blogger widget
Tampilkan postingan dengan label Rindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rindu. Tampilkan semua postingan
Selasa, 13 Agustus 2013

Tape Singkong


Selalu saja terik matahari ini membakar kulit, tapi bagi kulit kusamku ini sinar matahari sudah tak mampu menembus lagi lapisan-lapisan kulit keringku ini. Aku sudah kebal dengan panas ini, kalu matahari bersinar 24 jam pun aku siap menerimanya karena begini lah sehari-hari aku berjalan keliling komplek perumahan di bawah guyuran sinar matahari. 

Ketika hujan datang dia selalu menjadi pendingin alamiku, dinginnya udara saat tetesan air itu menyentuh tanah menurutku lebih nyaman dibandingkan ketika aku tidur di gubuk kecil di bawah jembatan itu, rumah kecil yang  sudah aku huni selama 5 tahun. Ketika hujan datang selalu aku harus menutup dua keranjang yang aku pikul di kanan kiriku, aku tutup dengan plastik seadanya agar air tidak masuk ke dalamnya, tetapi udara dingin hujan menjadikan makanan yang aku bawa ini menjadi lebih awet dan nikmat jika dimakan, ya tape singkong yang aku bawa ini selalu menopang hidupku walaupun terkadang membebani juga ketika aku memikulnya.

"Ini pak piringya." sebuah piring kaca mewah disodorkan kepadaku. Aku pun mulai memindahkan tape-tape di dalam keranjang itu ke piring yang untuk membelinya sekiranya aku harus tidak makan satu minggu.

"Ini uangnyaa.." Bersamaan dengan aku memberikan piring berisi tape, ibu Rachel memberiku senyuman. Seorang wanita baik yang sudah menjadi langgananku, tak peduli dia tinggal di rumah mewah harus membeli tape dari penjaja keliling seperti aku ini, menurutnya tape yang aku jual ini enak dan membuat ketagihan, aku pun hanya bisa bersyukur masih ada yang mau membeli tape ini.

"Pak sini pakk,mau beli tapenya.." Dari rumah sebelah yang juga tak kalah besar gadis remaja tanggung itu memanggil.

"Terima kasih ya buu.." Segera aku memikul lagi keranjangku dan membawanya ke rumah sebelah dan sudah menjadi kebiasaan ketika ibu Rachel membeli tapeku maka Lisa juga membelinya, ya mereka berdua adalah langganan tetapku walaupun juga banyak yang membeli selain mereka di kompleks ini.

"Biasa ya pak, penuhin piringnya." Dia tersenym dan aku balas mengangguk dan tersenyum, seperti biasa pula aku memberinya tambahan tape yang semakin memenuhi piring yang aku pegang ini. Aku senang melihat Lisa gadis remaja ini suka makan tape, makanan tradisional yang mungkin di teman-teman sebayanya tidak mengenal.

"Mama sama papa di rumah non?" Aku mengobrol dengan Lisa sambil memindahkan tape ke piring.

"Enggak, biasa mereka pergi, urusan kerja." Lisa tersenyum

"ohhhh, kayanya tiap non Lisa beli tape mama papa pergi terus ya, enggak kesepian non?" 

"Ya mereka kan emang sibuk, ya kesepian tapi gimana lagi, sudah biasa juga." Lisa tersenyum
"Ini non..terima kasih ya non." Aku memberikan piring itu padanya, Aku beri senyuman dan mulai memikul lagi, mencari pelanggan lain.

Sebentar berjalan aku melihat ke arah belakang, melihat lagi ke arah rumah Lisa tadi, melihat apakah dia sudah masuk atau belum, di dalam hati aku berbicara, " kasian juga anak itu, seandainya dulu aku tidak bangkrut dan tidak diceraikan istriku pasti anak itu tidak kesepian lagi karena aku sebagai ayahnya pasti aku banyak meluangkan untuk gadis cantik sepertinya, gadis yang senyumnya sama dengan senyumku." Aku menghela nafas panjang, meratapi masa laluku, tetap berharap aku masih menjual tape ini agar aku selalu bertemu dengan anakku itu walaupun dia tidak tau aku ayahnya, bagiku yang penting aku tau dia baik-baik saja.

Sabtu, 19 Mei 2012

Sebuah Harapan Dari Kerinduan



Setiap kali kaki ini melangkah selalu saja terselip lumpur-lumpur kenangan  dan bahkan jatuh terpeleset untuk  sejenak bermain-main lagi dengan lumpur kenangan  ini. Terasa berat melangkahkan kaki di atas lumpur ini, terasa sulit bangkit lagi karena terasa menyenangkan bermain dengan lumpur ini. Kenangan ini tetapi semakin membuat gelap mataku melihat ke  arah depan, membuatku malas untuk berjalan lagi, dan membuat tak ada setitik cahaya dalam perjalanan cintaku.

Pernah satu waktu aku melihat  seorang wanita dalam perjalananku ini, makhluk  yang paling indah  yang diciptakan Tuhan. Paras cantiknya membangkitkan imajinasi dalam otakku, memfungsikan lagi fungsi otakku untuk membayangkan, membayangkan seandainya wanita cantik ini ikut dalam perjalananku. Belum lagi senyumnya  yang melelehkan hati yang sudah lama keras ini, memputihkan kembali hati yang gelap ini.

Sepatah kata meluncur tanpa halangan ketika aku  mulai menyapanya, tetapi beberapa kata kemudian terhalang tembok-tembok  trauma akan wanita. Terlihat sangat gugup saat itu, dengan terbata-bata mencoba aku memulai pembicaraan singkat ini. Perlahan demi perlahan pula tembok-tembok trauma ini mulai runtuh, runtuh oleh suara lembut wanita itu, bukan saja mampu meruntuhkan tembok penghalangku ini tetapi juga mampu membangun kembali pondasi-pondasi cinta yang sedikit demi sedikit mulai terbentuk.

Perjalanan cinta ini seketika berubah, bunga berwarna-warni tumbuh di sepanjang  jalan setapak yang aku lalui. Beberapa pohon berdaun hijau tegak berdiri menjadi tumpuan yang kuat bagi dedaunan untuk menari mengikuti irama tiupan angin. Danau dengan airnya yang jernih berada di sela-sela pepohonan yang tegak  berdiri, memantulkan cerahnya sinar matahari yang bersinar hangat.

Selangkah demi selangkah aku menikmatinya, senyum dan tawa tak henti-hentinya terlukis jelas di wajahku. Terkadang genangan air keruh dan sedikit berlumpur terinjak oleh langkah bahagiaku ini, air keruh dan lumpur  yang penuh dengan kenangan buruk akan cinta. Tetapi setidaknya itu tidak membuatku terjatuh, aku hanya berhenti sejenak, membersihkan kakiku yang terkena air dan lumpur, kemudian berjalan lagi  dan kembali menikmati indahnya jatuh cinta.

Perjalanan yang begitu menyenangkan karena wanita itu, yang akhirnya membuatku lupa bahwa kekecewaan, kesedihan, kecemburuan, penderitaan sudah menungguku di depan sana. Awan hitam yang penuh dengan kekecewaan mulai menghampiri dibarengi dengan kilatan kilatan kecemburuan yang dengan mudah menggoyahkan kekuatan pohon cinta yang sudah tegak berdiri. Tetesan-tetesan kesedihan akhirnya ikut turun membasahi bunga-bunga cinta yang menemani perjalananku, setetes demi setetes dan kemudian secaratak beraturan turun dengan cepatnya, menggenangi pijakan yang aku pakai saat ini, membanjiri bunga-bunga yang selalu menghiasi perjalananku ini.

Kembali kebahagiaanku membawaku masuk ke jurang kesedihan yang begitu dalam. Ketika aku sudah terbang tinggi karena cinta,  membuatku lupa akan daratan yang selalu aku pijak, yang akhirnya menghempaskan aku kembali ke tanah dengan rasa sakit dan derita. Wanita selalu bisa membuat bahagia tetapi selalu juga bisa membuat menderita jika cinta ada di baliknya.

Aku hanya bisa kembali berjalan, tidak mungkin aku hanya berdiam diri hanya karena cinta, tidak mungkin aku tidak melanjutkan langkahku hanya karena disakiti. Seperti saat pertama bertemu wanita itu pasti nanti di depan wanita lain yang lebih baik sudah menunggu dalam perjalanan cintaku ini. 

Untuk saat ini kembali jalan becek yang penuh dengan genangan air keruh dan lumpur menemaniku. Kenangan buruk kembali teringat ketika aku melihat ke arah kubangan air keruh dan lumpur itu. Setidaknya aku terus melihat ke depan dan berjalan berhati-hati, aku tidak ingin terjatuh karena lumpur-lumpur ini.

Keyakinanku akan cinta terus membawaku ke jalan yang benar, ketika ada persimpangan, keyakinan akan adanya cinta yang membahagiakan akan membawaku memilih jalan yang benar. Kebahagiaan sudah menungguku di depan, kebahagiaan yang akan menghapuskan kesedihan masa lalu, masa lalu yang membentuk hatiku sekarang ini, yang menguatkannya seperti sekarang ini, dan yang mendewasakan aku sampai seperti ini.

Memang benar adanya cinta akan membawa kebahagiaan, tetapi juga memang benar adanya cinta akan membawa kesedihan. Aku tidak bisa menentukan kemana cinta akan membawaku, aku hanya bisa mengikuti cinta, hanya bisa merasakannya, dan hanya bisa memahaminya saja. 

Yang terpenting saat ini adalah aku yakin bahwa cinta akan membawa kebahagiaan tetapi cinta juga akan membawa kesedihan. Aku hanya bisa menikmati semua itu, berharap perjalanan cintaku kali ini akan kembali dipenuhi ribuan bunga warna-warni, dedaunan yang menari di atas pohon yang berdiri kokoh, dan terbentang danau luas dengan sinar matahari hangat di atas permukaan air jernihnya itu. Sebuah harapan dari kerinduan akan kebahagiaan.

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

blog-indonesia.com

Indonesia

Indonesia