blogger widget
Selasa, 22 November 2011

Kotak Perkakas


Sebuah kotak perkakas tua berdebu tergeletak di sela-sela tumpukan kayu lapuk. Sarang laba-laba menjadi dekorasi kotak perkakas, tidak ketinggalan beberapa laba-laba kecil terlihat tidak bergerak di sarangnya itu. Warna coklat tua lapuk semakin memperlihatkan betapa tuanya kotak perkakas itu.

"kamu tidak apa-apa nak??!!!" Teriak seorang wanita dari kejauhan ketika mendengar suara keras dari benda yang berjatuhan. Kayu-kayu lapuk dan beberapa benda tua lainnya jatuh begitu seorang anak usia sangat muda membuka pintu cukup besar yang masih terlihat kokoh.

Gudang tua, itulah tempat yang menjadi tujuan dari sang anak itu. Gudang tua yang terletak di belakang rumah sederhananya.

"Iya bu, cuma kayu yang jatuh aja koq.." Teriak anak itu

Tanpa berlama-lama anak itu berjalan menuju ke kotak perkakas tua itu. Sudah tidak asing lagi letak kotak perkakas itu karena sebelumnya dia pernah ke gudang di rumahnya itu hanya saja kotak perkakas itu tidak pernah diambil. Ditiupnya kotak perkakas itu dari debu-debu sambil pelan-pelan dibawa menuju ke luar gudang.

"Ini buat apa ya??" Tanya anak itu dalam hati ketika dia mengambil palu dari kotak perkakas. Palu yang masih terlihat kuat, pegangan dari kayu yang masih utuh memperlihatkan palu yang masih kuat untuk menancapkan sebuah paku.

Tanah di halaman dekat gudang menjadi sedikit berubah bentuk, dari yang tadinya datar menjadi sedikit cekung ketika sang anak menghantamkan palu tua itu ke tanah. Beberapa kali palu menghantam tanah dengan cukup keras, beberapa pecahan tanah terhempas dan terlempar jauh dari tempat asalnya. Sang anak segera mencari lagi alat di kotak perkakas itu dan dia mengambil obeng yang cukup besar.

Dengan cepat obeng langsung ditancapkannya ke tanah cukup dalam, hampir setengah badan dari obeng tertancap di tanah. Sang anak mencoba mencongkel tanah itu menggunakan obeng, dengan tenaga seorang anak sekolah dasar yang masih kelas 1 tentu saja usahanya itu gagal. Anak itu tidak punya tenaga yang cukup kuat untuk mencongkel tanah dengan kepadatan yang baik itu, obeng lalu perlahan sedikit dinaikkan dan menjadikan obeng sekarang hanya sebagian badan saja yang ada di tanah. Tidak butuh tenaga yang banyak tanah dengan mudahnya berhamburan keluar.

Lagi, sang anak menancapkan obengnya ke tanah, kali ini obeng diapakai untuk menggali tanah. Dengan cepat tangan sang anak menancap keluarkan obeng dari tanah berkali-kalidan menjadikan tanah tidak menyatu lagi, beberapa bagian tanah berserakan kemana-mana. Dengan cepat anak sang anak melihat ke arah kotak perkakas lalu mengambil gergaji kecil yang berkarat.

Gergaji kecil berkarat itu digunakannya untuk mengambil tumpukan tanah yang sudah tidak menyatu lagi. Setelah tanah dipindahkan tangan kanan sang anak kembali menancapkan obeng dan mengulangi yang dilakukan sebelumnya lagi. Tangan kanan dengan obeng merusak kesatuan tanah dan tangan kiri dengan gergaji kecil mengambil tanah itu dan memindahkannya.

Alat-alat perkakas yang tidak digunakan sesuai fungsinya itu memang menyulitkan sang anak untuk menggali tanah yang memang merupakan tujuan utamanya itu. Menggali tanah dan menanamnya dengan bibit tanaman yang sudah dia persiapkan.

Kalau saja alat-alat perkakas itu manusia pasti mereka sudah protes, sudah mengumpat dalam hati, " Bodoh sekali ini anak!! Aku kan palu kenapa buat memukuli tanah??!!!" Belum lagi obeng dan gergaji kecil pasti juga tidak terima dengan perlakuan sang anak itu. Tapi mereka hanya lah benda mati yang tidak bisa merasakan apa-apa, tidak bisa berbuat apa-apa.

"Nak!!!" Sang anak terkaget mendengar suara ibunya dengan nada yang tinggi itu.

Sang anak hanya melihat ke arah ibunya yang berdiri di depannya tanpa berkata apa-apa. Sang ibu menatap anaknya itu, " Kamu menggali tanah kenapa pakai alat itu?? kalo mau menggali tanah pakai cangkul kecil yang ada di gudang."

Sang anak hanya diam dan menganggukkan kepalanya, sang ibu mulai duduk dekat dengan sang anak sambil memegang palu dan gergaji kecil," Ibu kasi tau ya nak, palu ini fungsinya bisa buat menancapkan paku, terus gergaji kecil ini buat memotong kayu nak." Sang anak kembali menganggukkan kepalanya lagi.

Sang ibu hanya tersenyum melihat anaknya itu, dia bisa maklum jika anaknya belum banyak tahu karena dia juga masih muda. " Ingat ya anakku, kalau alat-alat itu dipakai sesuai fungsinya alat itu jadi bisa berguna, jadi kalau sudah tau mau berbuat apa cari alat yang pas, cari alat yang emang berguna buat apa yang mau kamu lakukan. Ini sekalian nasehat buat kamu, kalau nanti besar mau sukses kamu harus tau mau jadi apa kamu,lalu kenali diri kamu sendiri biar nantinya kemampuan yang kamu punya bisa berguna buat cita-cita yang kamu ingin capai anakku..." Sang ibu tersenyum dan memeluk anaknya.

2 komentar:

suci nabbila at: 3 Desember 2011 06.53 mengatakan...

pilihan kata-katanya bagus lhoo.. coba alur cerita dan klimaks nya diperbaiki, pasti tambah bagus :)

(kunjungi dan follow gue di http://sucinabbila.blogspot.com/ thanks! ditunggu kritiknya juga yaa..)

Rindy Agassi at: 5 Desember 2011 03.56 mengatakan...

Terima kasih komentarnya..:D

Poskan Komentar

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia