blogger widget
Rabu, 06 November 2013

Tak Boleh Lagi


Dinginnya air ini tak terlalu menusuk tulangku, pori-pori kulitku tak terbuka lebar ketika jutaan air ini merangkak di permukaan kulitku. Sensor dingin yang ada di otakku sebagian tertutup oleh pemandangan di depanku. Keceriaan dan tawanya merambat di antara partikel rapat air ini, mampir ke pandangan mataku dan seterusnya berlanjut masuk ke kepalaku, menularkan butiran-butiran keceriaan.

Adik perempuanku yang masih berseragam merah putih itu sambil tetap tertawa berjalan ke belakang, mengajakku untuk mendekat ke arahnya, berjalan lebih jauh bersama arus lembut sungai ini. Aku mulai berjalan pelan mendekat ke arahnya, cipratan-cipratan air mulai dimainkan olehnya, tawa dan ceria makin meresap ke dalam tubuhku.

“Ayo kak kejar aku.kejar kak.” Sambil tersenyum dia berjalan lambat di jalan yang beralas air setinggi lututnya. Aku menurutinya saja, membuatnya senang dan menggodanya, bagiku melihat tawanya seperti menjadi pohon peneduh di teriknya gurun.

Beberapa gelembung air keluar dari mulutku satu kali, dadaku tersentak, tawaku berhenti sejenak. Kemudian disusul gelembung lain yang keluar dari mulutku dan kembali dadaku tersentak. Perlahan mataku mulai terpejam, ribuan bulir air sungai tak berasa ini memenuhi mulut dan dadaku. Beberapa detik kemudian tak ada yang kulihat, bayangan-bayangan adikku yang tadi terlukis di kanvas air yang begitu jernih lenyap seketika.

“Ada apa dengan kamu nak?kenapa harus seperti ini?” Tetesan air mata mengalir darinya, dari ibuku.

Aku hanya memandangnya kosong, badanku mulai terasa dingin, dadaku masih sesak dan aku tetap mencoba mengeluarkan air yang menyelinap masuk ke tubuhku tadi.

“Aku ingin menyusulnya bu, aku yang sudah membuatnya tiada, membuatnya lenyap ditelan sungai, aku yang salah, aku menyesal tak mampu meraih tangannya.” Kulihat air mata ibuku makin deras mengucur, karena kelalaianku satu-satunya adik yang paling kusayang terseret air bah yang datang begitu cepat dan membawanya entah kemana,tak pernah aku melihat tubuhnya lagi walaupun sudah selama 1 minggu pencarian.

Tanpa berkata-kata ibuku dengan erat memelukku, menumpahkan semua air matanya yang bercampur dengan tubuhku yang basah, menjadi sebuah tanda bagiku bahwa ibu tak ingin kehilanganku juga, memberi isyarat tak boleh lagi ada yang meninggalkannya, karena hanya tersisa aku seorang yang tinggal bersama ibu.


2 komentar:

Mobile App Developers at: 26 November 2015 22.04 mengatakan...

Blogging is the new poetry. I find it wonderful and amazing in many ways.

App Development Bangalore at: 25 Januari 2017 12.01 mengatakan...

I learned a lot from reading through some of your earlier posts as well and decided to drop a comment on this one!

Poskan Komentar

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia