blogger widget
Selasa, 01 April 2014

Sebuah Cermin Diri


Karakter diri adalah hal yang fundamental dalam setiap diri manusia, seperti sebuah ungkapan yang berbunyi Knowledge is Power but Character is More. Karakter menentukan bagaimana seseorang berperilaku, menjalin hubungan antar personal serta memberi pengaruh pada sudut pandang atau cara pikir seseorang dalam berbagai hal. Karakter dapat dikatakan sebagai jiwa atau roh yang mengisi raga dari seorang manusia dan karakter itu akan lebih banyak dibentuk secara sengaja oleh masing-masing manusia itu sendiri.

Memang banyak cara untuk bisa membentuk sebuah karakter diri yang ideal namun yang sering dilupakan adalah tak banyak individu yang mau untuk mengenal karakter diri mereka masing-masing. Padahal untuk membentuk karakter diri hal yang paling dasar dan menentukan adalah bagaimana seseorang mampu untuk mengenal dirinya sendiri dan menganalisis karakter diri mereka masing-masing. Pengenalan diri ini akan meningkatkan efektifitas dari setiap pembentukan karakter yang dilakukan karena tak semua cara-cara pembentukan karakter sesuai dengan karakter diri masing-masing.

Mengambil salah satu cara dalam psikologi jawa bahwa untuk bisa jauh mengenal diri sendiri adalah dengan mawas diri. Mawas diri dapat dipahami sebagai upaya untuk memahami diri sendiri, keinginan-keinginan sendiri, dan susah senangnya sendiri. Mawas diri ini jika dilakukan dengan benar maka selanjutnya akan menuju tahap pemahaman diri, penyerahan diri serta pada akhirnya sampai pada penyadaran diri. Tidak mudah memang untuk menjadi seorang pribadi yang mawas diri, banyak kendala bagi seorang manusia untuk bisa menjadi seorang yang mawas diri.

Manusia pada dasarnya cemas dan khawatir untuk meneliti diri mereka sendiri, mereka cemas dan khawatir menemukan kenyataan-kenyataan diri yang tidak menyenangkan. Seseorang akan cenderung menghindari ketika mereka menemukan kelemahan mereka, berusaha untuk menutupinya dan menyembunyikannya jauh di dalam pikiran mereka sehingga orang lain tak akan melihatnya. Padahal untuk bisa mawas diri atau meneliti lebih jauh tentang diri sendiri dibutuhkan keterbukaan pada diri sendiri, dibutuhkan penerimaan diri dan menerima apa adanya semua yang ada dalam diri sendiri sekalipun itu adalah hal yang buruk. Untuk mampu mengenal dan menerima diri sendiri memang diperlukan langkah-langkah nyata dalam rangka untuk memahami lebih jauh tentang diri sendiri.

Melakukan perbincangan dengan diri sendiri bisa menjadi salah satu langkah untuk mengenal jauh tentang karakter diri. Perlu rasa bebas, perhatian terpusat yang artinya kini di sini saya memperhatikan dulu saya di sana atau yang lebih mudahnya dapat diartikan sebagai sebuah perenungan yang reflektif untuk melihat jauh ke dalam tentang karakter diri.

Perenungan diri ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri seperti misalnya, siapakah saya? Bagaimana saya bisa menjadi seperti diri saya sekarang ini? Bagaimana saya ketika berhubungan dengan orang lain? Mengapa saya ada di dunia ini? Apa tujuan hidup saya? dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan itu nantinya akan direnungkan dan dipikirkan untuk pada akhirnya menemukan jawaban-jawaban yang tentunya tidak memuaskan tetapi setidaknya membuka jalan untuk mengenal lebih jauh tentang diri sendiri.

Jawaban-jawaban itu akan menuntun lebih dalam untuk mengenal karakter diri apa saja yang dimiliki, karakter yang baik maupun karakter yang buruk. Selanjutnya akan ada perenungan lebih jauh lagi untuk meneliti karakter diri itu secara objektif dan sebagaimana adanya.Dari perenungan tentang karakter diri itu maka selanjutnya seorang individu akan bisa jauh mengenal dirinya sendiri dan tentunya itu akan berguna dalam pembentukan karakter seperti apa yang diinginkan di masa yang akan datang.

Ketika masing-masing individu sudah mengetahu karakter diri mereka masing-masing maka selanjutnya mulai masuk pada tahap pengembangan karakter. Ada banyak pembahasan mengenai karakter ideal apa saja yang bisa dibentuk seperti misalnya karakter seorang pemimpin yang memiliki kharisma yang digagas oleh John C Maxwell. John C Maxwell menyebutkan bahwa ada 4 karakter seorang pemimpin yang berkharisma yaitu mencintai kehidupan, menghargai orang lain, membangkitkan harapan, dan mau berbagi.Tak hanya itu ada pula karakter yang ideal adalah mereka yang disiplin, tegas, arif dan bijaksana, serta memiliki rasa empati pada orang lain.

Pada akhirnya pembentukan karakter itu memang diperlukan untuk membentuk seseorang yang bisa berguna bagi sesama. Karakter diri itu juga nantinya akan ikut menentukan karakter sebuah bangsa. Maka agar dapat membentuk sebuah karakter yang ideal tentunya harus melakukan hal yang sangat  mendasar yaitu pengenalan dan pemahaman mengenai karakter diri masing-masing terlebih dahulu.  Dari pengenalan karakter diri itu maka selanjutnya akan lebih mudah dalam hal pembentukan karakter seorang individu dan itu tentunya  dimulai dengan keterbukaan dalam menerima cerminan diri.


 Daftar Pustaka
Jatman, Darmanto. 2011. Psikologi Jawa. Yogyakarta: Yayasan Kayoman.
Pearson, Pat. 2006. Stop Self-Sabotage. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Setyono, Ariesandi dan Adi W.Gunawan. 2007. Manage Your Mind for Success. Jakarta: PT  Gramedia Pustaka Utama.
Soedarsono, Soemarno. 2005.  Hasrat untuk Berubah. Jakarta: PT Elexmedia Komputindo.
Winarti, Euis. 2007. Pengembangan Kepribadian. Yogyakarta: Graha Ilmu.



Kamis, 07 November 2013

Sebuah Akhir


Melihat pemandangan di depan mata membuat pikiran ini terbang melayang ke masa lalu, sepuluh tahun yang lalu. Samar-samar memang tapi terasa menyakitkan untukku, gumpalan kesedihan mulai pecah dan menyebar ke seluruh tubuhku. Selanjutnya air mata tak mampu berdiam di tempatnya saja, perlahan dorongan kuat dari buliran-buliran kesedihan menjadikannya turun perlahan mengikuti gravitasi.
Aku mencoba memejamkan mataku, mencoba menghapus semua ini, tapi ternyata justru kepingan-kepingan kenangan masa lalu makin tersusun rapi membentuk sebuah gambaran yang terasa nyata bagiku. Pertengkaran suami dan istri di antara hijaunya taman di sini mampu merubah semuanya, gersang dan kepedihan menjadi selimut baru di taman yang hijau ini.
Aku tak mau melawannya, aku biarkan setiap kepingan kenangan di kepalaku mengalir, membiarkannya seperti sehelai daun yang terbawa arus sungai dengan lembut. Aku membuka mataku dan melihat kembali apa yang ada di depanku. Aku seperti merasakan lagi suasana masa laluku, sebuah tontonan yang berakhir tak bahagia, suami istri itu berjalan menuju arah yang berbeda dengan wajah terlipat.
Aku tak tahu kenapa kenangan buruk ini terus melekat sepanjang hidupku, mungkin karena saat itu setiap butir kenangan yang aku terima menjadi pondasi bagi masa depan pikiranku. Jika ingin membuat seseorang menjadi manusia yang penuh amarah, kebencian, dan trauma maka cukup beri saja dia tontonan pertengkaran sepanjang hari ketika dia masih kecil, pasti itu akan membekas di pikiran dan perasaannya, seperti bekas luka yang tak kunjung sembuh sepanjang hidup.
“Ayo nak tiup lilinnya..” Aku tersentak dari lamunan. Seorang laki-laki dan perempuan yang baru aku kenal selama lima tahun kini menjadi ayah dan ibuku yang baru.

Aku memandangi angka 17 dengan lilin di atasnya yang menyala, tak kuasa aku menahan tangis, kobaran kecil api di lilin itu membuat air bah tumpah keluar dari mataku tak terbendung. Bongkahan besar kenangan jatuh tepat di pikiran dan perasaanku, membuat sebuah lubang besar kepedihan yang akan terus membekas, tak akan pernah hilang sepanjang hidupku. Kobaran api yang selalu membawaku untuk melihat ayah dan ibuku dulu saling membakar tubuh satu sama lain, menjadi akhir dari seluruh pertengkaran yang terjadi sepuluh tahun lalu, dan tentunya menjadi akhir bagiku untuk merasakan kasih sayang dari mereka berdua.
Rabu, 06 November 2013

Tak Boleh Lagi


Dinginnya air ini tak terlalu menusuk tulangku, pori-pori kulitku tak terbuka lebar ketika jutaan air ini merangkak di permukaan kulitku. Sensor dingin yang ada di otakku sebagian tertutup oleh pemandangan di depanku. Keceriaan dan tawanya merambat di antara partikel rapat air ini, mampir ke pandangan mataku dan seterusnya berlanjut masuk ke kepalaku, menularkan butiran-butiran keceriaan.

Adik perempuanku yang masih berseragam merah putih itu sambil tetap tertawa berjalan ke belakang, mengajakku untuk mendekat ke arahnya, berjalan lebih jauh bersama arus lembut sungai ini. Aku mulai berjalan pelan mendekat ke arahnya, cipratan-cipratan air mulai dimainkan olehnya, tawa dan ceria makin meresap ke dalam tubuhku.

“Ayo kak kejar aku.kejar kak.” Sambil tersenyum dia berjalan lambat di jalan yang beralas air setinggi lututnya. Aku menurutinya saja, membuatnya senang dan menggodanya, bagiku melihat tawanya seperti menjadi pohon peneduh di teriknya gurun.

Beberapa gelembung air keluar dari mulutku satu kali, dadaku tersentak, tawaku berhenti sejenak. Kemudian disusul gelembung lain yang keluar dari mulutku dan kembali dadaku tersentak. Perlahan mataku mulai terpejam, ribuan bulir air sungai tak berasa ini memenuhi mulut dan dadaku. Beberapa detik kemudian tak ada yang kulihat, bayangan-bayangan adikku yang tadi terlukis di kanvas air yang begitu jernih lenyap seketika.

“Ada apa dengan kamu nak?kenapa harus seperti ini?” Tetesan air mata mengalir darinya, dari ibuku.

Aku hanya memandangnya kosong, badanku mulai terasa dingin, dadaku masih sesak dan aku tetap mencoba mengeluarkan air yang menyelinap masuk ke tubuhku tadi.

“Aku ingin menyusulnya bu, aku yang sudah membuatnya tiada, membuatnya lenyap ditelan sungai, aku yang salah, aku menyesal tak mampu meraih tangannya.” Kulihat air mata ibuku makin deras mengucur, karena kelalaianku satu-satunya adik yang paling kusayang terseret air bah yang datang begitu cepat dan membawanya entah kemana,tak pernah aku melihat tubuhnya lagi walaupun sudah selama 1 minggu pencarian.

Tanpa berkata-kata ibuku dengan erat memelukku, menumpahkan semua air matanya yang bercampur dengan tubuhku yang basah, menjadi sebuah tanda bagiku bahwa ibu tak ingin kehilanganku juga, memberi isyarat tak boleh lagi ada yang meninggalkannya, karena hanya tersisa aku seorang yang tinggal bersama ibu.


Selasa, 10 September 2013

Sore Itu di Rumah


Suasana mencekam menyelimuti sore ini, di luar rumah aku mendengar suara sirine maupun suara tembakan. Aku dan ibu hanya bisa berdiam diri di kamar tanpa suara, berharap tak ada tentara yang masuk ke rumah ini. Aku mendengar di kejauhan orang-orang berteriak dengan keras, suara dobrakan pintu, dan yang paling meyedihkan adalah suara jeritan yang berakhir hening ketika suara tembakan terdengar, yang itu berarti mereka yang dianggap komunis dibunuh di tempat.

“Buka Pintunya!!!!” Sambil seorang tentara mendobrak-dobrak pintu.
Tak ada tanggapan pintu pun mereka dobrak dan segera mereka menyeret keluar seorang anak dan ibunya dari dalam rumah. Beberapa obrolan terdengar walaupun aku tak tahu pasti apa yang mereka bicarakan, beberapa saat kemudian terdengar suara tangisan anak itu dan suara jeritan ibu itu. Tak berapa lama berubah kembali menjadi hening, suara tembakan mengheningkan jerit dan tangis. Aku semakin takut, aku tahu mereka berdua tinggal dekat dengan rumahku, hanya berjarak 3 rumah dari rumahku. Pertanda sebentar lagi para tentara akan sampai ke rumahku.

“Ibu, kita harus lari dari sini.”

“Tidak mungkin Ina, sudah tidak ada waktu untuk kita lari.” Ibuku tak bisa berbuat apa-apa.

“Lalu kita hanya berdiam di sini saja?” Aku semakin takut dan khawatir.

“Itu lah yang bisa kita lakukan sekarang, ibu tak tahu harus berbuat apa, nampaknya ini akan jadi hari terakhir kita.” Perkataan ibu ini makin membuatku takut, aku lemas tak mampu bergerak.
Akhirnya tiba saat penghakiman aku dan ibuku. Aku mendengar suara pintu rumahku dipukul keras-keras. Aku hanya terdiam tak menjawab suara di depan. Tak berapa lama pintu rumahku dihancurkan dengan senapan yang mereka bawa.

Suara langkah kaki para tentara menjadi penghitung detik-detik terakhir aku dan ibuku di dunia. Mereka dengan nada membentak mencari-cari orang di rumah, mendobrak setiap pintu yang ada, mencari orang yang ada di dalamnya.

Sampai pada akhirnya mereka menemukan kamar di mana aku dan ibuku bersembunyi, ibuku berteriak keras dan langsung dipukul dengan senapan yang mereka bawa. Aku hanya bisa diam dan menangis, aku dan ibuku segera diseret keluar dari rumah. Aku dan ibu dipaksa berlutut di jalan di depan rumah.

“Kamu anggota PKI kan??!!” Dengan nada tinggi tentara itu bertanya pada kami.Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku saja, tak mampu kata-kata keluar dari mulutku.

“Jangan Berbohong!!!” Rambutku ditariknya ke atas dan dipaksa melihat wajahnya.

Sekali lagi aku ditanya olehnya dengan tangannya masih menarik kuat rambutku, aku hanya bisa menahan sakit, “ Kamu PKI kan??!!!”

“Bukan.” Aku menjawab dengan suara pelan, tak ada tenaga aku untuk bersuara

Mendengar jawabanku tadi, aku ditampar dengan keras oleh tentara lain, “ Jawab yang keras!! Kamu PKI kan??!!” Ibuku menjerit melihat aku ditampar oleh tentara, melihat itu tentara lain kembali menampar ibuku dengan keras.

Aku memukul tangan tentara yang menarik rambutku, membuatnya terlepas dari rambutku. Aku segera memeluk ibu yang terlihat tak berdaya.

“Mereka berdua bukan anggota PKI.” Suara bernada berat memberi tahu pada tentara yang sudah bersiap mengeksekusi mereka.

“saja mereka.” Suara itu kembali terdengar, aku seperti mengenal suara itu,.suara yang selalu aku ingat dan terus membekas di pendengaranku.

“Siap komandan.” Para tentara dengan kompak menjawab perintah itu.

Para tentara yang ada di depanku segera pergi mendengar perintah tadi. Aku memberanikan diri melihat ke arah orang yang memberi perintah tadi. Aku melihatnya dan ternyata benar, dia adalah Endrian, seorang yang aku cinta dulu. Aku merasa tak percaya, aku melihat matanya dan akhirnya yakin dia adalah Endrian. Endrian tak berkata apa-apa ketika aku melihatnya, dia hanya diam, melihat ke arah para tentaranya yang berjalan menjauh.

Endrian belum beranjak dari tempatnya tadi, jarak yang tidak begitu jauh untuk melihat sosoknya secara utuh. Aku melihat kaki Endrian bersiap untuk melangkah, aku masih tetap tak mau mengalihkan pandanganku darinya. Terjadi hal yang begitu luar biasa, hal yang membuatku serasa dibawa terbang melayang menjauh dari tanah. Kesakitan yang aku rasakan saat ini tak aku rasakan sekarang, ketakutan dan kekhawatiran lenyap begitu saja, hanya kebahagiaan yang aku rasakan saat ini. Endrian sebelum pergi melangkahkan kakinya, kepalanya menoleh padaku, matanya menatap mataku, dan yang menjadi luar biasa adalah Endrian tersenyum kecil padaku.

Hanya tiga detik mungkin senyuman itu terhias di wajahnya, tapi ini sungguh menjadi hal yang luar biasa bagiku, tak bisa terlukiskan kata-kata perasaan yang aku rasakan saat ini. Seorang penyelamat hidupku yang memberi senyumnya padaku, di saat yang begitu tepat, saat dimana aku berdiri di atas jurang kematian, senyuman yang memberiku harapan untuk hidup dan keyakinan yang akan membuatku terus berjuang untuk cinta.
Selasa, 13 Agustus 2013

Tape Singkong


Selalu saja terik matahari ini membakar kulit, tapi bagi kulit kusamku ini sinar matahari sudah tak mampu menembus lagi lapisan-lapisan kulit keringku ini. Aku sudah kebal dengan panas ini, kalu matahari bersinar 24 jam pun aku siap menerimanya karena begini lah sehari-hari aku berjalan keliling komplek perumahan di bawah guyuran sinar matahari. 

Ketika hujan datang dia selalu menjadi pendingin alamiku, dinginnya udara saat tetesan air itu menyentuh tanah menurutku lebih nyaman dibandingkan ketika aku tidur di gubuk kecil di bawah jembatan itu, rumah kecil yang  sudah aku huni selama 5 tahun. Ketika hujan datang selalu aku harus menutup dua keranjang yang aku pikul di kanan kiriku, aku tutup dengan plastik seadanya agar air tidak masuk ke dalamnya, tetapi udara dingin hujan menjadikan makanan yang aku bawa ini menjadi lebih awet dan nikmat jika dimakan, ya tape singkong yang aku bawa ini selalu menopang hidupku walaupun terkadang membebani juga ketika aku memikulnya.

"Ini pak piringya." sebuah piring kaca mewah disodorkan kepadaku. Aku pun mulai memindahkan tape-tape di dalam keranjang itu ke piring yang untuk membelinya sekiranya aku harus tidak makan satu minggu.

"Ini uangnyaa.." Bersamaan dengan aku memberikan piring berisi tape, ibu Rachel memberiku senyuman. Seorang wanita baik yang sudah menjadi langgananku, tak peduli dia tinggal di rumah mewah harus membeli tape dari penjaja keliling seperti aku ini, menurutnya tape yang aku jual ini enak dan membuat ketagihan, aku pun hanya bisa bersyukur masih ada yang mau membeli tape ini.

"Pak sini pakk,mau beli tapenya.." Dari rumah sebelah yang juga tak kalah besar gadis remaja tanggung itu memanggil.

"Terima kasih ya buu.." Segera aku memikul lagi keranjangku dan membawanya ke rumah sebelah dan sudah menjadi kebiasaan ketika ibu Rachel membeli tapeku maka Lisa juga membelinya, ya mereka berdua adalah langganan tetapku walaupun juga banyak yang membeli selain mereka di kompleks ini.

"Biasa ya pak, penuhin piringnya." Dia tersenym dan aku balas mengangguk dan tersenyum, seperti biasa pula aku memberinya tambahan tape yang semakin memenuhi piring yang aku pegang ini. Aku senang melihat Lisa gadis remaja ini suka makan tape, makanan tradisional yang mungkin di teman-teman sebayanya tidak mengenal.

"Mama sama papa di rumah non?" Aku mengobrol dengan Lisa sambil memindahkan tape ke piring.

"Enggak, biasa mereka pergi, urusan kerja." Lisa tersenyum

"ohhhh, kayanya tiap non Lisa beli tape mama papa pergi terus ya, enggak kesepian non?" 

"Ya mereka kan emang sibuk, ya kesepian tapi gimana lagi, sudah biasa juga." Lisa tersenyum
"Ini non..terima kasih ya non." Aku memberikan piring itu padanya, Aku beri senyuman dan mulai memikul lagi, mencari pelanggan lain.

Sebentar berjalan aku melihat ke arah belakang, melihat lagi ke arah rumah Lisa tadi, melihat apakah dia sudah masuk atau belum, di dalam hati aku berbicara, " kasian juga anak itu, seandainya dulu aku tidak bangkrut dan tidak diceraikan istriku pasti anak itu tidak kesepian lagi karena aku sebagai ayahnya pasti aku banyak meluangkan untuk gadis cantik sepertinya, gadis yang senyumnya sama dengan senyumku." Aku menghela nafas panjang, meratapi masa laluku, tetap berharap aku masih menjual tape ini agar aku selalu bertemu dengan anakku itu walaupun dia tidak tau aku ayahnya, bagiku yang penting aku tau dia baik-baik saja.

Senin, 12 Agustus 2013

Viona


Kilauan cahaya terpantul dari kaca rias mungil yang aku pegang sekarang, sisi-sisinya yang berbentuk siku-siku terlihat tipis dan tajam, ingin kulepas kaca persegi empat ini dari dudukannya. Di bayanganku sudah tergambar jelas apa yang akan aku lakukan selanjutnya, begitu kaca ini aku lepas dengan erat aku pegang dan aku goreskan di tangan wanita cantik di sebelahku ini. Matanya yang indah pasti akan tertutup menahan sakit, buliran air mata perlahan pasti akan keluar ketika sayatan mengenai nadi di tangan kirinya. Rambut lurus dan terurai sempurna itu pasti akan acak-acakan nantinya, terhempas kesana kemari oleh kepanikan. Kulit putih mulus di tangan kirinya tak lama lagi akan berwarna merah darah, noda-noda darah akan berceceran di kemeja putihnya.

Tapi tunggu dulu, itu hanya bayangan jahatku jauh di dalam hati sana, niat yang terpendam sangat jauh di balik tembok-tembok ketegaran yang sudah aku bangun bertahun-bertahun. Tak mungkin tembok itu aku runtuhkan seketika hanya untuk membangkitkan niat jahat yang selama bertahun-tahun sudah aku pendam jauh, niat yang tak mungkin aku hilangkan sampai sekarang, entah bagaimana caranya.

Dari bayangan di kaca rias yang aku pegang terlihat wajahnya begitu cantik, aku membandingkannya dengan wajahku ini. Turun ke bawah terlihat di cermin logam berbentuk persegi panjang berukuran kecil yang terukir nama Adelia. Nama yang juga terukir di hatiku, ukiran yang aku coba sembunyikan jauh di dalam dasar hati.

“kakakk Claraaa..” Suara lembut, kecil, dan khas anak kecil mengagetkanku, membuyarkan imajinasi yang sedang aku tata di dalam kepala. Seketika aku melihat ke arah suara itu, anak perempuan cantik datang menghampiri dengan senyum khas anak usia 5 tahun itu.

“Haloo Vionaaa.” Aku menyapa dengan senyum ramah dan mencubit pipinya yang gemuk dan lucu itu.
Aku membelai rambut panjangnya, rambut yang sama indah dengan rambut teman kerja di sebelahku ini, Adelia. Teman kerja yang sudah sekitar 3 tahun bersamaku di kantor ini.

“Emang ini anak ibunya, mirip banget.” aku melihat ke arah Adelia dan tersenyum,  Viona mengurai rambutnya ke belakang, sama persis seperti kebiasaan yang dilakukan oleh ibunya, ya Adelia pun tak pernah ketinggalan mengurai atau menghempaskan rambutnya ke belakang, kebiasaan yang menurun pada anaknya ini.

“Hai Clara.” Suara laki-laki dewasa terdengar di telingaku, suara yang dalam dan lembut, dan ketika aku melihatnya ke arahnya, matanya sama dengan mata Viona. Dega namanya, suami Adelia, ayah dari Viona, dan Dega laki-laki yang dulu hampir menjadi suamiku, ketika aku dan dia nyaris  menginjakkan kaki di jalan hidup bersama dia membelok dan lebih memilih jalan bersama wanita lain.
Senin, 19 November 2012

Senyuman Pelangi



Menjadi yang pertama memang tak akan pernah terlupakan, selalu saja ada kenangan yang tertinggal walau itu hanya serpihan kecil kenangan.

Hujan sore ini turun tanpa celah, titik-titik hujan menyentuh dan membasahi tanah dengan sempurna. Ketika aku melihat rintik hujan ini saat itu lah kerinduanku muncul, tetes-tetes rindu membasahi hati yang sudah lama kering. Tetesan-tetesan yang dengan sempurna mengajak hati dan pikiranku kembali mengenang masa lalu, merasakan sejuknya cinta saat itu.

Tak selamanya hujan itu menyiksa, tak seharusnya hujan itu dibenci, ketika aku melihat hujan yang turun sore ini aku merasa nyaman. Kenyamanan ini terasa sudah lama sekali tidak aku rasakan, kenyamanan ketika aku ada di sampingnya dulu. Tiap belaian tangannya membelai lembut rambutku, ketika tangannya merangkul erat tubuhku, dan saat matanya menatap mataku adalah hal-hal terbaik yang mampu memberiku rasa nyaman dan bahagia.

Tetes-tetes hujan memberi kehidupan untuk tanaman yang dengan tulus menerima tetesan itu. Menyenangkan melihat ketika tetesan hujan menyentuh daun-daun hijau tanaman pekarangan rumahku. Bayangan dirinya muncul begitu saja di pikiranku, saat dia dulu memberi cintanya dengan tulus padaku dan aku dengan tulus pula menerimanya, saat itu lah dia memberiku hidup, memberiku harapan-harapan yang menjadi pengisi dalam hidupku.

Hembusan angin sore yang kurasakan sekarang memberiku ketenangan. Angin yang hanya mau datang bersama hujan, terasa dingin tetapi tidak memaksaku untuk menghangatkan diri. Angin yang dengan lembut menyentuh tubuhku, kelembutan yang hanya kurasakan ketika dia menyentuh tubuhku. Sekarang hanya hembusan angin ini  yang mampu mengganti kenangan itu, sentuhan yang hanya mampu terasa ketika cinta memberikan kelembutannya.

Aku begitu terhanyut dalam kenangan masa laluku ini, kenangan yang mengalir tak terbendung. Tetapi lamunanku hilang begitu saja ketika suara petir datang tanpa permisi, memberiku kejutan yang membawaku kembali ke waktu sekarang, jauh dari kenangan indah masa laluku. Tak berapa lama kilatan cahaya menerangi gelapnya langit yang tak berapa lama disambut suara lantang petir di angkasa. Mungkin ini memang menjadi pengingatku ketika aku terlalu terbuai dalam lautan kenangan yang aku selami, peringatan yang memberiku pertanda untuk berenang keluar dari lautan kenangan dan bernafas ke permukaan untuk melanjutkan hidupku sekarang. Jika tidak aku hanya akan mati tenggelam tak berguna dalam lautan kenangan ini.

Aku melihat ke arah langit, awan bergerak dengan cepat di angkasa. Hembusan angin bertiup kencang di angkasa memaksa awan-awan gelap pergi dari tempat nyamannya di langit. Tetesan-tetesan hujan yang tak terhitung jumlahnya itu juga ikut kemanapun awan pergi, tak ada awan maka tak ada hujan, tak ada hujan maka tak ada pula awan.

Tampak langit tak berwarna biru lagi, warnanya tak hanya biru cerah, warna oranye memberi warna lain di langit. Perlahan demi perlahan semakin terang dan terlukis indah perpaduan warna biru dan oranye di angkasa. Ketika itu pula matahari sudah mulai menampakkan dirinya, sinar oranye yang berasal darinya. Aku pun tersenyum melihat pemandangan ini, aku sudah bangun dari lamunanku.

Aku melihat ke arah jalanan yang ada di depanku, perlahan air yang membasahinya mulai menguap. Kenangan-kenanganku bersama dirinya dulu yang pernah aku cinta juga perlahan menguap. Mataku beralih ke tanaman hijau yang ada di dekatku, tetes-tetes air masih tak mau beranjak dari daun, batang, maupun tanah yang ada di sana. Begitu pula beberapa kenanganku, masih ada yang tersisa dan meresap di hati, yang tak mungkin terlupakan. Beberapa kenangan indah maupun buruk boleh saja menguap tetapi itu tidak berarti semua kenanganku bersamanya akan ikut menguap karena selalu ada yang tertinggal dari kenangan itu, yang akan tetap memberiku hidup ketika aku mengingatnya.

Sudah saatnya aku melanjutkan hidupku lagi, aku tak mau berlama-lama tenggelam dalam kenangan indahku bersamanya. Akan kucoba membuka hatiku, sama seperti ketika awan di angkasa membuka langit biru.

Ketika aku mulai ingin membuka hatiku lagi langit pun berubah menjadi lebih berwarna sekarang, warna-warni pelangi ikut terlukis di atas sana, aku tersenyum melihatnya,dan  aku yakin di balik pelangi itu dia tersenyum juga padaku. Aku berharap itu sebuah pertanda, pertanda bahwa dirinya yang pernah aku cinta dulu rela ketika aku membuka hati pada orang lain. Semoga dia tersenyum di atas sana ketika aku mulai melanjutkan hidupku lagi tanpanya. Aku yakin dia tahu bahwa aku akan tetap mengenangnya sebagai cinta pertamaku, cinta yang dulu terpisah oleh maut.

Minggu, 23 September 2012

Sebuah Alasan untuk Hidup



Tak seperti biasanya, seorang berbadan tegap dan gagah berdiri sekarang ini sedang tertunduk lesu di sudut ruangan. Sebuah ruangan yang cukup luas dan diterangi dengan cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela jendela yang terbuka. Beberapa perabotan tertata rapi, udara sejuk dari semilir angin begitu terasa menyentuh kulit. 

Begitu terlihat mencolok dengan keadaan ruangan ketika seorang pria hanya duduk di salah satu sudut ruangan tak bergerak dengan kepala yang tertunduk lesu. Seorang wanita tanpa segan masuk ke ruangan dan dengan cepat berjalan menuju ke sudut yang sama.

"Igra..Igra..Igra.." Annisa menepuk lembut tubuh itu sambil memanggil namanya.

Tak ada tanggapan, kembali Annisa mencoba menyadarkan atau pun membangunkan karena Annisa tidak tahu apa yang sedang dilakukan Igra. 

"Sudah...jangan begini." Suara lirih Annisa mencoba kembali mengembalikan jiwa Igra yang lari dari dunia nyata.

Annisa terlihat berhati-hati, dengan lembut dan perlahan Annisa mencoba menyadarkan Igra. Seorang laki-laki yang telah berhasil menggenggam hatinya dengan kuat, menancapkan pondasi yang kuat dalam hatinya dengan ketulusan cinta dari Igra.

Tangan Annisa kembali bergerak, kali ini dia memegang lembut dagu Igra dan diangkatnya perlahan. Sosok kuat dan tegar yang selama ini Annisa lihat tidak tampak sama sekali di wajah Igra. Annisa menatap dalam ke arah Igra, pandangannya terlihat kosong, tak ada pancaran semnangat dan harapan dari tatap mata Igra.

"Silahkan cerita aja, ungkapin semua aja. Aku tau memang berat gagal seperti ini. Luapin aja keluhan kamu, setidaknya masih ada aku yang mau mendengarkan."

Kegagalan dalam perlombaan yang telah Igra persiapkan lama memang sangat menyakitkan. Persiapan berbulan-bulan yang ia lakukan tidak mampu mengantarkan Igra memenangkan perlombaan. Padahal harapan besar dia taruh pada perlombaan ini karena hadiah bagi pemenang adalah beasiswa penuh kuliah s2  hukum di Belanda.

Perjuangan keras selama perlombaan pun tidak menghasilkan apa yang diinginkan Igra. Dimulai dari pembuatan karya tulis ilmiah yang dipersiapkan secara berbulan-bulan, kemudian presentasi sudah dia lakukan semaksimal mungkin tetapi ternyata masih banyak orang lain yang lebih beruntung ternyata.

Angan-angan Igra jika memenangkan perlombaan ini sudah terlukis jelas, bayangan dirinya pergi ke Belanda, membanggakan orang tua, membanggakan kekasihnya dan banyak orang sudah tergambar jelas dalam bayangannya ketika memenangkan perlombaan ini. Perlombaan ini sudah menjadi satu-satunya harapan bagi Igra, menjadi alasan bagi Igra untuk tetap melanjutkan hidup, menatap dunia dengan penuh motivasi dengan semangat. Tetapi yang terjadi benar-benar tak terbayangkan sama sekali.

Annisa mendengarkan dengan baik keluhan-keluhan Igra, diam tak berbicara hanya untuk mendengarkan apa yang terus diucapkan Igra. Annisa ingin agar Igra menumpahkan segala emosinya, meluapkan segala apa yang ada di pikirannya agar tak ada lagi pikiran-pikiran yang menghambat jalan hidupnya nanti.

"Gimana mau hidup coba kalau harapan satu-satunya sudah hilang?!!" 

Annisa tidak ingin menjawab, dia tahu Igra akan terus berbicara," Apa bisa hidup tanpa harapan?Bukannya harapan itu jadi satu alasan untuk bisa hidup??!!"

"Bagaimana bisa semangat kalau tidak ada motivasi??!! Bodoh sekali ya ternyata aku, bisa gagal seperti ini."

Annisa kali ini dengan cepat menanggapi," Kamu tidak bodoh, ingat kamu masih punya impian lain, kamu masih punya aku untuk motivasi dalam hidup kamu. Selama ini kamu sudah sangat tulus, kamu yang sudah banyak memberi pelajaran hidup buat aku. Aku cuma bisa mengingatkan kalau kamu masih punya harapan lain, kalau tidak ada motivasi tinggal cari aja motivasi lain, cari harapan lain di hidup kamu."

Igra terdiam sejenak, dia menatap Annisa, Annisa melanjutkan berbicara, " Aku ingatkan lagi, kamu masih punya impian lain, kamu sudah sering cerita kalau kamu ingin jadi menteri, kamu ingin jadi duta besar, kamu ingin kuliah di luar negeri, kamu ingin jadi seorang profesor, dan banyak lagi. Lihat sendiri kan betapa banyaknya impian kamu? jalan untuk impian kamu itu bukan cuma di perlombaan ini, masih banyak beasiswa lain, masih banyak kesempatan lain untuk bisa kuliah di luar."

"tapi aku sudah berjuang berbulan-bulan untuk ini, aku sudah berharap sepenuhnya untuk ini, apa usaha aku masih kurang? Apa usahaku sia-sia?"

"Tidak ada usaha yang sia-sia, usaha kamu tidak kurang. Bukankah kamu belajar banyak dari persiapan kamu selama ini? Bukankah kamu jadi lebih banyak tahu karena usaha kamu selama ini? Kamu pernah bilang ke aku kalau melihat kegagalan itu jangan hanya dari satu sisi, lihat sisi lainnya, lihat di balik kegagalan itu ada banyak hal yang bisa kamu dapat. Kamu jadi lebih pintar, jadi lebih banyak tahu, jadi punya pengalaman yang sangat berharga buat kamu. Aku ingetin kalau kegagalan itu tidak bisa dilihat dari sisi depannya saja tetapi lihat sisi belakangnya dimana kegagalan menghasilkan banyak hal jika kamu sadari, itu kamu yang bilang ke aku dulu."

Igra terdiam lagi, "Ini lah kenapa aku ada di sini, sebagai pengingat apa yang sudah kamu beri tahu dulu, menjadi orang yang ada buat kamu di saat-saat seperti ini, ada di saat yang tepat buat kamu bukan hanya di saat kamu senang, yang akan selalu aku ingatkan ke kamu percaya kalau aku selalu cinta kamu, cinta yang tulus buat kamu."

Igra tersenyum kecil, "Memang benar ya seseorang bisa hidup karena impian, impian yang memberi harapan, harapan yang menjadi alasan untuk hidup, hidup dengan penuh motivasi dan semangat. Dan betapa beruntungnya aku, kamu masih tetap jadi harapanku, yang membuatku hidup penuh semangat, dan selalu terbayang impian di kepalaku untuk bisa hidup dengan kamu selamanya." 
Jumat, 21 September 2012

Taman Surga



Sehelai daun itu lepas dari ranting yang menopangnya, turun perlahan melayang-layang tanpa tahu akan kemana terjatuh. Annisa menikmati apa yang dilihatnya sekarang, tidak hanya satu tetapi beberapa helai daun lepas tanpa beban.

Bola mata Annisa bergeser ke kiri dan kanan, melihat ke berbagai arah. Dedaunan yang terjatuh mulai berada pada tempat yang sudah ditentukan, bukan karena mereka sendiri tetapi karena angin yang menentukan. Wajah Annisa mengerut, dilihatnya daun kering berwarna coklat jatuh di atas kubangan air, seketika hilang ditelan air keruh berwarna coklat itu.

Ada lagi daun yang baru saja menyentuh tanah kembali terhempas tak berdaya, baru saja sebentar merasakan bau tanah sudah harus melayang lagi tanpa arah. Daun yang masih berwarna hijau itu terlempar tanpa arah tujuan. Daun yang tidak beruntung karena ranting yang menopangnya sudah rapuh, hilang sudah kesempatan menampakkan kehijauannya bagi ribuan pasang mata yang ingin melihatnya. 

Annisa melihat sedih daun hijau itu, seandainya saja ranting yang kuat yang menopangnya sudah tentu akan ada banyak waktu menikmati warna hijau segar daun itu.

“Nampaknya aku belajar banyak dari dedaunan ini.” Annisa berbicara dalam hati

Taman yang begitu luas ini memancing kaki Annisa untuk bergerak, berjalan di atas batu setapak 
menikmati berbagai macam pemandangan yang tersaji rapi. Berbagai macam warna memenuhi pandangan Annisa, bunga-bunga tumbuh sempurna, birunya danau menyejukkan mata,  hijaunya pepohonan menyegarkan mata.

“Rapuh sekali pohon ini.” Tangan berkulit putih Annisa memegang lembut batang pohon yang cukup besar.

Kulit-kulit pohon yang Annisa pegang mengelupas, memperlihatkan seberapa lama pohon ini berdiri dengan berbagai macam dedaunan berganti-ganti menghiasi kepalanya. Sekarang hanya beberapa lembar daun saja yang masih mau menghiasi kepala pohon tua ini.

“Tebang saja seharusnya pohon ini.” Annisa melihat pohon ini sudah tidak layak lagi untuk berdiri di tempat ini, kerapuhannya bagaikan satu titik hitam di atas kertas putih bersih. Satu pohon tua di antara ratusan pohon-pohon muda lainnya.

Tapi tidak tega juga Annisa jika pohon ini harus ditebang, dia masih hidup dan masih ingin berguna walau dengan segala keterbatasannya ini. Setidaknya akan mudah mencari pohon tua ini di antara banyak pepohonan di sini, tampak berbeda dengan lainnya.

“Baik-baik yaa.” Annisa tersenyum pada pohon tua ini dan berjalan meninggalkannya.

“Awww..” Jari telunjuk Annisa meneteskan darah, tertusuk duri tajam yang merobek kulit indahnya.

Dibalik keindahan warna merahnya ternyata ada bahaya yang membayangi. Annisa lupa mawar merah ini berduri. Lupa di balik kelebihan bunga ini, ada kelemahannya yang menyakitkan, duri-duri yang melindungi keindahan mawar ini, sebuah keindahan yang tidak akan mudah di dapat dan dinikmati.

Sambil mengecup jari telunjuknya Annisa melihat ke arah bunga di sebelahnya. Beberapa lebah sedang menikmati menghisap nektar. Bahan dasar bagi madu yang akan mereka buat nanti. Tidak lupa setelah selesai dan terbang meninggalkan bunga itu para lebah menyebar serbuk bunga yang menempel, memberikan bagi banyak bunga lain yang membutuhkan.

Terlukis guratan senyum di wajah Annisa melihat itu, betapa senangnya menjadi saling menguntungkan. Kembali Annisa berjalan menyusuri setapak dengan pijakan yang kuat.
Betapa senangnya pasti air di danau ini ketika tangan mulus Annisa masuk merasakan dinginnya air. 

Wajah Annisa melihat-lihat ke arah air danau ini, wajah cantik dengan rambut panjang terurainya terlukis manis di atas kanvas jernih air danau ini. Rambut bergelombang hitam terurai rapi di pundak Annisa. Mata bulatnya dihiasi dengan bulu mata yang lentik menjadi penyempurna hidungya yang mancung, bibir kecil manisnya semakin melengkapi bagian-bagian wajahnya yang menjadi satu kesatuan yang indah. Betapa beruntungnya air danau jernih itu bisa melihat dengan bebas kecantikan Annisa.

“Dasarnya terlihat jelas ya.” Annisa berbicara sendiri sambil melihat dasar danau yang tidak terlalu dalam itu.

Kejernihan air di pinggir danau ini memperlihatkan dasar berbatu dengan beberapa ikan berenang bebas di antara arus tenang danau. Annisa merasakan ketenangan melihat jernihnya air ini sama ketika ia merasakan ketulusan cinta yang pernah ia rasa, tanpa kecurigaan dan tak ada yang ditutup-tutupi. 

Berbeda ketika Annisa melihat jauh di tengah danau, tak terlihat dasarnya, hanya ketakutan yang ia rasa ketika melihat danau di bagian tengah itu, tak ada kejelasan, dan tak ada kejernihan.

Wajah Annisa berubah kecewa, di kejauhan matahari sudah ingin kembali ke tempat peraduan, sudah ingin mengakhiri pancaran sinar terangnya. Ini pula yang menjadi akhir Annisa menjelajahi taman indah ini, sebuah taman dengan berjuta keindahan dan pelajaran, sebuah taman yang mengajarkan arti kehidupan, memaknai dalam kesendirian, makna hidup yang begitu sederhana.

Sabtu, 19 Mei 2012

Sebuah Harapan Dari Kerinduan



Setiap kali kaki ini melangkah selalu saja terselip lumpur-lumpur kenangan  dan bahkan jatuh terpeleset untuk  sejenak bermain-main lagi dengan lumpur kenangan  ini. Terasa berat melangkahkan kaki di atas lumpur ini, terasa sulit bangkit lagi karena terasa menyenangkan bermain dengan lumpur ini. Kenangan ini tetapi semakin membuat gelap mataku melihat ke  arah depan, membuatku malas untuk berjalan lagi, dan membuat tak ada setitik cahaya dalam perjalanan cintaku.

Pernah satu waktu aku melihat  seorang wanita dalam perjalananku ini, makhluk  yang paling indah  yang diciptakan Tuhan. Paras cantiknya membangkitkan imajinasi dalam otakku, memfungsikan lagi fungsi otakku untuk membayangkan, membayangkan seandainya wanita cantik ini ikut dalam perjalananku. Belum lagi senyumnya  yang melelehkan hati yang sudah lama keras ini, memputihkan kembali hati yang gelap ini.

Sepatah kata meluncur tanpa halangan ketika aku  mulai menyapanya, tetapi beberapa kata kemudian terhalang tembok-tembok  trauma akan wanita. Terlihat sangat gugup saat itu, dengan terbata-bata mencoba aku memulai pembicaraan singkat ini. Perlahan demi perlahan pula tembok-tembok trauma ini mulai runtuh, runtuh oleh suara lembut wanita itu, bukan saja mampu meruntuhkan tembok penghalangku ini tetapi juga mampu membangun kembali pondasi-pondasi cinta yang sedikit demi sedikit mulai terbentuk.

Perjalanan cinta ini seketika berubah, bunga berwarna-warni tumbuh di sepanjang  jalan setapak yang aku lalui. Beberapa pohon berdaun hijau tegak berdiri menjadi tumpuan yang kuat bagi dedaunan untuk menari mengikuti irama tiupan angin. Danau dengan airnya yang jernih berada di sela-sela pepohonan yang tegak  berdiri, memantulkan cerahnya sinar matahari yang bersinar hangat.

Selangkah demi selangkah aku menikmatinya, senyum dan tawa tak henti-hentinya terlukis jelas di wajahku. Terkadang genangan air keruh dan sedikit berlumpur terinjak oleh langkah bahagiaku ini, air keruh dan lumpur  yang penuh dengan kenangan buruk akan cinta. Tetapi setidaknya itu tidak membuatku terjatuh, aku hanya berhenti sejenak, membersihkan kakiku yang terkena air dan lumpur, kemudian berjalan lagi  dan kembali menikmati indahnya jatuh cinta.

Perjalanan yang begitu menyenangkan karena wanita itu, yang akhirnya membuatku lupa bahwa kekecewaan, kesedihan, kecemburuan, penderitaan sudah menungguku di depan sana. Awan hitam yang penuh dengan kekecewaan mulai menghampiri dibarengi dengan kilatan kilatan kecemburuan yang dengan mudah menggoyahkan kekuatan pohon cinta yang sudah tegak berdiri. Tetesan-tetesan kesedihan akhirnya ikut turun membasahi bunga-bunga cinta yang menemani perjalananku, setetes demi setetes dan kemudian secaratak beraturan turun dengan cepatnya, menggenangi pijakan yang aku pakai saat ini, membanjiri bunga-bunga yang selalu menghiasi perjalananku ini.

Kembali kebahagiaanku membawaku masuk ke jurang kesedihan yang begitu dalam. Ketika aku sudah terbang tinggi karena cinta,  membuatku lupa akan daratan yang selalu aku pijak, yang akhirnya menghempaskan aku kembali ke tanah dengan rasa sakit dan derita. Wanita selalu bisa membuat bahagia tetapi selalu juga bisa membuat menderita jika cinta ada di baliknya.

Aku hanya bisa kembali berjalan, tidak mungkin aku hanya berdiam diri hanya karena cinta, tidak mungkin aku tidak melanjutkan langkahku hanya karena disakiti. Seperti saat pertama bertemu wanita itu pasti nanti di depan wanita lain yang lebih baik sudah menunggu dalam perjalanan cintaku ini. 

Untuk saat ini kembali jalan becek yang penuh dengan genangan air keruh dan lumpur menemaniku. Kenangan buruk kembali teringat ketika aku melihat ke arah kubangan air keruh dan lumpur itu. Setidaknya aku terus melihat ke depan dan berjalan berhati-hati, aku tidak ingin terjatuh karena lumpur-lumpur ini.

Keyakinanku akan cinta terus membawaku ke jalan yang benar, ketika ada persimpangan, keyakinan akan adanya cinta yang membahagiakan akan membawaku memilih jalan yang benar. Kebahagiaan sudah menungguku di depan, kebahagiaan yang akan menghapuskan kesedihan masa lalu, masa lalu yang membentuk hatiku sekarang ini, yang menguatkannya seperti sekarang ini, dan yang mendewasakan aku sampai seperti ini.

Memang benar adanya cinta akan membawa kebahagiaan, tetapi juga memang benar adanya cinta akan membawa kesedihan. Aku tidak bisa menentukan kemana cinta akan membawaku, aku hanya bisa mengikuti cinta, hanya bisa merasakannya, dan hanya bisa memahaminya saja. 

Yang terpenting saat ini adalah aku yakin bahwa cinta akan membawa kebahagiaan tetapi cinta juga akan membawa kesedihan. Aku hanya bisa menikmati semua itu, berharap perjalanan cintaku kali ini akan kembali dipenuhi ribuan bunga warna-warni, dedaunan yang menari di atas pohon yang berdiri kokoh, dan terbentang danau luas dengan sinar matahari hangat di atas permukaan air jernihnya itu. Sebuah harapan dari kerinduan akan kebahagiaan.
Minggu, 06 Mei 2012

Boneka Beruang



Suara tangis seorang perempuan perlahan mulai terdengar, dari yang tadinya pelan sedikit demi sedikit mengeras dan memekakan telinga. Kemudian suara langkah kaki juga terdengar menjadi pengiring nyanyian tak bernada itu , langkah kaki yang dengan cepat menuju ke arah suara tangis itu.

"Kamu kenapa nak?" Suara perempuan dewasa mencoba menenangkan seorang anak yang terus saja menangis layaknya menyanyi tanpa nada dan tak beraturan

Tak ada jawaban, tangisannya justru semakin keras ketika pelukan hangat mencoba menenangkan. Seorang anak dan ibu sekarang sedang berpelukan hangat mencoba kembali membuat suasana menjadi tenang.

Dengan tertatih-tatih akhirnya anak itu berbicara, "Boneka kesayanganku hilang bunda."

Ibu anak itu menghela nafas panjang.Setidaknya dia sudah tahu kenapa anaknya menangis, kekhawatiran seorang ibu mulai hilang perlahan. 

"Yaudah, kita cari dulu aja yuk." Ajak ibu itu.

Sang ibu sadar bahwa bahwa boneka itu memang boneka yang sangat disayangi anaknya itu. Sang ibu tidak heran anaknya menangis seperti itu ketika kehilangan bonekanya.  Boneka kesayangannya itu sudah menemani sang anak sejak dia berusia dua tahun sampai sekarang berusia empat belas tahun.

Menjadi tidak biasa memang ketika remaja berusia empat belas tahun masih saja bermain dengan boneka. Tetapi itu memang bukan boneka biasa, boneka beruang yang sedang ukurannya itu menjadi sosok pria yang selalu menemani sang anak.

Sejak kecil anak itu sudah ditinggal bapaknya yang menceraikan ibunya. Dan sekarang yang tersisa hanya lah dua orang sosok wanita tangguh yang mencoba menjalani hidup bersama. Boneka beruang itu menjadi sosok yang setidaknya bisa menjadi tempat bercerita untuk anak itu yang akhirnya rasa sayang terhadap boneka itu hampir sama dengan rasa sayang pada ibunya.

Rasa kehilangan yang berat melanda anak itu walaupun hanya kehilangan sebuah boneka tetapi seperti kehilangan seorang yang disayangi. Dua belas tahun bukanlah waktu singkat, bukan lah waktu yang akan cepat bisa dilupakan. Ratusan bahkan ribuan kenangan sudah tersimpan dengan baik dalam memori selama dua belas tahun bersama boneka kesayangannya itu, boneka yang menjadi sosok pria dalam keluarga, yang selalu bisa menjadi tempat bercerita dan meluapkan emosi hati.

Tidak mudah bagi anak itu untuk kembali bahagia setelah bonekanya hilang. Pikirannya melayang kemana-mana, membayangkan bagaimana kalau ibunya juga akan meninggalkannya, bagaimana jika nantinya dia sendiri menjalani waktu-waktunya dalam hidup.

~~~

Tatapan matanya kosong, melihat ke arah depan, melihat rumput-rumput yang tertiup angin, melihat daun-daun yang menari mengikuti iringan angin. Sang anak pergi ke padang rumput luas agak jauh dari rumahnya, tempat favorit sang anak ketika merasa sedih. Pergi untuk menyendiri sejenak setelah satu hari kemarin mencari-cari boneka kesayangannya itu. 

Angin bertiup semakin kencang, ranting-ranting pohon yang tadi hanya terdiam mulai ikut menari bersama dedaunan. Tarian ranting yang begitu kencang menggugurkan daun satu per satu, daun-daun hijau mulai lepas dari rantingnya karena tidak kuat  tiupan angin yang kencang.

Dalam hati sang anak berbicara, "Andai saja pohon itu punya mulut dan mata pasti dia sudah menangis, pasti dia sudah sedih karena kehilangan daun-daun hijaunya itu."
Sejenak anak itu memandangi pohon itu, meratapi sedih pohon itu yang terlihat sedikit tidak bagus karena daun-daunnya berguguran.

Tetapi kemudian sang anak tersadar sesuatu dibalik ratapannya itu, "Tapi mungkin aja pohon itu tidak akan menangis, ketika satu daun lepas maka kemudian hari pasti tumbuh daun lagi yang lebih hijau."

Anak itu terdiam sejenak lagi dan kemudian berbicara kembali dalam hati, "Ternyata selalu ada hal baru dari kehilangan, kehilangan sudah menjadi unsur kehidupan pohon itu ternyata. Andai saja dia itu manusia pasti sudah tersenyum bahkan tertawa mendengar aku berbicara bahwa dia akan menangis ketika kehilangan daun-daunnya."

Setiap manusia pasti akan mengalami kehilangan, kehilangan menjadi sebuah proses untuk lebih menghargai rasa memiliki. Tak akan pernah memiliki sesuatu seutuhnya jika belum pernah merasakan kehilangan. Kehilangan menjadi suatu hal yang harus dirasakan untuk bisa menghargai apa yang dimiliki.
Berbagai macam cara dan tindakan yang dilakukan untuk menghadapi kehilangan, tidak ada yang benar dan tidak ada yang cara yang salah untuk menghadapi kehilangan. Ketika sudah merasa bahwa betapa pentingnya menghargai dan mempertahankan apa yang  dimiliki maka saat itu lah masa-masa sulit dalam menghadapi kehilangan sudah terlewati.
Minggu, 26 Februari 2012

Serpihan Kenangan


Melihat pintu kayu dengan guratan-guratan tua di wajahnya itu seketika beberapa serpihan kenangan terlintas di pikiranku. Serpihan-serpihan kenangan yang mulai sambung menyambung membentuk satu kenangan yang utuh ketika aku mulai melewati pintu kayu lapuk itu.

Terbayang semua begitu aku masuk ke dalam ruang tamu, bayangan masa lalu memperlihatkan betapa tertata rapi ruang tamu itu. Berbeda dengan yang aku lihat sekarang, ruangan kosong berdebu lah yang memenuhi pandangan mataku sekarang ini. Tak ada lagi pot bunga berwarna-warni di sudut ruangan ini, hanya rangkaian sarang laba-laba menjadi dekorasi sudut ruang ini.

Berjalan sedikit kembali sebuah ruangan membawaku terbang ke masa lalu, melihat lagi betapa hangatnya suasana saat itu. Saat dimana ketika aku baru saja bisa berjalan, nenek dan kakekku mengajak aku berlari-lari kecil. Tawa canda dan tangis menghias susasana saat itu, tawa ketika nenek tersenyum ke arahku dan tangis ketika aku terjatuh mengejar kakekku. Sejenak wajahku terhias oleh senyuman ketika terbayang kenangan bahagia itu.

Seketika aku kembali ke masa sekarang ketika tangan istriku memegangku lembut. Kembali aku berjalan pelan menuju ruangan lainnya, kali ini bersama istriku, mengajaknya untuk ikut terhanyut dalam kenangan indahku saat kecil. Masih terukir dengan kuat di otakku memori-memori di kamar ini. Ketika aku bercanda bersama nenekku, ketika aku menarik-narik rambut nenekku. Tawa bahagia terukir jelas di wajahku saat itu, bagaimana ketika kakekku selalu menemani ketika aku bermain di atas tempat tidurnya, menunda sebentar waktunya untuk tidur hanya untuk menemaniku bermain.

Belum lagi ketika aku menonton televisi bersama kakek dan nenekku, bernyanyi lagu apa saja yang aku ingat ketika menonton televisi. Dengan suara yang tidak bagus sama sekali saat itu aku bernyanyi seadanya, tidak peduli kata-kata yang berbeda dari lirik sebenarnya, yang terpenting bisa bernyanyi bersama dengan kakek dan nenekku. Tetapi itu 25 tahun yang lalu, ketika aku baru berumur 4 tahun, sudah lancar berjalan tetapi masih sulit untuk membaca dan menulis.

“kekkkk..susuu..” Kata-kata yang selalu terucap ketika aku ingin tidur saat itu. Sebotol susu yang mengantarku tidur ditemani kakek dan nenekku.

Lebih banyak kuhabiskan waktuku bersama kakek dan nenekku ketika aku menginap di rumah mereka dulu. Ayah dan ibuku lebih banyak berada di kamarnya sendiri di rumah yang terbilang besar ini. Kenyamanan dan suasana hangat begitu terasa ketika aku bersama kakek dan nenek, itu yang membuatku selalu ingin menginap di rumah ini. Seandainya saja saat itu aku sudah lancar berbicara, sudah bisa berpikir dengan baik tentunya aku akan berbicara dengan orang tuaku untuk diasuh saja oleh kakek dan nenek.

Terasa berbeda memang, orang tua ku selalu saja membuatku menangis saat itu, banyak memberi nasehat, dan tidak lupa kemarahan selalu terdengar di telingaku. Terkadang pula tangan ibuku yang mendarat tepat di punggungku, memukul cukup keras untuk menghentikan tangisanku dan sudah bisa ditebak saat itu aku tidak berhenti menangis , tangisanku semakin keras dan semakin keras pula pukulan ibuku.

Tapi memang begitu lah cara orang tuaku mengasuh, cara mengasuh yang membentukku menjadi seperti sekarang ini, menjadi laki-laki yang kuat, yang tangguh dan pekerja keras. Kesuksesanku sekarang ini memang tak lepas dari peran orang tuaku.

Menjadi berbeda ketika aku bersama kakek dan nenek, nasehat-nasehat yang mereka beri padaku sungguh enak di telinga. Tidak ada beban dalam diri mereka ketika mengasuhku, tidak pernah mereka membuatku menangis karena amarah, ketika aku menangis pun mereka menenangkanku dengan penuh kesabaran.

Ya memang tanggung jawab yang besar padaku yang menjadikan orang tuaku mengasuh dengan keras. Mereka ingin aku menjadi laki-laki yang sukses nantinya, dan aku selalu bersyukur bisa mempunyai orang tua seperti mereka , ayah ibuku yang sekarang sudah mulai tampak keriput di wajah mereka. Keriput-keriput yang penuh kenangan, yang mengantarku sampai kepada kesuksesanku sekarang.

Tak ada hentinya serpihan-serpihan kenangan ini berputar di otakku, mengajakku untuk berpikir, untuk menyatukan serpihan-serpihan itu. Serpihan kenangan yang tak ada habisnya ketika aku berkunjung ke rumah kakek nenekku, yang sampai sekarang masih ada walaupun tidak terawat dengan baik.

Walaupun rumah ini sudah berusia sangat tua setidaknya ketika aku berkunjung ke rumah ini memberi aku kesempatan untuk kembali ke masa lalu, dan berenang-renang dalam lautan kenangan. Serpihan kenangan yang sulit aku satukan ketika aku tidak berada di rumah ini, serpihan kenangan yang mengingatkanku cara mengasuh yang berbeda antara orang tuaku dan kakek nenek, serpihan kenangan yang selalu membuatku tersenyum ketika aku berhasil menyatukannya.Ya rumah tua ini membuatku selalu mengenang lagi kakek dan nenek yang saat ini mungkin juga sedang tersenyum melihatku berkunjung ke rumah tuanya ini.
Selasa, 21 Februari 2012

Oni


Seperti aliran sungai yang terus mengalir uang yang mengalir ke orang tua Oni selalu saja mengalir, tak pernah berhenti seperti sungai yang kehilangan airnya saat musim kemarau panjang. Orang tua Oni bekerja sebagai pengusaha yang sukses, usahanya bermacam-macam dan itu yang membuatnya uang mereka selalu mengalir, tidak terpengaruh jika ada satu usaha yang mengalami kerugian karena usaha yang lain akan menutupinya.

Begitu mudahnya uang ada begitu mudahnya juga Oni meminta banyak hal, dari mobil, handphone, sampai rumah untuk dia sendiri. Padahal usia Oni masih 17 tahun tapi barang-barang yang dia miliki melampaui jauh dari apa yang semestinya dimiliki anak seusianya.

"Papa, mobil yang aku punya ini terlalu besar pa." Seperti biasa Oni mengeluh tentang apa yang dimilikinya dan itu menjadi senjatanya juga untuk bisa mendapatkan yang baru. Dengan keluhan maka akan muncul yang baru, itu lah yang selalu dilakukan Oni.

Seperti biasa pula dengan santainya papa Oni menjawab akan membelikan mobil baru. Dan memang benar keesokan harinya mobil lama sudah diganti dengan mobil yang baru. Belum puas akan keluhannya Oni kembali mengeluh pada papanya, kali ini Oni sambil melihat ke arah cermin di ruang keluarganya itu, "Kurang pas ni pa kalau di leher aku kalungnya bukan kalung emas putih."

Sang papa tersenyum, "Iya deh iya anakku yang cantik, nanti papa belikan kalung buat kamu." Pintar memang Oni dalam meminta suatu hal, dengan mudahnya pasti permintaannya akan dikabulkan karena selain uang orang tuanya yang melimpah dia juga merupakan anak tunggal di keluarganya. Satu per satu permintaannya selalu dikabulkan dan itu menjadikan dia hidup dengan sempurna.

Begitu lah kehidupan yang dijalankan Oni, begitu sempurna di mata orang lain tetapi ternyata belum sempurna di mata Oni. Selalu saja ia ingin hal yang lebih dari apa yang diinginkan, tetapi memang begitu lah selalu saja tidak puas dengan apa yang dimiliki. Ketika berada di atas maka tidak akan mau untuk melihat ke bawah, dan itu pula yang terjadi pada Oni, selalu ingin melihat ke atas, selalu mencari kesempurnaan.
~~~

Perlahan demi perlahan satu per satu usaha orang tuanya mulai berguguran, seperti daun di musim gugur, satu per satu mulai berjatuhan menyentuh tanah, mulai jatuh dan hilang. Satu per satu permintaan yang diminta oleh Oni juga semakin sulit untuk dikabulkan. Bukannya dikabulkan justru apa yang Oni punya sekarang mulai hilang sedikit demi sedikit.

Sederas air sungai mengalir, sebanyak air sungai yang mengalir pasti suatu waktu akan ada hambatan yang menghadang laju air itu. Uang orang tua Oni mulai terhambat alirannya, entah pergi kemana uang-uang itu, dan sampai pada akhirnya berhenti sama sekali. Tak ada lagi aliran uang, tak ada lagi uang yang melimpah.

Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan Oni sekarang, kesempurnaannya perlahan mulai memudar. Apa yang dia miliki mulai hilang satu per satu. Kekecewaan dan kesedihan tentu dirasakan Oni, dan tentunya sekarang penyesalan lah yang paling mendominasi dalam hati Oni. Ketika melihat ke cermin dalam hati Oni hanya bisa berkata," Tidak masalah sebenarnya dulu aku hanya memakai kalung emas biasa, dari pada sekarang aku tidak memakai kalung sama sekali."

Oni hanya duduk termenung dan melihat ke arah luar, melihat mobil yang dia miliki sudah tidak ada. Lagi-lagi penyesalan kembali datang, "tidak apa kalau aku punya mobil yang besar itu dari pada sekarang aku sudah tidak punya mobil lagi."

Melihat keadaan sekitar Oni kembali hanya bisa bersedih, melihat keadaan rumah yang jauh berbeda dari dulu, membandingkan dengan rumah mewah yang dahulu. Ini hanyalah sebuah rumah sederhana, ukurannya pun lebih kecil dari rumahnya yang dulu. Sekarang Oni harus menghadapi kenyataan, menghadapi bagaimana dia bisa bertahan dengan sikap perfeksionisnya ketika dirinya berada di bawah.

Sekarang Oni merasakan bagaimana melihat kesempurnaan dari ketidaksempurnaan yang ia alami, ia merasakan bagaimana rasanya melihat ke atas dengan kondisinya sekarang yang sedang ada di bawah, dengan kondisi jauh dari kemewahan. Oni juga tersadar bahwa tidak ada yang sempurna, tidak ada gunanya mengejar kesempurnaan, mengejar kesempurnaan hanya membuang waktunya, dan membuang segalanya. 

Ketika berada di atas seharusnya bukan hanya selalu melihat ke atas, terus melihat kesempurnaan tetapi seharusnya melihat ke bawah untuk  melihat bagaimana ketidaksempurnaan itu ada. Melihat begitu mahalnya kesempurnaan yang Oni miliki dulu, dan sekarang hanya penyesalan dan kesedihan yang dirasakan Oni.

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

blog-indonesia.com

Indonesia

Indonesia