Sehelai daun itu lepas dari ranting yang menopangnya, turun perlahan melayang-layang tanpa tahu akan kemana terjatuh. Annisa menikmati apa yang dilihatnya sekarang, tidak hanya satu tetapi beberapa helai daun lepas tanpa beban.

Bola mata Annisa bergeser ke kiri dan kanan, melihat ke berbagai arah. Dedaunan yang terjatuh mulai berada pada tempat yang sudah ditentukan, bukan karena mereka sendiri tetapi karena angin yang menentukan. Wajah Annisa mengerut, dilihatnya daun kering berwarna coklat jatuh di atas kubangan air, seketika hilang ditelan air keruh berwarna coklat itu.

Ada lagi daun yang baru saja menyentuh tanah kembali terhempas tak berdaya, baru saja sebentar merasakan bau tanah sudah harus melayang lagi tanpa arah. Daun yang masih berwarna hijau itu terlempar tanpa arah tujuan. Daun yang tidak beruntung karena ranting yang menopangnya sudah rapuh, hilang sudah kesempatan menampakkan kehijauannya bagi ribuan pasang mata yang ingin melihatnya. 

Annisa melihat sedih daun hijau itu, seandainya saja ranting yang kuat yang menopangnya sudah tentu akan ada banyak waktu menikmati warna hijau segar daun itu.

“Nampaknya aku belajar banyak dari dedaunan ini.” Annisa berbicara dalam hati

Taman yang begitu luas ini memancing kaki Annisa untuk bergerak, berjalan di atas batu setapak 
menikmati berbagai macam pemandangan yang tersaji rapi. Berbagai macam warna memenuhi pandangan Annisa, bunga-bunga tumbuh sempurna, birunya danau menyejukkan mata,  hijaunya pepohonan menyegarkan mata.

“Rapuh sekali pohon ini.” Tangan berkulit putih Annisa memegang lembut batang pohon yang cukup besar.

Kulit-kulit pohon yang Annisa pegang mengelupas, memperlihatkan seberapa lama pohon ini berdiri dengan berbagai macam dedaunan berganti-ganti menghiasi kepalanya. Sekarang hanya beberapa lembar daun saja yang masih mau menghiasi kepala pohon tua ini.

“Tebang saja seharusnya pohon ini.” Annisa melihat pohon ini sudah tidak layak lagi untuk berdiri di tempat ini, kerapuhannya bagaikan satu titik hitam di atas kertas putih bersih. Satu pohon tua di antara ratusan pohon-pohon muda lainnya.

Tapi tidak tega juga Annisa jika pohon ini harus ditebang, dia masih hidup dan masih ingin berguna walau dengan segala keterbatasannya ini. Setidaknya akan mudah mencari pohon tua ini di antara banyak pepohonan di sini, tampak berbeda dengan lainnya.

“Baik-baik yaa.” Annisa tersenyum pada pohon tua ini dan berjalan meninggalkannya.

“Awww..” Jari telunjuk Annisa meneteskan darah, tertusuk duri tajam yang merobek kulit indahnya.

Dibalik keindahan warna merahnya ternyata ada bahaya yang membayangi. Annisa lupa mawar merah ini berduri. Lupa di balik kelebihan bunga ini, ada kelemahannya yang menyakitkan, duri-duri yang melindungi keindahan mawar ini, sebuah keindahan yang tidak akan mudah di dapat dan dinikmati.

Sambil mengecup jari telunjuknya Annisa melihat ke arah bunga di sebelahnya. Beberapa lebah sedang menikmati menghisap nektar. Bahan dasar bagi madu yang akan mereka buat nanti. Tidak lupa setelah selesai dan terbang meninggalkan bunga itu para lebah menyebar serbuk bunga yang menempel, memberikan bagi banyak bunga lain yang membutuhkan.

Terlukis guratan senyum di wajah Annisa melihat itu, betapa senangnya menjadi saling menguntungkan. Kembali Annisa berjalan menyusuri setapak dengan pijakan yang kuat.
Betapa senangnya pasti air di danau ini ketika tangan mulus Annisa masuk merasakan dinginnya air. 

Wajah Annisa melihat-lihat ke arah air danau ini, wajah cantik dengan rambut panjang terurainya terlukis manis di atas kanvas jernih air danau ini. Rambut bergelombang hitam terurai rapi di pundak Annisa. Mata bulatnya dihiasi dengan bulu mata yang lentik menjadi penyempurna hidungya yang mancung, bibir kecil manisnya semakin melengkapi bagian-bagian wajahnya yang menjadi satu kesatuan yang indah. Betapa beruntungnya air danau jernih itu bisa melihat dengan bebas kecantikan Annisa.

“Dasarnya terlihat jelas ya.” Annisa berbicara sendiri sambil melihat dasar danau yang tidak terlalu dalam itu.

Kejernihan air di pinggir danau ini memperlihatkan dasar berbatu dengan beberapa ikan berenang bebas di antara arus tenang danau. Annisa merasakan ketenangan melihat jernihnya air ini sama ketika ia merasakan ketulusan cinta yang pernah ia rasa, tanpa kecurigaan dan tak ada yang ditutup-tutupi. 

Berbeda ketika Annisa melihat jauh di tengah danau, tak terlihat dasarnya, hanya ketakutan yang ia rasa ketika melihat danau di bagian tengah itu, tak ada kejelasan, dan tak ada kejernihan.

Wajah Annisa berubah kecewa, di kejauhan matahari sudah ingin kembali ke tempat peraduan, sudah ingin mengakhiri pancaran sinar terangnya. Ini pula yang menjadi akhir Annisa menjelajahi taman indah ini, sebuah taman dengan berjuta keindahan dan pelajaran, sebuah taman yang mengajarkan arti kehidupan, memaknai dalam kesendirian, makna hidup yang begitu sederhana.

0 komentar:

Poskan Komentar

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia