blogger widget
Rabu, 23 November 2011

Hujan dan Cerah


Awan hitam perlahan merangkak di langit, petir dan kilatan cahaya senantiasa menemani ke manapun awan hitam ini bergerak. Awan hitam di langit tiba-tiba mendadak diam, terlihat titik-titik air yang terjun bebas dari langit, titik-titik air yang semakin banyak dan akhirnya menyatu menjadi satu kesatuan yaitu hujan.

" Ayah! Hujannn..." Kepala mungil keluar dari jendela mobil dan melihat ke arah langit..

"Kepalanya jangan keluar nak, bahaya, ditutup jendelanya, biar tidak masuk airnya."

"Koq bisa hujan ya yah?" Sang anak menoleh ke arah ayahnya begitu selesai menutup jendela.

"Ya bisa donk." Ayah tertawa kecil.

"Ahhhhh..ayahhh..kenapa?kenapa?kenapa??" Rasa penasaran seorang anak kecil berusia setengah dasawarsa begitu menggebu-gebu.

Kali anak sang ayah hanya diam saja dan memperhatikan jalan. "Kenapa?kenapa yahh??" Tangan kecil sang anak menarik-narik kaos ayahnya.

"Ya bisa..Udah lah, kamu dari tadi berangkat sampai sekarang tu tanya-tanya terus, nggak capek kamu?"
Anak itu hanya diam, tetapi beberapa detik kemudian, "Itu kenapa yang situ langitnya nggak hitam??" Anak itu menunjuk ke arah langit.

Belum sempat dijawab suara petir tiba-tiba menggelegar di langit seakan membentak sang anak agar diam. Anak itu langsung menutup kedua telinganya dengan cepat.

"Yauda ayah jawab deh.." Mata sang ayah melihat ke arah anaknya dan tangannya membelai rambut panjang anaknya, rambut yang memperlihatkan kecantikan anaknya itu.

Tidak ada reaksi apa-apa dari anak itu, dia hanya diam saja dan melihat ke arah luar, melihat ke arah lampu lalu lintas yang berwarna merah terang. " Jadi mau dijawab nggak?" Sontak pandangan sang anak berubah menuju ke ayahnya, "Iya jadi jadi..." Dengan penuh semangat.

Tawa kecil lah yang pertama muncul dari mulut sang ayah, anak itu hanya diam dan terus melihat ke arah ayahnya. Baru setelah itu kata-kata yang keluar dari mulut sang ayah, "Begini anakkuu..Kenapa tempat yang mau kita tuju itu langitnya cerah.." Ayah sambil menunjuk ke arah langit sambil matanya melihat ke arah lampu lalu lintas, menunggu isyarat untuk kembali jalan.

Sang ayah kembali melanjutkan, "Dunia ini adil nakk." Berhenti sebentar, tangan sang ayah mengganti gigi mobil dan mulai menjalankan pelan mobilnya karena mobil di depan sudah mulai menjauh.
Sang ayah kembali melanjutkan, "Dunia atau bumi ini adil nak, tau kalau kita mau ada outbond di sana jadi dibuat lah cerah tempat yang mau kita tuju.." Kembali tawa kecil keluar dari mulut ayah.Anak itu hanya diam dan tersenyum kecil.

" Ya walaupun terlihat tidak bagus langitnya, yang daerah sana cerah lalu yang daerah sini gelap tapi itu karena adil, tau mana yang butuh hujan tau mana yang tidak butuh hujan." Dengan bijak dan percaya diri sang ayah menjawab.

Mata anak itu kembali melihat ke arah luar, melihat keadaan luar yang dibasahi air yang turun dari langit, "Ayah..ayah..berarti anak-anak itu lagi butuh hujan ya??tapi kan kasian mereka jadinya basah gitu.." Tangan mungil sang anak menunjuk ke arah kumpulan anak sekolah dasar yang berjalan pulang dibawah guyuran hujan yang deras.

Ayah diam saja, mencoba memutar otak untuk mencari pembenaran dari jawabannya tadi, dalam hati ayah berbicara "Wah kenapa tanya gitu? pintar juga anakku ini.." senyuman menghias wajah sang ayah.
Seakan tidak mau kalah dari anak kecil dan ingin terlihat pintar di depan anaknya, ayah kembali menjawab, " Ya bukannya butuh, mereka ingin buru-buru pulang mungkin, sudah lah dunia itu adil, mereka mungkin aja butuh hujan itu.." Kembali tawa kecil terdengar dari mulut ayah.

"Ooooo..begitu ya.." Sang anak mengangguk-angguk, yakin dengan jawaban ayahnya.

Suasana menjadi hening, hanya suara hujan yang terdengar, suara yang tidak beraturan dan tidak bernada, suara yang muncul karena air turun di atas mobil.

"Wahhh..udah cerah ni yah.." Kembali sang anak mengoceh ketika melihat ke arah langit dan langit sudah cerah. Ayahnya hanya diam dan menganggukkan kepalanya

Sang anak kemudian melihat ke arah belakang, melihat ke arah jalan yang sudah dilaluinya. Terlihat daerah yang sudah dilewatinya masih ada awan hitam yang menyelimuti. Kepala anak itu kembali menoleh ke depan untuk melihat langit yang cerah, beberapa kali menoleh ke belakang dan ke depan untuk melihat ke arah langit, melihat perbedaan awan yang hitam dan putih cerah, membandingkan daerah yang dia lewati sekarang tidak hujan dengan daerah yang sudah dilewatinya masih turun hujan.

"Hebat juga ya yah bisa gini.." Anak itu terkagum-kagum sambil melihat dan menoleh berulang-ulang ke arah langit.

"Iyaa nak, adil yang pasti, kan kita mau outbond kan jadi ya harus cerah donk daerah kita."

"tapi kalau di sana hujan terus ada yang mau outbond gimana? kan nggak adil yah." Sang anak membandingkan dengan daerah yang baru dilewati.

"Tapi di sana kan tidak ada tempat outbond." Sang ayah tertawa kecil dan sok tau agar sang anak tidak bertanya lagi.

Anak perempuan kecil dengan sejuta pertanyaan itu terlihat sangat menikmati perjalanannya, menikmati hujan dan menikmati cuaca cerah yang dia lalui sekaligus, terus mencoba untuk bertanya banyak hal kenapa terjadi  perbedaan yang mencolok. Di satu daerah turun hujan lebat dan di daerah lain tidak turun hujan sama sekali, bahkan terlihat jelas perbedaannya jika melihat ke arah langit, awan hitam dan langit cerah biru terlihat kontras.

Raut wajah sang anak tiba-tiba terlihat serius, matanya menatap tajam ke arah luar. " Ayah ayah...itu kenapa ada rumah yang jelek terus di depannya ada rumah yang bagus dan besar yah? biar adil ya yah itu??"

Sang ayah segera melihat ke arah rumah-rumah itu, mukanya juga berubah serius. Kembali anak itu bertanya, "Iya yah??berarti itu adil ya yah? berarti orang yang tinggal di rumah yang jelek itu memang butuh rumah itu ya? memang ingin rumah itu ya yah? padahal kan enak tinggal di rumah yang besar itu yah, pasti mau apa aja ada, tapi kenapa ada yang mau tinggal di rumah jelek itu yah, kenapa ada yang butuh tinggal di rumah jelek itu yah,kan nggak enak."

Belum sempat menjawab anak itu kembali bertanya, "Berarti itu adil ya yah?" Sang anak seperti menagih kembali jawaban adil dari ayahnya tadi.Anak itu sendiri tidak bermaksud mempertanyakan kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat, tidak mungkin dan tidak mampu anak seusia dia mengerti akan hal itu.
Sang ayah sekarang hanya diam saja dan memilih tidak menjawabnya..

0 komentar:

Poskan Komentar

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia