blogger widget
Jumat, 25 November 2011

Pembicaraan Hangat Tentang Impian


"Hakim hebat siap datang, tunggu beberapa tahun lagi.." Tawa kecil menyertai kata-kata dari Lucas, seorang anak berusia 15 tahun dengan impian menjadi seorang hakim.

"Ahhh kakak ini.emang bisa? adek lihat kakak kerjaannya cuma main aja koq." Sang adik Robert menyangkal ucapan kakaknya.

Angin bertiup sepoi-sepoi, udara cukup dingin di teras rumah sederhana, matahari perlahan mulai memperlihatkan dirinya setelah semalam bersembunyi dan tidak menampakkan dirinya. Pagi itu minggu hari Lucas dan Robert sedang menikmati hari libur mereka. Bagi Lucas sang kakak hari ini sama seperti hari biasanya tetapi bagi Robert ini merupakan hari yang dimanfaatkan betul untuk istirahat karena hari-hari biasanya dia penuh dengan kesibukan.

Hanya berbeda usia 1 tahun tapi ada perbedaan besar antara kedua kakak adik yaitu sang adik lebih rajin dari sang kakak. Walaupun begitu ada juga persamaan di antara mereka, mereka berdua sama-sama punya mimpi dan impian besar untuk masa depan mereka. Jika Lucas ingin menjadi seorang hakim, Robert ingin sekali menjadi seorang ilmuwan.

"Nih, ayah bawakan minuman." Suara berat dan terdengar berwibawa.

Robert dan Lucas segera menoleh ketika mendengar suara ayahnya dan tersenyum ketika ada dua gelas teh hangat di nampan kecil yang dibawa ayahnya.

"Ayah.ayah, aku belikan buku tentang roket donk yah.." Robert membuka pembicaraan hangat di minggu itu.

Sang ayah hanya menganggukkan kepalanya, sudah biasa sang ayah membelikan buku pengetahuan
untuk anaknya Robert. Dengan penghasilan sebagai sastrawan serta guru besar di Universitas ternama tentu lebih dari cukup untuk membelikan anaknya buku.

"Kamu mau dibelikan juga Lucas? Buku tentang hukum.Mau?" Tidak lupa ayah menawarkan juga pada sang kakak.

"Enggakkk ah yah.."Lucas sambil menggelengkan kepalanya.

"Yauda.." Sudah biasa sang ayah mendengar jawaban itu ketika menawarkan Lucas untuk dibelikan buku.

Tiba-tiba Robert dengan cepat langsung berbicara menyela, " Kakak, kalau kakak nggak mau baca buku gimana mau jadi hakim hebat kak? Tiap hari cuma ngomong mau jadi hakim hebat tapi nggak berbuat apa-apa." Sang adek berbicara dengan sedikit jengkel.

Sang kakak menjawab dengan tenang dan santai, "Tenang aja dek, kan di sekolah juga ada sedikit pelajaran tentang hukum jadi ya kan udah dari sekarang kakak udah mulai belajar hukum, itu sudah bagus lho."

Sang adek kembali berbicara," Tapi kan kak, kalau memang mau jadi hakim yang hebat dari sekarang juga sudah mulai usaha yang keras kak, usaha apa aja kan bisa yang penting bisa jadi modal buat nanti ke depan kak." sang adek  justru terlihat lebih bijak, ini merupakan hasil dari kebiasaan Robert yang suka membaca buku, berbagai macam buku, tidak hanya buku-buku pengetahuan.

"Ahhh,,adek itu..cerewet banget sih..." sang kakak mulai marah.

"Sudah..sudah..jangan bertengkar  gitu." Sang ayah langsung menyela dan menengahi perdebatan mereka
berdua.

Dengan bijak sang ayah coba memberi nasehat, "Lucas..benar juga apa yang dikatakan adikmu itu, kalau punya impian apalagi itu impian yang besar memang harus berusaha keras. Dimulai dari ketika kamu mulai bermimpi dan bercita-cita, dari situlah kamu harus memulai juga untuk berusaha keras." Sang ayah berhenti sejenak, membelai rambut kedua anaknya.

Lucas dan Robert mendengarkan dengan baik nasehat ayahnya itu, "Jadi jangan cuma bicara aja kamu mau jadi ini, kamu mau jadi itu, cuma bicara hal-hal atau impian besar tapi tidak ada usahanya. Lakukan usaha apa aja yang bisa menunjang dan membantu kamu mewujudkan impian kamu."
"Iya yah.." Lucas dan Robert menjawab bersama-sama.

Sambil merangkul kedua anaknya dengan pemandangan matahari terbit di depan rumahnya itu sang ayah terus memberi nasehat. Seperti matahari yang sedang terbit, semangat Lucas dan Robert kembali muncul, semangat Lucas untuk mewujudkan impiannya mulai terbit seperti matahari yang perlahan terbit.

"Ingat ya nak. Impian yang besar itu tidak ada gunanya kalau tidak ada usaha dibaliknya. Impian besar itu bukan hanya sekedar impian saja, bukan hanya sekedar kata-kata saja. Jika memang sudah bermimpi dan punya impian besar maka harus siap untuk mewujudkannya dengan usaha keras. Ketika kamu sudah mulai memikirkan impian besar kamu ke depan, maka saat itu lah kamu harus mulai untuk berusaha keras untuk mewujudkannya."
Kamis, 24 November 2011

Tentang Laut dan Kehidupan


Ombak laut bergerak dengan kecepatan penuh menuju pantai, lajunya tidak bisa dihentikan, tetapi sesaat kemudian laju ombak terhenti secara mendadak ketika menghantam sekumpulan batu besar yang tidak tertata rapi. Batu-batu karang besar di pantai yang selalu menjadi penghenti gerakan ombak laut yang seenaknya sendiri, tapi itu lah yang selalu terjadi. Ombak akan selalu menghantam batu-batu itu, selalu menghasilkan suara khas hasil dari tubrukan ombak dan batu, suara yang selalu mengingatkan bahwa itu suara di pantai ketika siapa saja mendengarnya.

Angin bertiup kencang, tidak peduli ada apa di pantai, semua yang tidak berbobot pasti akan terhempas oleh tiupan angin pantai. Tapi ternyata itu tidak berlaku bagi manusia, dua orang manusia sedang asyik berdiri menatap ke arah laut, berdiri dengan tegak tanpa terganggu oleh tiupan angin pantai.

"Anakku, sudah saatnya kamu ayah kenalkan dengan apa yang ada di laut."

Dua manusia itu adalah ayah dan anak yang hidup dari laut, hidup dengan mengandalkan kekayaan yang dimiliki laut. Seorang laki-laki berbadan tegap dan sedikit atletis, dan tentunya dengan kulit berwarna hitam, dia lah sang ayah yang merupakan seorang nelayan berpengalaman. Dengan tinggi yang lebih pendek dari sang ayah, seorang anak berusia 10  tahun yang mempunyai tanggung jawab besar untuk melanjutkan pekerjaan ayahnya.

"Kamu nanti ayah ajak ke tengah laut, kita lihat apa saja yang ada di laut dan di situlah kamu nanti akan belajar dan hidup."

Senyuman bahagia terpancar dari wajah sang anak, dengan penuh semangat dia berlari ke arah perahu yang tersandar di pantai, "Ayo ayahh..buruan..udah tidak sabar yah aku.."

Ayah segera menyusul menuju ke kapal, mereka berdua lalu mendorong perahu mereka yang sengaja dibuat terdampar di pantai karena tidak ada dermaga di pantai itu.

Dengan tenaga dari semangat sang anak kapal itu berhasil menembus ombak laut yang cukup besar, membawa kapal perlahan bergerak menuju tengah laut. Perahu kayu yang sederhana, dengan mesin yang terlihat berkarat di beberapa bagian, dan terlihat genangan di dalam perahu kayu itu segera melaju perlahan menuju ke laut lepas.

"Nanti kamu kalau sudah mencari hasil laut sendiri yang terpenting itu kamu harus tau banyak tentang ombak,  kamu tidak bisa melawan ombak, kamu harus bisa berdampingan dengan ombak. Di balik keindahan ombak laut itu dibaliknya ada bahaya besar yang mengancam, sedikit saja tidak berhati-hati ombak siap menelan kamu hidup-hidup." Sang ayah sambil memegang kemudi sederhana di belakang perahu untuk membuat laju perahu stabil.

"Ohhhh, iya ayah.." Sang anak menganggukkan kepala sambil melihat ke arah laut lepas di depannya.

Tidak butuh waktu yang lama, mereka berdua sudah sampai di tempat yang ingin dituju, ombak tidak terlalu besar dan angin bertiup tidak terlalu kencang. Sang ayah segera menurunkan jangkar sederhana yang sudah berkarat ke dalam laut, memastikan perahu kayunya tidak terombang-ambing di laut.

"Anakku, ikutin ayah ya." Ayah menceburkan diri ke laut dan segera menyelam. sang anak segera mengikuti sang ayah.

Hanya beberapa menit di dalam karena keterbatasan nafas mereka berdua keluar dari dalam laut menuju ke pinggiran perahu kayu untuk berpegangan. " Ini anakku, ini salah satu yang harus kita cari kalau melaut, ini sangat bermanfaat dan harganya juga tidak terlalu murah." Ayah memperlihatkan dan memberikan hewan laut itu pada anaknya.

"Aduh ayahh. tapi ini bentuknya jelek yah, masa ini laku yah??namanya apa ini?" Terheran-heran dengan bentuk hewan laut ini.

"Anakkuuu, ini namanya teripang , walaupun bentuknya jelek begini tapi manfaatnya luar biasa, di balik bentuknya yang jelek di dalamnya ada manfaat yang bagus anakku, ini bisa buat salah satunya mengobati penyakit tekanan darah tinggi, jadi harganya juga lumayan."

"Ohhhh.." Sang anak mengiyakan penjelasan ayahnya.

Teripang yang di dapat tidak mudah itu diletakkan di perahu dan sang ayah tidak ikut menyelam kembali. Kali ini sang ayah membiarkan anaknya untuk menyelam sendiri karena ia percaya dan yakin anaknya sudah mampu.

Tidak berapa lama keluar sang anak, "Aduhh yahh..gatal-gatal ni yah.." Tangan sang anak terus menggaruk-garuk leher dan beberapa bagian di tangannya yang gatal.

"Kamu kenapa?kena ubur-ubur ya?" Sang ayah menarik anaknya ke perahu.

"Iya yah, tadi aku liat bentuknya bagus yah, selain itu terlihat menarik yah hewan itu, tapi kenapa jadi gatal-gatal gini ya yah?" Sang anak terus menggaruk-garuk.

"Anakku, ini buat pelajaran buat kamu, memang ubur-ubur itu bentuknya bagus tapi kamu harus tahu kalau ubur-ubur itu beracun, salah satunya ya bisa buat gatal-gatal itu. Jadi jangan sembarangan juga, di laut banyak hewan atau tumbuhan yang indah tapi dibalik itu semua kamu harus hati-hati bisa jadi mereka semua beracun."

"Ohhh gitu ya, aku kurang tau kalau ubur-ubur itu ternyata beracun, terus ini gimana?"

"Yauda kita pulang aja, kita obatin dulu aja, lain kali hati-hati ya, ini buat pelajaran juga buat kamu."

Ayah segera menyalakan mesin perahunya dan bergegas menuju kembali ke pantai. Di perjalanan pulang sang ayah memberikan nasehat-nasehat pada anaknya tentang laut.

"Jadi begini nak, apa yang ada di laut kamu harus tau semua, ada yang bentuknya bagus ada pula yang bentuknya jelek. Hewan maupun tumbuhan yang punya kelebihan dari bentuknya tentunya ada yang memiliki kekurangan juga, sebaliknya juga nak, hewan atau tumbuhan dengan kekurangan dari segi bentuk pasti ada kelebihannya juga.  Contoh saja tadi teripang dan ubur-ubur, jadi kamu harus tau dibalik kelebihan itu selalu ada kekurangan dan dibalik kekurangan itu selalu ada kelebihan juga." Sang ayah berhenti sejenak.

Kembali nasehat sang ayah dilanjutkan, kali ini menyambungkannya  dengan kehidupan, "Jadi jangan sedih kalau kamu punya kekurangan, dibalik itu kan kamu punya kelebihan jadi harus dicari kelebihan itu. Lalu jangan juga terlalu sombong dengan kelebihan yang kamu punya, karena kamu juga harus ingat ada kekurangan dibalik semua itu. Tinggal bagaimana kamu memperlakukan kelebihan dan kekuranganmu itu, ingat ya nak.." sang anak diam dan terlihat tersenyum dengan nasehat dari ayahnya itu, perahu pun terus melaju ke arah pantai.

Rabu, 23 November 2011

Hujan dan Cerah


Awan hitam perlahan merangkak di langit, petir dan kilatan cahaya senantiasa menemani ke manapun awan hitam ini bergerak. Awan hitam di langit tiba-tiba mendadak diam, terlihat titik-titik air yang terjun bebas dari langit, titik-titik air yang semakin banyak dan akhirnya menyatu menjadi satu kesatuan yaitu hujan.

" Ayah! Hujannn..." Kepala mungil keluar dari jendela mobil dan melihat ke arah langit..

"Kepalanya jangan keluar nak, bahaya, ditutup jendelanya, biar tidak masuk airnya."

"Koq bisa hujan ya yah?" Sang anak menoleh ke arah ayahnya begitu selesai menutup jendela.

"Ya bisa donk." Ayah tertawa kecil.

"Ahhhhh..ayahhh..kenapa?kenapa?kenapa??" Rasa penasaran seorang anak kecil berusia setengah dasawarsa begitu menggebu-gebu.

Kali anak sang ayah hanya diam saja dan memperhatikan jalan. "Kenapa?kenapa yahh??" Tangan kecil sang anak menarik-narik kaos ayahnya.

"Ya bisa..Udah lah, kamu dari tadi berangkat sampai sekarang tu tanya-tanya terus, nggak capek kamu?"
Anak itu hanya diam, tetapi beberapa detik kemudian, "Itu kenapa yang situ langitnya nggak hitam??" Anak itu menunjuk ke arah langit.

Belum sempat dijawab suara petir tiba-tiba menggelegar di langit seakan membentak sang anak agar diam. Anak itu langsung menutup kedua telinganya dengan cepat.

"Yauda ayah jawab deh.." Mata sang ayah melihat ke arah anaknya dan tangannya membelai rambut panjang anaknya, rambut yang memperlihatkan kecantikan anaknya itu.

Tidak ada reaksi apa-apa dari anak itu, dia hanya diam saja dan melihat ke arah luar, melihat ke arah lampu lalu lintas yang berwarna merah terang. " Jadi mau dijawab nggak?" Sontak pandangan sang anak berubah menuju ke ayahnya, "Iya jadi jadi..." Dengan penuh semangat.

Tawa kecil lah yang pertama muncul dari mulut sang ayah, anak itu hanya diam dan terus melihat ke arah ayahnya. Baru setelah itu kata-kata yang keluar dari mulut sang ayah, "Begini anakkuu..Kenapa tempat yang mau kita tuju itu langitnya cerah.." Ayah sambil menunjuk ke arah langit sambil matanya melihat ke arah lampu lalu lintas, menunggu isyarat untuk kembali jalan.

Sang ayah kembali melanjutkan, "Dunia ini adil nakk." Berhenti sebentar, tangan sang ayah mengganti gigi mobil dan mulai menjalankan pelan mobilnya karena mobil di depan sudah mulai menjauh.
Sang ayah kembali melanjutkan, "Dunia atau bumi ini adil nak, tau kalau kita mau ada outbond di sana jadi dibuat lah cerah tempat yang mau kita tuju.." Kembali tawa kecil keluar dari mulut ayah.Anak itu hanya diam dan tersenyum kecil.

" Ya walaupun terlihat tidak bagus langitnya, yang daerah sana cerah lalu yang daerah sini gelap tapi itu karena adil, tau mana yang butuh hujan tau mana yang tidak butuh hujan." Dengan bijak dan percaya diri sang ayah menjawab.

Mata anak itu kembali melihat ke arah luar, melihat keadaan luar yang dibasahi air yang turun dari langit, "Ayah..ayah..berarti anak-anak itu lagi butuh hujan ya??tapi kan kasian mereka jadinya basah gitu.." Tangan mungil sang anak menunjuk ke arah kumpulan anak sekolah dasar yang berjalan pulang dibawah guyuran hujan yang deras.

Ayah diam saja, mencoba memutar otak untuk mencari pembenaran dari jawabannya tadi, dalam hati ayah berbicara "Wah kenapa tanya gitu? pintar juga anakku ini.." senyuman menghias wajah sang ayah.
Seakan tidak mau kalah dari anak kecil dan ingin terlihat pintar di depan anaknya, ayah kembali menjawab, " Ya bukannya butuh, mereka ingin buru-buru pulang mungkin, sudah lah dunia itu adil, mereka mungkin aja butuh hujan itu.." Kembali tawa kecil terdengar dari mulut ayah.

"Ooooo..begitu ya.." Sang anak mengangguk-angguk, yakin dengan jawaban ayahnya.

Suasana menjadi hening, hanya suara hujan yang terdengar, suara yang tidak beraturan dan tidak bernada, suara yang muncul karena air turun di atas mobil.

"Wahhh..udah cerah ni yah.." Kembali sang anak mengoceh ketika melihat ke arah langit dan langit sudah cerah. Ayahnya hanya diam dan menganggukkan kepalanya

Sang anak kemudian melihat ke arah belakang, melihat ke arah jalan yang sudah dilaluinya. Terlihat daerah yang sudah dilewatinya masih ada awan hitam yang menyelimuti. Kepala anak itu kembali menoleh ke depan untuk melihat langit yang cerah, beberapa kali menoleh ke belakang dan ke depan untuk melihat ke arah langit, melihat perbedaan awan yang hitam dan putih cerah, membandingkan daerah yang dia lewati sekarang tidak hujan dengan daerah yang sudah dilewatinya masih turun hujan.

"Hebat juga ya yah bisa gini.." Anak itu terkagum-kagum sambil melihat dan menoleh berulang-ulang ke arah langit.

"Iyaa nak, adil yang pasti, kan kita mau outbond kan jadi ya harus cerah donk daerah kita."

"tapi kalau di sana hujan terus ada yang mau outbond gimana? kan nggak adil yah." Sang anak membandingkan dengan daerah yang baru dilewati.

"Tapi di sana kan tidak ada tempat outbond." Sang ayah tertawa kecil dan sok tau agar sang anak tidak bertanya lagi.

Anak perempuan kecil dengan sejuta pertanyaan itu terlihat sangat menikmati perjalanannya, menikmati hujan dan menikmati cuaca cerah yang dia lalui sekaligus, terus mencoba untuk bertanya banyak hal kenapa terjadi  perbedaan yang mencolok. Di satu daerah turun hujan lebat dan di daerah lain tidak turun hujan sama sekali, bahkan terlihat jelas perbedaannya jika melihat ke arah langit, awan hitam dan langit cerah biru terlihat kontras.

Raut wajah sang anak tiba-tiba terlihat serius, matanya menatap tajam ke arah luar. " Ayah ayah...itu kenapa ada rumah yang jelek terus di depannya ada rumah yang bagus dan besar yah? biar adil ya yah itu??"

Sang ayah segera melihat ke arah rumah-rumah itu, mukanya juga berubah serius. Kembali anak itu bertanya, "Iya yah??berarti itu adil ya yah? berarti orang yang tinggal di rumah yang jelek itu memang butuh rumah itu ya? memang ingin rumah itu ya yah? padahal kan enak tinggal di rumah yang besar itu yah, pasti mau apa aja ada, tapi kenapa ada yang mau tinggal di rumah jelek itu yah, kenapa ada yang butuh tinggal di rumah jelek itu yah,kan nggak enak."

Belum sempat menjawab anak itu kembali bertanya, "Berarti itu adil ya yah?" Sang anak seperti menagih kembali jawaban adil dari ayahnya tadi.Anak itu sendiri tidak bermaksud mempertanyakan kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat, tidak mungkin dan tidak mampu anak seusia dia mengerti akan hal itu.
Sang ayah sekarang hanya diam saja dan memilih tidak menjawabnya..
Selasa, 22 November 2011

Kotak Perkakas


Sebuah kotak perkakas tua berdebu tergeletak di sela-sela tumpukan kayu lapuk. Sarang laba-laba menjadi dekorasi kotak perkakas, tidak ketinggalan beberapa laba-laba kecil terlihat tidak bergerak di sarangnya itu. Warna coklat tua lapuk semakin memperlihatkan betapa tuanya kotak perkakas itu.

"kamu tidak apa-apa nak??!!!" Teriak seorang wanita dari kejauhan ketika mendengar suara keras dari benda yang berjatuhan. Kayu-kayu lapuk dan beberapa benda tua lainnya jatuh begitu seorang anak usia sangat muda membuka pintu cukup besar yang masih terlihat kokoh.

Gudang tua, itulah tempat yang menjadi tujuan dari sang anak itu. Gudang tua yang terletak di belakang rumah sederhananya.

"Iya bu, cuma kayu yang jatuh aja koq.." Teriak anak itu

Tanpa berlama-lama anak itu berjalan menuju ke kotak perkakas tua itu. Sudah tidak asing lagi letak kotak perkakas itu karena sebelumnya dia pernah ke gudang di rumahnya itu hanya saja kotak perkakas itu tidak pernah diambil. Ditiupnya kotak perkakas itu dari debu-debu sambil pelan-pelan dibawa menuju ke luar gudang.

"Ini buat apa ya??" Tanya anak itu dalam hati ketika dia mengambil palu dari kotak perkakas. Palu yang masih terlihat kuat, pegangan dari kayu yang masih utuh memperlihatkan palu yang masih kuat untuk menancapkan sebuah paku.

Tanah di halaman dekat gudang menjadi sedikit berubah bentuk, dari yang tadinya datar menjadi sedikit cekung ketika sang anak menghantamkan palu tua itu ke tanah. Beberapa kali palu menghantam tanah dengan cukup keras, beberapa pecahan tanah terhempas dan terlempar jauh dari tempat asalnya. Sang anak segera mencari lagi alat di kotak perkakas itu dan dia mengambil obeng yang cukup besar.

Dengan cepat obeng langsung ditancapkannya ke tanah cukup dalam, hampir setengah badan dari obeng tertancap di tanah. Sang anak mencoba mencongkel tanah itu menggunakan obeng, dengan tenaga seorang anak sekolah dasar yang masih kelas 1 tentu saja usahanya itu gagal. Anak itu tidak punya tenaga yang cukup kuat untuk mencongkel tanah dengan kepadatan yang baik itu, obeng lalu perlahan sedikit dinaikkan dan menjadikan obeng sekarang hanya sebagian badan saja yang ada di tanah. Tidak butuh tenaga yang banyak tanah dengan mudahnya berhamburan keluar.

Lagi, sang anak menancapkan obengnya ke tanah, kali ini obeng diapakai untuk menggali tanah. Dengan cepat tangan sang anak menancap keluarkan obeng dari tanah berkali-kalidan menjadikan tanah tidak menyatu lagi, beberapa bagian tanah berserakan kemana-mana. Dengan cepat anak sang anak melihat ke arah kotak perkakas lalu mengambil gergaji kecil yang berkarat.

Gergaji kecil berkarat itu digunakannya untuk mengambil tumpukan tanah yang sudah tidak menyatu lagi. Setelah tanah dipindahkan tangan kanan sang anak kembali menancapkan obeng dan mengulangi yang dilakukan sebelumnya lagi. Tangan kanan dengan obeng merusak kesatuan tanah dan tangan kiri dengan gergaji kecil mengambil tanah itu dan memindahkannya.

Alat-alat perkakas yang tidak digunakan sesuai fungsinya itu memang menyulitkan sang anak untuk menggali tanah yang memang merupakan tujuan utamanya itu. Menggali tanah dan menanamnya dengan bibit tanaman yang sudah dia persiapkan.

Kalau saja alat-alat perkakas itu manusia pasti mereka sudah protes, sudah mengumpat dalam hati, " Bodoh sekali ini anak!! Aku kan palu kenapa buat memukuli tanah??!!!" Belum lagi obeng dan gergaji kecil pasti juga tidak terima dengan perlakuan sang anak itu. Tapi mereka hanya lah benda mati yang tidak bisa merasakan apa-apa, tidak bisa berbuat apa-apa.

"Nak!!!" Sang anak terkaget mendengar suara ibunya dengan nada yang tinggi itu.

Sang anak hanya melihat ke arah ibunya yang berdiri di depannya tanpa berkata apa-apa. Sang ibu menatap anaknya itu, " Kamu menggali tanah kenapa pakai alat itu?? kalo mau menggali tanah pakai cangkul kecil yang ada di gudang."

Sang anak hanya diam dan menganggukkan kepalanya, sang ibu mulai duduk dekat dengan sang anak sambil memegang palu dan gergaji kecil," Ibu kasi tau ya nak, palu ini fungsinya bisa buat menancapkan paku, terus gergaji kecil ini buat memotong kayu nak." Sang anak kembali menganggukkan kepalanya lagi.

Sang ibu hanya tersenyum melihat anaknya itu, dia bisa maklum jika anaknya belum banyak tahu karena dia juga masih muda. " Ingat ya anakku, kalau alat-alat itu dipakai sesuai fungsinya alat itu jadi bisa berguna, jadi kalau sudah tau mau berbuat apa cari alat yang pas, cari alat yang emang berguna buat apa yang mau kamu lakukan. Ini sekalian nasehat buat kamu, kalau nanti besar mau sukses kamu harus tau mau jadi apa kamu,lalu kenali diri kamu sendiri biar nantinya kemampuan yang kamu punya bisa berguna buat cita-cita yang kamu ingin capai anakku..." Sang ibu tersenyum dan memeluk anaknya.

Koin Hidupku


Langkah kaki kecil berjalan menyusuri jalan raya dengan hiruk pikuk suara kendaraan, tak ketinggalan panas matahari menambah panas suasana di jalanan yang ramai itu. Tanpa alas kaki Resa berjalan mondar mandir di sekitar trafic light, berjalan menghampiri kendaraan yang berhenti menunggu isyarat dari lampu lalu lintas untuk kembali berjalan. Tanpa alas kaki dengan santainya Resa berjalan di atas jalan aspal yang terus tersengat sinar matahari, berjalan dari hari ke hari yang menjadikan kulit kaki Resa kebal terhadap aspal jalan yang panas. Kulit hitam Resa juga memperlihatkan betapa ia setiap hari ada di jalan itu, mencari koin-koin kehidupan dari jalanan.

“Terima kasih om..” Resa membawa gitar kecilnya dan kembali berjalan ke kendaraan lain sambil sekilas melihat ke arah lampu lalu lintas, memastikan tidak mengganggu kelancaran jalan raya.

Resa tersenyum dan menganggukkan kepalanya ketika menghampiri seorang yang sedang duduk nyaman di mobil. Dengan sikap tidak peduli orang di dalam mobil itu melambaikan tangannya ke arah Resa  untuk memberi tanda tidak akan ada uang koin yang keluar lewat jendela mobil. Tidak mudah bagi Resa mendapatkan koin-koin untuk menyambung kehidupannya.

Menjadi rutinitas menghitung-hitung koin yang ia dapat saat matahari tepat berada di atas kepala, menyisihkannya untuk membeli sesuap nasi untuk makan siangnya, makan yang mungkin hanya untuk satu kali selama satu hari itu.

“Nih buat kamu..” Resa menyodorkan nasi bungkusnya pada seorang anak kecil yang duduk lemas di trotoar.

Sudah menjadi pemandangan biasa banyak pengemis maupun pengamen kecil yang memenuhi jalan raya utama kota itu, mereka selalu ada dari pagi sampai malam hari. Pada siang hari anak-anak itu berkumpul di trotoar jalan yang cukup besar untuk bersama-sama istirahat sejenak dan makan. Banyaknya kumpulan anak-anak di siang hari itu membuat mereka bisa dijadikan dalam satu kelas di sebuah sekolah sebagai siswa untuk mengeyam pendidikan, tetapi sayang kumpulan anak-anak itu hanyalah sekumpulan anak jalanan dengan impian untuk bersekolah. Resa pun selalu terlihat dalam kumpulan itu, ikut bercanda bersama anak-anak jalanan itu, sama-sama punya mimpi yang besar untuk masa depan, sama-sama ingin untuk bersekolah, dan sama-sama ingin mewujudkan cita-cita.

Ayah dan ibu Resa yang sakit membuatnya harus putus sekolah saat dia duduk di kelas 5 SD dan sudah 2 tahun setelah putus sekolah Resa ikut membantu kakaknya yang juga sebagai pengamen untuk menghidupi keluarga mereka. Tidak hanya untuk makan sehari-hari, mereka berdua juga mengumpulkan uang untuk membiayai pengobatan bapak dan ibunya.

Tak terasa matahari sudah hilang dari pandangan, cahaya lampu jalan mulai menerangi menggantikan cahaya matahari. Resa berjalan lemas menuju rumahnya yang tidak jauh dari tempat dia mengamen. Berjalan perlahan membawa gitar kecilnya sambil menghitung koin-koin receh yang ia dapat tadi.
“Ini buat makan bapak sama ibu.....Ini buat aku tabung, buat beli obat...” Tangan Resa membagi uang koin yang ia dapat dan menaruhnya di kantung yang berbeda.

Sebelum pulang Resa membeli nasi bungkus untuk makan malam Bapak dan ibunya. Mengorbankan makan malamnya untuk bapak dan ibunya, uang makan malamnya ia sisihkan untuk ditabung membeli obat untuk kedua orang tuanya itu. Sudah menjadi hal yang biasa bagi Resa jika ia harus makan satu kali dalam sehari, itu pun dia hanya makan sedikit karena dia berbagi makanan juga dengan anak jalanan lain. Tubuh kurus kering, rambut merah karena matahari, dan kulit hitam dan kering menjadi gambaran nyata betapa kerasnya kehidupan jalanan hanya demi koin-koin receh untuk kehidupan.

Begitu tiba di rumah sangat sederhananya Resa segera merawat kedua orang tuanya dan beristirahat untuk bersiap menjalani hari esok. Menjalani lagi kerasnya kehidupan jalanan demi koin untuk menyambung hidupnya, koin yang bagi Resa sangatlah berharga dan berharap bisa merubah kehidupannya dari koin-koin itu.

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia