blogger widget
Kamis, 15 Desember 2011

Kaki-Kaki Emas


Kaki-kaki itu terlihat tidak normal, terlihat rapuh untuk menopang berat badannya, ukuran kaki yang tidak pas jika dibandingkan dengan ukuran badannya. Dia lah Rakal, seorang remaja pria yang tinggal di lereng gunung. Dari kecil memang Rakal memiliki sedikit kelainan, ukuran kakinya tidak pada ukuran normal, dia pun saat kecil terlambat untuk bisa berjalan. Walaupun begitu Rakal tetap bisa berjalan secara normal, hanya saja dia cepat lelah jika harus berjalan lama, kakinya akan terasa pegal jika terus saja berjalan.

Tinggal di lereng gunung berarti mau tidak mau harus siap untuk berjalan melewati jalan yang tidak mudah. Hanya ada beberapa jalan datar di sekitar kampung, kaki-kaki haruslah kuat untuk bisa berjalan dari rumah ke rumah. Apalagi  jika harus mengambil kayu di gunung, perjalanan yang akan menguras banyak tenaga, jika tidak punya kaki yang kuat tidak akan bisa kaki-kaki itu menginjak tanah gunung yang berbatu itu.

Angin berhembus pelan, angin yang membawa udara dingin menusuk tulang. Malam itu, hanya ditemani cahaya bulan Rakal duduk termenung di luar rumahnya, melihat lirih kaki-kakinya itu, melihat dengan penuh tanya, mengapa ia tidak punya kaki yang normal saja.

"Sial!!" raut wajah kecewa dan marah menghiasi wajah Rakal. Rakal mengenang kembali masa lalunya, masa-masa yang sangat berat.  Masih ada dalam kenangan ketika ia harus dicaci teman sebayanya, harus menerima kenyataan bahwa ia tidak akan pernah bisa melihat dan menginjakkan kaki di gunung di kampungnya itu. Ia hanya bisa melihat betapa tingginya gunung itu, betapa tinggi dan gagah gunung itu tanpa bisa pergi ke sana.

Masih terekam dalam memori ketika ibunya menceritakan masa kecilnya. Dimulai ketika Rakal baru saja lahir ke dunia, ukuran kaki yang terlihat tidak normal ketika ia lahir. Saat itu lah warga kampung terus membicarakannya, ini bisa menjadi pertanda sial, ini sebuah kutukan. Kata-kata itu terus terdengar dari mulut ke mulut warga kampung Rakal.

Sudah menjadi tradisi sejak dulu bahwa seorang bayi laki-laki yang lahir harus sehat dan yang paling penting harus memiliki kaki yang normal. Setelah itu setelah cukup dewasa anak itu harus sudah bisa berjalan dengan sempurna, para warga kampung bersama-sama akan menyaksikan ketika sang bayi menginjakkan kaki pertamanya di tanah. Karena saat itu lah warga akan menilai apakah anak itu bisa diterima masyarakat atau tidak.

Semua itu terjadi karena mata pencaharian utama di kampung ini ada di lereng gunung ini. Mau tidak mau mereka semua harus kuat berjalan naik ke gunung, mau tidak mau kaki-kakinya harus mampu menopang tubuh dan membawa beban hasil dari mencari kayu atau hasil dari perkebunan.
Rakal sedikit meneteskan air mata, selalu saja itu terjadi ketika ia mengenang masa lalunya, air matanya selalu terbuang percuma jika dia harus menerima kenyataan itu. Dalam tubuh yang kuat dari luar, dalam hati Rakal selalu menangis ketika harus menerima kenyataan pahit ini. Wajah tampan, badan yang cukup besar tidak ada artinya ketika orang lain harus melihat ke bawah, harus melihat ke kaki-kakinya yang terlihat rapuh.

Pernah suatu waktu Rakal memaksakan dirinya untuk mencoba naik ke gunung, mencoba untuk membuktikan pada teman-temannya bahwa ia adalah laki-laki yang normal yang siap mengemban pekerjaan berat dan menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Tetapi yang terjadi ia gagal, ia harus istirahat selama sekitar seminggu di rumah, tidak berjalan, hanya berdiam diri dan tidur di kasur. Kaki-kakinya tidak bisa digerakkan karena terlalu lelah, dia pun harus dibawa warga secara bersama-sama ketika ditemukan di dekat perkebunan warga di lereng gunung karena tidak bisa berjalan.

Semakin menjadi miris ketika Rakal melihat teman-teman perempuan yang lain bisa berjalan dengan santainya walaupun dengan kondisi jalan yang naik. Sejak kecil memang siapa saja di kampung ini harus dibiasakan untuk berjalan jika ingin pergi, jarang terlihat kendaraan bermotor, jika ada itu pun hanya untuk digunakan mengangkut hasil perkebunan ke kota untuk dijual. Anak-anak sekolah pun jika berangkat sekolah harus berjalan, tidak ada dari mereka yang diantar kedua orang tua mereka menggunakan kendaraan bermotor. Dari kecil memang kaki-kaki mereka sudah ditempa dengan keras.

Dari kecil anak-anak di kampung sudah disiapkan untuk menggantikan pekerjaan orang tua mereka bekerja di kebun, bekerja di lereng gunung mencari kayu atau mencari tumbuhan-tumbuhan untuk dijual. Dari kecil sampai tua mereka akan terus berjalan dengan medan yang sulit di gunung, bahkan ada warga kampung ini yang sudah menginjak usia 80 tahun masih kuat untuk naik turun gunung sambil membawa kayu. Tidak tampak muka lelah di wajah mereka, tidak terlihat mereka kelelahan membawa beban di tubuhnya karena memang mereka sudah dibiasakan sejak kecil.

"Nak..Sudah lah, jangan bersedih terus nak. Ibu tidak tega jika harus melihat kamu sedih hampir setiap hari." Rakal terbangun dari kenangan masa lalunya. Tangan ibunga merangkul tubuhnya, Rakal mencoba tegar tapi tetap tidak bisa. Ini bukan pertama kalinya ibunya menasehati seperti itu, hampir tiap hari sang ibu merangkul dan memberinya nasehat untuk tetap tegar.

Dalam hati Rakal semakin menangis, dia semakin merasa tidak berguna ketika ibunya memberi nasehat, ketika ibunya mencoba menghibur. Rakal merasa memikul beban yang berat karena dia mau tidak mau harus menjadi tulang punggung keluarganya, dia anak yang paling tua sedangkan adik-adiknya masih kecil. Dia tidak mau ayah dan ibunya yang terus bekerja. Tapi lagi-lagi kaki-kakinya tidak mampu untuk membawanya ke gunung untuk bekerja dan karena itu pula dia dikucilkan warga kampung karena seharusnya seorang laki-laki harus mampu bekerja walaupun masih remaja, bekerja untuk membantu keluarga.

Akhirnya Rakal pun menyerah dengan keadaan semua ini. Menyerah untuk bekerja di kampungnya, tapi tidak menyerah untuk terus membantu keluarga. Rakal pun memutuskan akan pergi meninggalkan kampungnya untuk bekerja di kota, suatu keputusan yang sulit karena bagaimanapun juga sudah menjadi tradisi desa jika lahir di kampung ini maka harus bekerja dan mengabdi pada kampung ini juga.

Rakal sudah bertekad kuat, dia tidak peduli cibiran dari warga sekampung. Dia tidak tahan lagi, jika berada di sana sama saja dia tidak bisa berbuat apa-apa, dan dia terus dicaci oleh teman sebayanya. Sudah bulat keputusan Rakal untuk bekerja di luar kampung, bekerja dengan tidak hanya mengandalkan kaki. Sebutan kaki emas tidak akan ada dalam diri Rakal, karena dia tidak bekerja di lereng gunung yang mengandalkan kekuatan kaki untuk menghidupi. Kaki menjadi senjata utama untuk bertahan hidup, dan Rakal sekarang harus pergi meninggalkan orang-orang dengan kaki-kaki emas di kampungnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia