blogger widget
Minggu, 11 Desember 2011

Pot, Kalung, dan Kain Hias



Seperti biasa, hari minggu adalah hari yang baik untuk berkumpul bersama keluarga.Hari dimana segala kepenatan bisa dilepaskan, sejenak tidak membebani pikiran dengan rutinitas. Begitu juga yang terjadi pada sebuah keluarga, hari minggu adalah hari yang selalu dinanti, untuk kembali merekatkan keharmonisan yang pada hari biasa sedikit berkurang keharmonisannya.

"Ayah, mau kemana ini?" Dua suara menjadi satu. Ya, kakak beradik dengan kompaknya sama-sama bertanya pada ayahnya akan kemana hari minggu ini.

"Ikut saja, asik koq." Sang ayah tersenyum lembut.

Ayah, ibu, dan kakak beradik bersama-sama pergi meninggalkan rumah mereka. Pergi untuk mencari hiburan, mencari perekat untuk keharmonisan keluarganya kembali.
"
Kerajinan Pelangi" Sang adik membaca tulisan di papan sesampainya di tempat tujuan.

Sang kakak juga ikut membaca dan segera bertanya," Mau ngapain kita yah di sini?"

Adik hanya diam saja mendengarkan, lebih senang melihat keadaan sekitar dan melihat-lihat tempat apa ini. Mencari tahu sendiri tempat apa ini, memutar otaknya untuk mencoba mengenali tempat yang baru pertama kali didatanginya ini.

" Ini tempat yang asik, nanti kalian selain senang juga tambah penngetahuan juga." Sang ayah menjawab pertanyaan.

"Masa iya bisa senang-senang yah? Lihat aja tu banyak barang-barang jelek di luar." Anak paling tua ini mengerutkan dahi, tidak terlalu suka ke tempat ini. Adiknya hanya tersenyum.

"Sudah tenang, asik koq pasti." suara perempuan yang lembut mencoba menenangkan anaknya yang terlihat tidak suka.

Mereka berempat pun segera melangkahkan kaki masuk ke dalam, melewati tumpukan barang-barang hasil kerajinan tangan. Memang tidak terlalu tertata rapi, tetapi barang-barang itu memperlihatkan keragaman dan menjadi hiasan tersendiri di depan bangunan itu. Memperlihatkan banyaknya orang yang berkunjung ke tempat ini dan belajar untuk membuat kerajinan tangan.

"Baiklah, sekarang silahkan adik-adik membuatnya, tadi kakak sudah mencontohkannya dan sekarang silahkan dicoba." Kata seorang mentor yang bertugas menuntun dan memberi contoh cara membuat kerajinan dari tanah liat.

Ya, bau tanah liat ada dimana-mana, beberapa bagian tanah ada yang jatuh di lantai, butuh kehati-hatian melangkah di lantai tempat ini. Ini adalah tujuan pertama kakak beradik untuk belajar membuat kerajinan, sang ayah dan ibu menunggui dari jauh, duduk di tempat yang sudah disediakan dan mengamati kedua anak lelakinya membuat kerajinan dari tanah liat.

"Begini adik, jangan terlalu terburu-buru, pelan-pelan aja.." Mentor mencoba membenarkan cara dari sang kakak dalam membuat pot dari tanah liat ini. Karena terlalu cepat menggerakkan tangan maka hasilnya menjadi tidak bagus, bentuknya menjadi tidak beraturan.

Sedangkan sang adik dengan sabar berusaha membuat pot, tidak jarang ada beberapa bagian tanah liat yang terlepas ketika membuatnya. Tapi bagi dia itu menjadi hal yang menyenangkan karena bisa belajar hal baru.

Walaupun sang kakak tidak terlalu menyukai membuat pot dari tanah liat ini tetapi akhirnya jadi juga pot yang tadi ia buat. Begitu pula sang adik, pot yang dia buat dengan susah payah juga sudah jadi.

Mentor mengarahkan kedua anak itu untuk beranjak menuju tempat lain. Tidak berapa lama mereka sampai ke tempat kerajinan untuk membuat berbagai macam aksesoris.

"Ini ada berbagai macam batu ya adik-adik, ada batu yang berwarna, ada batu berbagai macam bentuk, silahkan buat kalung atau gelang pakai ini." Mentor mulai mengawasi mereka berdua, membantu memberi tahu cara bagaimana memasang batu-batu itu.

Usia kedua anak itu terpaut tidak jauh, sang kakak berusia 7 tahun dan sang adik 6 tahun.  Mereka berdua pun segera memulai untuk membuat kerajinan tangan ini. Kali ini sang kakak terlihat antusias, dengan cepat dia memasang batu-batu itu. Sang adik juga terlihat mulai membuatnya.

Kedua orang tua anak itu juga masih terlihat melihat dari kejauhan, mengamati aktivitas kedua anaknya itu sambil sesekali mereka saling mengobrol.

"Ini yang terakhir ya adik-adik..." Sang mentor menunjukkan barang yang ia bawa, ada pensil, kuas, dan beragam warna cat. 

Tidak lama setelah mereka berdua selesai dengan membuat aksesoris, mereka melanjutkan untuk menghias kain dengan cat.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya selesai juga kegiatan membuat kerajinan ini. Sang ayah dan sang ibu tidak sabar melihat hasil-hasil yang dibuat kedua anaknya itu.

"Ini bapak..ibu..hasil yang dibuat mereka tadi.." Sang mentor menunjukkan barang-barang  hasil kerajinannya, ada pot dari tanah liat, kerajinan aksesoris, dan kain hias.Sang ayah dan sang ibu mengamati hasil kerajinan itu dan kedua anak itu sedang duduk istirahat di dekat mereka.

Terlihat pot dari sang kakak bentuknya tidak sempurna, berbeda dengan punya sang adik. Sang kakak membuatnya dengan terburu-buru tadi sehingga hasilnya tidak sempurna. Kemudian kalung yang dibuat si kakak terlihat bagus dan beragam, beragam bentuk dan warna batu terlihat padu menyatu. Kalung milik si adik terlihat monoton dan biasa saja ternyata tetapi hasilnya lebih rapi, lagi-lagi si adik membuatnya dengan sabar jadi lebih rapi.

Dan yang terakhir adalah kain hias yang dibuat, terlihat lagi sang kakak lebih kreatif, kain yang dihasilkan lebih bagus dengan gambar-gambar hias yang indah dan enak dipandang. Punya si adik cukup bagus walaupun tidak sebagus punya sang kakak, terlihat bagus karena cat warna terlukis rapi.

"Terima kasih ya mas atas bantuannya.." Sang ayah berpamitan dengan mentor setelah melihat hasil karya kedua anaknya.

"ohhh ya, ini barangnya saya bawa ya.." Sang ayah ingin membawa barang-barang hasil karya anaknya itu.

"Ohh ya, silahkan saja dibawa, dari pada ditinggal disini nanti semakin banyak tumpukan barang-barang itu.."Sang mentor tertawa kecil.

Sang ayah akan menyimpan hasil kerajinan yang dibuat kedua anaknya itu. Ada yang ingin ia lakukan memang dengan kedua barang itu. Barang-barang itu akan menjadikan ia bisa mengetahui bagaimana mendidik kedua anak mereka, bagaimana mengarahkan kedua anak mereka, bagaimana memanfaatkan kelebihan kedua anak mereka, dan bagaimana  memperbaiki kelemahan kedua anaknya itu. Selain itu jika kedua anaknya juga sudah cukup besar, ia akan memperlihatkan barang-barang hasil kerajinan itu agar mereka bisa mengenal diri mereka sendiri dan bisa berkembang dengan baik ke depannya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia