blogger widget
Selasa, 22 November 2011

Koin Hidupku


Langkah kaki kecil berjalan menyusuri jalan raya dengan hiruk pikuk suara kendaraan, tak ketinggalan panas matahari menambah panas suasana di jalanan yang ramai itu. Tanpa alas kaki Resa berjalan mondar mandir di sekitar trafic light, berjalan menghampiri kendaraan yang berhenti menunggu isyarat dari lampu lalu lintas untuk kembali berjalan. Tanpa alas kaki dengan santainya Resa berjalan di atas jalan aspal yang terus tersengat sinar matahari, berjalan dari hari ke hari yang menjadikan kulit kaki Resa kebal terhadap aspal jalan yang panas. Kulit hitam Resa juga memperlihatkan betapa ia setiap hari ada di jalan itu, mencari koin-koin kehidupan dari jalanan.

“Terima kasih om..” Resa membawa gitar kecilnya dan kembali berjalan ke kendaraan lain sambil sekilas melihat ke arah lampu lalu lintas, memastikan tidak mengganggu kelancaran jalan raya.

Resa tersenyum dan menganggukkan kepalanya ketika menghampiri seorang yang sedang duduk nyaman di mobil. Dengan sikap tidak peduli orang di dalam mobil itu melambaikan tangannya ke arah Resa  untuk memberi tanda tidak akan ada uang koin yang keluar lewat jendela mobil. Tidak mudah bagi Resa mendapatkan koin-koin untuk menyambung kehidupannya.

Menjadi rutinitas menghitung-hitung koin yang ia dapat saat matahari tepat berada di atas kepala, menyisihkannya untuk membeli sesuap nasi untuk makan siangnya, makan yang mungkin hanya untuk satu kali selama satu hari itu.

“Nih buat kamu..” Resa menyodorkan nasi bungkusnya pada seorang anak kecil yang duduk lemas di trotoar.

Sudah menjadi pemandangan biasa banyak pengemis maupun pengamen kecil yang memenuhi jalan raya utama kota itu, mereka selalu ada dari pagi sampai malam hari. Pada siang hari anak-anak itu berkumpul di trotoar jalan yang cukup besar untuk bersama-sama istirahat sejenak dan makan. Banyaknya kumpulan anak-anak di siang hari itu membuat mereka bisa dijadikan dalam satu kelas di sebuah sekolah sebagai siswa untuk mengeyam pendidikan, tetapi sayang kumpulan anak-anak itu hanyalah sekumpulan anak jalanan dengan impian untuk bersekolah. Resa pun selalu terlihat dalam kumpulan itu, ikut bercanda bersama anak-anak jalanan itu, sama-sama punya mimpi yang besar untuk masa depan, sama-sama ingin untuk bersekolah, dan sama-sama ingin mewujudkan cita-cita.

Ayah dan ibu Resa yang sakit membuatnya harus putus sekolah saat dia duduk di kelas 5 SD dan sudah 2 tahun setelah putus sekolah Resa ikut membantu kakaknya yang juga sebagai pengamen untuk menghidupi keluarga mereka. Tidak hanya untuk makan sehari-hari, mereka berdua juga mengumpulkan uang untuk membiayai pengobatan bapak dan ibunya.

Tak terasa matahari sudah hilang dari pandangan, cahaya lampu jalan mulai menerangi menggantikan cahaya matahari. Resa berjalan lemas menuju rumahnya yang tidak jauh dari tempat dia mengamen. Berjalan perlahan membawa gitar kecilnya sambil menghitung koin-koin receh yang ia dapat tadi.
“Ini buat makan bapak sama ibu.....Ini buat aku tabung, buat beli obat...” Tangan Resa membagi uang koin yang ia dapat dan menaruhnya di kantung yang berbeda.

Sebelum pulang Resa membeli nasi bungkus untuk makan malam Bapak dan ibunya. Mengorbankan makan malamnya untuk bapak dan ibunya, uang makan malamnya ia sisihkan untuk ditabung membeli obat untuk kedua orang tuanya itu. Sudah menjadi hal yang biasa bagi Resa jika ia harus makan satu kali dalam sehari, itu pun dia hanya makan sedikit karena dia berbagi makanan juga dengan anak jalanan lain. Tubuh kurus kering, rambut merah karena matahari, dan kulit hitam dan kering menjadi gambaran nyata betapa kerasnya kehidupan jalanan hanya demi koin-koin receh untuk kehidupan.

Begitu tiba di rumah sangat sederhananya Resa segera merawat kedua orang tuanya dan beristirahat untuk bersiap menjalani hari esok. Menjalani lagi kerasnya kehidupan jalanan demi koin untuk menyambung hidupnya, koin yang bagi Resa sangatlah berharga dan berharap bisa merubah kehidupannya dari koin-koin itu.

0 komentar:

Poskan Komentar

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia