blogger widget
Sabtu, 03 Desember 2011

Andai Aku Tuhan


Pemandangan biasa yang selalu aku lewati, dedaunan hijau menari-nari mengikuti iringan angin, rumput-rumput pendek bergoyang-goyang seirama, dan warna hijau mendominasi sejauh mata memandang. Tak ada pepohonan yang sakit, semua tumbuh dengan subur, daun-daun hijau lebat senantiasa memayungi pepohonan itu.

Tidak terbayangkan betapa indahnya melihat semua itu ketika aku melewati jalan setapak ini, tertata rapi dengan batu-batu kali yang ditanam di tanah. Perlahan berjalan menapaki jalan bebatuan ini,memandang hijaunya rumput, berhati-hati agar tidak menginjaknya. Aku menikmatinya, jalan menuju negeriku.

Semakin berjalan, semakin banyak yang bisa aku lihat. Pemandangan berganti menjadi suatu tontonan yang tidak membosankan untuk menemani perjalananku ini. Dari pepohonan dan rerumputan hijau, kali ini bukit-bukit berjajar tidak beraturan. Terlihat dari jauh bukit batu berdiri tegap menantang langit, diselingi sedikit rumput liar dan pohon kecil di badan bukit. Memberi warna tersendiri untuk bukit-bukit itu, tidak hanya warna batu saja yang terlihat, diselingi warna hijau nampak bukit semakin terlihat sedap untuk dipandang.
"
Ahh..!!Aku tidak menyukai ini!!" Perkataan yang selalu muncul dalam hatiku ketika aku mulai masuk ke perbatasan negeriku sendiri.

Di balik bukit-bukit batu yang baru saja aku lewati selalu saja bersembunyi hal-hal buruk di baliknya. Bukan hanya pemandangan yang tidak enak dipandang, rumah-rumah yang tidak tertata rapi, kelakuan orang-orang di dalamnya, sungguh membuatku tidak ingin kembali ke negeriku sendiri. Tetapi apa daya, aku lahir di negeri ini, aku membanting tulang untuk negeri ini. Setidaknya aku tidak terlalu malu dengan semua ini, negeriku ini selalu bersembunyi di balik bukit-bukit batu yang mengelilinginya, memberiku cukup ketenangan tidak banyak orang lain melihat.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku dan penduduk lainnya hanya bisa diam saja, menutup mulut rapat-rapat, mengaliri telinga dengan keringat yang terus mengucur. Mencari kesibukan sendiri, terus bekerja untuk tidak mendengarkan apa yang diperintahkan pada kami.

Seenaknya sendiri para penguasa memerintah, mengambil hak kami seperti merampas permen dari anak kecil. Begitu mudahnya hak kami dirampas, hak untuk hidup, hak untuk keadilan. Kami hanya lah rakyat yang tidak punya apa-apa, terinjak-injak oleh orang yang lebih berada, diinjak layaknya semut yang sedang berusaha mencari kehidupannya.

Uang menjadi senjata utama di negeri ini, menentukan hidup mati seseorang. Seandainya saja aku dan penduduk lainnya punya uang, tidak akan begini nasibku. Tidak akan mereka bisa mengambil nyawa anakku!! Nyawa yang terbuang sia-sia hanya karena anakku dituduh mencuri beras. Tidak ada keadilan, sang hakim yang katanya bijak, nyatanya dengan mudahnya mengetukkan palu, palu yang mencabut nyawa anakku.

Dibalik semua itu lagi-lagi uang lah yang berperan penting, orang-orang berada tidak ingin negeri yang mereka akui sebagai negeri mereka ini penuh sesak oleh orang-orang tak berguna seperti kami. Tidak ada yang bisa keluar dari negeri ini, kami dipenjara di balik bukit-bukit batu. Hanya ketika kami bekerja paksa untuk mengambil kekayaan alam kami boleh keluar dari negeri ini, itu pun hanya sebentar. Mengangkut hasil alam yang sudah di dapat, membawanya dengan tulang-tulang kurus kami.

Udara yang berbeda ketika kami keluar, udara kebebasan yang begitu segar, udara yang sudah lama tidak kami hirup. Kebebasan, keadilan, hidup layak.Itulah yang selalu aku teriak-teriakkan, teriakan keras dalam hati, tidak mampu jika mulut kecilku ini harus berteriak keadilan, harus menuntut kebebasan. Dengan mudah sabetan pedang akan mendarat di mulutku jika kata-kata itu keluar dan terdengar banyak orang.

Seandainya saja aku Tuhan, aku akan melakukan banyak hal untuk negeri ini. Aku akan membutakan para hakim, akan aku ambil matanya, bukannya hukum itu harusnya buta??!! Tidak akan ada hakim yang bisa melihat, tidak akan tahu berapa uang yang ia dapat ketika disuap. Tidak akan bisa dia melihat mana orang yang miskin, mana orang yang kaya. Dia hanya bisa mendengar, mendengar dengan telinga mereka, mendengar dengan hati mereka, mendengar mana yang merupakan kebenaran, mana yang merupakan kebohongan.

Para pemimpin negeri ini akan aku ambil mulutnya!!!Tidak perlu banyak bicara, tidak perlu banyak
memerintah sana dan sini. Tangan dan kaki lah yang banyak bekerja, biarkan mereka bicara dengan bahasa isyarat, bicara seperlunya, lebih banyak memberi contoh dari pada memerintah,lebih banyak bekerja dari pada berbicara. Akan aku buat lubang yang lebih besar lagi di telinga mereka, semakin jelas mendengar rakyatnya, dan semakin peka pada rakyatnya.

Tapi sayang aku bukanlah Tuhan, bukan seorang yang bisa melakukan segalanya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia