blogger widget
Sabtu, 17 Desember 2011

Tangan Yang Tepat


Suara mesin terus meraung-raung di telingaku, andai saja aku tidak biasa mendengar suara ini sudah pusing kepalaku pastinya. Hampir tiap hari aku terus mendengar suara mesin-mesin itu, suara dari berbagai macam mesin, ada mesin mobil, mesin truk raksasa pengangkut pasir, ada pula suara mesin traktor yang meraung dengan keras.

Ya aku sudah biasa dengan semua suara ini, hampir tiap hari aku diajaknya ke pertambangan milik ayahku ini. Pertambangan yang besar dan terbilang sukses di negeri ini. Dengan kerja kerasnya ayahku berhasil merubah tempat yang dulunya hanya tempat yang biasa saja kini menjadi tempat sumber utama mencari nafkah bagi warga di kotaku. Ayahku memang lebih suka memakai orang lokal untuk menjadi pegawai di pertambangannya, hasilnya pun sangat baik karena pertambangan milik ayahku ini menjadi perusahaan yang sangat sukses.

Tiap hari aku melihat bagaimana mereka bekerja, bongkahan batu diangkut dengan kendaraan berat, tumpukan pasir diangkut dengan truk-truk yang berukuran tidak normal. Lahan hijau tidak terlihat sejauh mata memandang, hanya tanah-tanah gersang yang tampak. Itulah yang selalu aku liat ketika ayahku mengajakku ke tempat ini.

Tidak terbayang memang ketika aku berada di kantor ayahku, melihat album foto-foto masa lalu. Melihat bagaimana daerah pertambangan ini dulunya, hanya ada kumpulan pohon-pohon tinggi, ada beberapa dataran yang tinggi pula membentuk suatu bukit-bukit kecil. Tidak terpikir olehku bagaimana ayahku bisa merubahnya seperti ini sekarang, bagaimana ribuan orang bekerja di pertambangan yang luas ini, bagaimana mereka bisa bekerja dengan tugasnya masing-masing, menjadikan perusahaan milik ayahku ini berkembang pesat dan sukses.

Ayahku benar-benar bisa membaca potensi yang dimiliki daerah ini, hanya karena pertambangannya, sekarang di sekitar daerah ini mulai banyak muncul usaha-usaha lainnya. Dari mereka yang mengambil sisa-sisa tambang dan membuka usaha sendiri, misalnya membuat barang-barang hiasan dari emas, tembaga dari sisa-sisa pertambangan. Potensi daerah ini memang dimanfaatkan benar oleh ayahku ini, di tangannya daerah yang memiliki potensi hebat ini ternyata berubah menjadi daerah sumber uang dan sumber penghidupan bagi warga di kotaku ini.

Pernah suatu waktu aku ikut pergi bersama ayahku ke daerah lain untuk melihat pertamabangan milik perusahaan teman ayahku. Aku melihat perbedaan yang sangat besar, melihat bagaimana daerah yang seharusnya bisa dimanfaatkan sebaik mungkin tetapi tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh teman ayahku itu. Melihat lokasi pertambangannya saja aku sudah malas, semua tidak tertata rapi, banyak limbah-limbah berserakan dimana-mana, daerah hijau pun tidak ada padahal sangat penting daerah hijau di lokasi sekitar pertambangan apalagi jika memang sudah tidak digunakan lagi seharusnya ada daerah hijau sebagai ganti dari pohon-pohon yang ditebang dulu.

Akibat dari semua itu daerah sekitar pun tidak berkembang, tidak ada warga sekitar yang ingin membuka usaha di sekitar tambang. Para pekerja pun terlihat tidak bersemangat seperti para pekerja perusahaan ayahku. Mereka hanya berfokus pada uang, bagaimana bisa bekerja untuk menghasilkan uang bagi diri mereka sendiri. Berbeda dengan para pekerja di pertambangan ayahku, suasana kekeluargaan memang sudah ditanamkan oleh ayahku pada para pekerjanya, bisa terbayang bagaimana menyenangkannya bekerja dalam suasana kekeluargaan.

"Nak..!!" Aku seketika terbangun dari perjalanan kenanganku. Foto album segera aku tutup dan segera mengalihkan perhatian pada ayahku yang baru saja masuk.

"ikut ayah yuk." Belum sempat bertanya dan baru saja menoleh ayahku sudah mengajak aku pergi.

Kami berdua pun pergi, entah akan dibawa kemana aku. Aku hanya diam saja, mengikuti langkah kaki ayahku, hanya melihat-lihat suasana sekitar pertambangan.

Tidak berapa lama aku sampai di toko-toko kecil di luar pertambangan. Toko-toko kecil milik warga sekitar yang mengambil sisa-sisa barang tambang seperti emas untuk dijadikan hiasan. Ayahku tidak mempermasalahkan jika mereka mengambil hasil tambang miliki perusahaan tambang milik ayahku ini, toh itu semua hanya sisa-sisa hasil tambang yang tidak tersaring dengan baik.

"Selamat pagi pak.." Senyum manis sang penjaga toko menyambut ketika ayahku masuk ke salah satu toko.

Ayahku hanya tersenyum dan melihat-lihat hiasan yang dijual. Ayahku memang menjadi orang yang dihormati dan disegani, tidak hanya di perusahaan tambangnya tetapi warga sekitar juga menghormatinya. Aku juga melihat-lihat hiasan yang ada, ada cincin, kalung, ada gelas berhias emas dan perak, ada pula pajangan emas. Cukup bagus bila dilihat, apalagi dibuat dari hasil sisa tambang yang kualitasnya tidak sebagus biasanya.

Lalu aku diajak ke toko lain dan kali ini ke toko yang paling laris dan paling banyak pembelinya. Dan ternyata kali ini aku dibuat kagum oleh barang-barang yang dijual, memang benar hasil yang dibuat lebih bagus dari toko yang pertama aku datangi tadi. Misalnya saja cincin dari emas yang dibuat, begitu halus dan tidak terlihat itu dari emas sisa tambang. Belum lagi beberapa gelas dari perak yang memiliki bentuk yang indah.

Aku penasaran mengapa barang-barang disini bisa terlihat bagus dan pembuat barang-barang itu hanya berkata, "Ya mau pakai apapun buatnya ya yang lebih penting adalah siapa yang membuatnya." Aku hanya diam dan terkagum-kagum. Memang benar dengan bahan baku sisa tambang yang sama dengan toko yang sebelumnya aku kunjungi ternyata hasil di toko ini lebih bagus dan itu karena pembuatnya juga berbeda, jadi memang tergantung pada pembuatnya ternyata.

Kemudian aku kembali memutar otakku, berpikir lagi, mengapa ayahku mengajakku kesini dan mengajakku tidak hanya ke satu toko saja, dan aku juga sekilas teringat saat melihat foto album serta ingat kenanganku saat berkunjung ke perusahaan lain. Sejenak berpikir dan ternyata aku sadar bahwa ayahku bermaksud untuk memberi tahu seperti apa ayahku ini, menegaskan bagaimana sosok seorang ayahku ini. Ini menjadi pembelajaran yang sungguh luar biasa bagiku tentunya.

0 komentar:

Posting Komentar

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia