blogger widget
Sabtu, 24 Desember 2011

Lembaran-Lembaran Hidupku


Pagi buta aku sudah harus membuka mataku, ketika matahari masih belum menampakkan dirinya aku sudah harus mulai keluar menembus dinginnya pagi. Kaki-kakiku yang kaku harus dipaksa untuk bergerak, menyusuri jalanan yang masih sepi menuju ke tempat yang tiap hari selalu aku tuju, tempat dimana aku bisa menyambung hidupku.

"Ini buat kamu.." Seorang laki-laki berbadan tegap besar menyodori aku setumpuk koran yang sudah diikat rapi.

Dia adalah bosku, dari dia lah aku bisa makan, dari dia lah hidupku kugantungkan. Tidak hanya aku, banyak anak-anak seusiaku lainnya yang bekerja dengan bosku ini. Bekerja sepanjang hari, melupakan mimpi kami untuk bersekolah, melupakan keinginan kami untuk bisa bermain-main di usia seperti kami. Jika diluar sana anak-anak lain duduk manis di sekolah, mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Pertama, aku dan teman-teman yang lain sudah harus berpikir cara bertahan hidup.

Belum sempat aku beristirahat setelah tadi berjalan cukup jauh, aku kembali harus menggerakkan kaki-kakiku ini. Aku harus berpacu dengan matahari, harus sampai ke tempat aku menjual sebelum matahari muncul dari persembunyiannya.

Dengan nafas yang cukup terengah-engah aku mulai menawarkan lembaran-lembaran hidupku ini, "Pak korannya pak.." Tanganku juga ikut menawarkan.

Hanya gelengan kepala dan lambaian tangan saja yang aku dapat dari orang di dalam mobil itu. Dengan tersenyum aku menanggapinya dan berjalan menuju ke kendaraan lain.

Motor, mobil, dan angkutan umum satu persatu aku hampiri. Menawarkan koran-koran ini, menawarkan lembaran-lembaran informasi dan pengetahuan ini. Satu per satu koran-koran ini mulai menghilang dari tanganku, mulai berkurang beban di tanganku ini, dan kantongku mulai terisi uang-uang kertas dan receh.

Matahari sudah mulai agak tinggi, yang tadinya hanya terlihat setengah sekarang sudah mulai terlihat penuh. Ini menjadi anda buatku untuk bersiap-siap. Aku harus siap menahan sengatan panasnya yang mendarat di kulitku, wajahku tidak lama lagi akan berhias tetes-tetes keringat, telapak kakiku harus terbakar panasnya aspal yang tersengat matahari. Semua itu akan semakin menguras tenagaku, perutku ini juga belum terisi makanan apapun dari semalam. Tapi itu semua tidak berarti bagiku, aku sudah biasa menghadapi semua itu, semua itu hanya lah rintangan kecil dalam kehidupanku karena dibalik semua itu aku sangat bersyukur atas banyak hal.

"Awwww.." Kakiku ku angkat dengan segera, tumpukan koran yang aku bawa terjatuh.

Seperti biasanya aku lalai, aku tidak memperhatikan lampu di traffic light itu. Aku fokus pada orang-orang di kendaraan-kendaraan itu. Sepeda motor tanpa sengaja menyerempetku ketika lampu traffic light sudah berganti hijau dan seketika rentetat suara klakson berdengung di telingaku. Aku segera berjalan cepat dari tengah jalan dan mengambil tumpukan koranku yan jatuh,untunglah tumpukan koran
itu tidak terlindas oleh kendaraan lain.

Suasana semakin ramai,  antrean kendaraan yang berhenti di traffic light semakin banyak, semakin siang memang akan semakin ramai. Ini saat menyenangkan bagiku karena koran-koran ini akan semakin cepat terjual.

"Ini Pak korannya.." Aku memberikan satu koran pada seorang pengendara motor yang sedang menunggu lampu berwarna hijau.

"Terima kasih ya Pak.." Aku menerima selembar uang dua ribu rupiah.

Kembali aku mendapatkan pembeli, "Ini Mas korannya.." Sambil menunggu orang itu mengambil uang aku melihat lampu traffic light agar aku tidak terserempet lagi.

"Mas..mas..mas..uangnya mas.." Aku berlari kecil ketika orang yang membeli koranku tadi belum membayar. Lampu traffic light sudah hijau dan orang itu belum membayar koran yang ia beli. Sulit bagiku untuk mengejarnya dalam keadaan lampu sudah hijau.

Aku hanya membuang nafas panjang dan kembali berjalan ke pinggir jalan untuk menunggu pembeli lain. Tidak jarang memang ada orang yang membeli korang dan tidak membayarnya, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa . Setidaknya ini bukan rejekiku hari ini karena aku harus mengganti rugi koran itu dengan uang pribadiku. Sudah pasti jika begitu uang yang aku dapat berkurang, tapi tidak masalah buatku, yang penting aku masih bisa makan, aku hanya menganggap itu sebuah cobaan kecil untukku.

Aku memang hanya memikirkan hidupku sendiri karena dari kecil aku sudah tidak punya orang tua, dari kecil aku sudah hidup di jalan. Entah kemana ayah dan ibuku, aku dari kecil hanya melihat orang-orang dari jalanan, mereka lah yang merawatku seadanya.Tidak ada susu untuk pertumbuhanku, hanya air putih. Tidak ada baju yang nyaman di tubuhku, hanya baju dengan ukuran seadanya dan sobek di beberapa bagian. Dan tidak ada popok untuk menampung kotoran-kotoranku, di mana saja aku buang air, di pakaianku, di celanaku, ataupun di trotoar tempatku tidur.

Aku istirahat sejenak, mengistirahatkan kakiku yang sudah mulai lemas, mengumpulkan tenaga yang sudah mulai habis. Aku berteduh di bawah pohon yang cukup rindang di pinggir jalan, cukup untuk melindungiku dari matahari, memulai untuk melakukan hal yang sangat aku sukai. Aku mulai membuka-buka koran yang aku bawa, mulai membacanya halaman per halaman dan coba untuk memahaminya dengan susah payah.

Beruntung bagiku karena aku bisa membaca walaupun tidak sekolah, aku diajar membaca oleh seorang yang kuanggap kakakku sendiri. Walaupun sulit awalnya tetapi setidaknya sekarang aku bisa membaca dan itu menjadi hal yang paling aku suka. Karena bisa membaca itu aku sangat menikmati pekerjaan ini, aku bisa tahu banyak hal, bisa belajar walaupun tidak dari pendidikan formal, bisa banyak tahu dari anak-anak lain seusiaku. Sedikit mungkin anak-anak seusiaku yang menempuh pendidikan formal yang mau membaca koran. Setidaknya ini menjadi kebanggaanku sendiri bisa tahu lebih banyak dari mereka walaupun tetap aku sangat ingin seperti mereka yang bisa menempuh pendidikan formal.

Aku membaca dengan perlahan, mencoba memahami berita yang aku baca, berpikir tentang apa yang diceritakan dalam tulisan itu. Berbagai macam tulisan aku baca walaupun terkadang aku tidak paham yang ada di tulisan itu, tetapi aku sangat menyukainya karena aku bisa tahu banyak hal dari tulisan-tulisan di koran ini.

Setelah tenaga kembali terkumpul walaupun tidak sepenuhnya karena aku belum makan, aku kembali melanjutkan menjual sisa koran-koran ini. Masih cukup banyak tumpukan koran yang aku bawa tapi masih banyak waktu pula yang aku punya untuk menjual koran-koran ini, sampai matahari kembali menghilang dari pandanganku.

Dari lembaran-lembaran ini lah aku menggantukan hidupku, dari situlah aku bisa makan dan terus menyambung hidupku. Lembaran-lembaran itu pula yang membuatku harus mengubur mimpi-mimpiku, harus terus membayangkan betapa menyenangkannya bisa bersekolah. Walaupun begitu aku tetap bersyukur karena dari lembaran-lembaran itu aku juga bisa belajar banyak, bisa tahu banyak hal, dan setidaknya aku memiliki pengetahuan yang mungkin akan berguna bagiku kelak . Dan aku tetap berharap kembali menggali mimpi-mimpiku dan mewujudkannya serta tetap bisa belajar dari lembaran-lembaran koran ini, karena akan selalu aku ingat dari lembaran ini lah aku bisa hidup dan belajar banyak hal.

0 komentar:

Poskan Komentar

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia