blogger widget
Minggu, 04 Desember 2011

Pemimpin Yang Menggembala


Senang rasanya ketika sekarang melihat ayahku yang selalu tersenyum, langkah kakinya terlihat ringan ketika berjalan, dan selalu terpancar aura kebahagiaan dari dirinya. Dengan penuh semangat selalu menuntun, memerintah, memberi petunjuk, dan mengarahkan demi menyambung kehidupan.

Ya, dia adalah seorang penggembala yang terus merantau ke berbagai penjuru negeri. Tidak hanya satu macam hewan gembala saja yang ia pimpin, ada domba, kuda, babi, maupun sapi. Berbagai macam hewan dengan sifat berbeda berhasil ayahku satukan menjadi gerombolan hewan yang penurut.

Sudah 17 tahun aku menemani ayahku, menemani dimulai ketika aku masih digendong sampai ketika aku sudah bisa menggunakan kakiku untuk berjalan dan berlari. Entah sudah berapa hewan gembala yang mati karena usia, hewan-hewan ini adalah generasi yang baru yang digembalakan ayahku. Waktu 17 tahun tidaklah sedikit, banyak dari mereka yang sudah beranak, sudah dijual, maupun sudah mati karena usia.

Hanya aku dan ayahku, kami berdua lah yang terus menuntun hewan-hewan ini. Tidak ada sosok perempuan yang ikut membantu, tidak ada kelembutan yang ikut menggembalakan semua hewan ini. Ibuku memberikan nyawanya padaku ketika aku dilahirkan, nafasnya dihembuskan padaku ketika aku lahir walaupun akhirnya ibuku harus tidak bernafas lagi. Sejak itu aku hanya bersama ayahku tanpa ada bayangan wajah ibuku, tanpa ada kenangan manis bersama ibuku.

"Mau tidak mau aku harus menggantikan ayahku tidak lama lagi, aku sudah dewasa, aku sudah belajar banyak, aku harus menggantikannya." Dalam hati aku merenung, berbicara dalam hati, menatap ayahku yang sedang mengarahkan hewan gembalanya mencari makan.

Angin sepoi-sepoi, matahari yang bersembunyi dibalik awan, suasana ini membawaku duduk termenung di atas batu besar, membawaku jauh kembali ke masa lalu. Masa dimana aku melihat perjuangan ayahku untuk menaklukkan para hewan gembala ini.

Melihat bagaimana kuda-kuda yang terus meronta-ronta ketika diperintah, kuda yang berlari jauh ketika mendengar suara langkah kaki mendekat, dan yang tidak segan menendang ketika merasa terganggu. Perlahan ayahku mulai bisa mengendalikannya, memahami sifat kuda yang masih liar itu, menerima segala sifatnya dan akhirnya bisa menaklukkan kuda itu.

Beda lagi saat ayahku mencoba menggembalakan sapi. Badannya yang besar dan tegap jelas
memperlihatkan seberapa cepat mereka berjalan. Kelambatan dan kemalasan para sapi itu sungguh menyulitkan, tidak akan mampu satu tenaga manusia mendorong kawanan sapi itu. Tetapi dengan kesabaran dan dengan membiasakan para sapi itu untuk menurut tentu saja ayahku kembali bisa menjadi panutan yang baik untuk para kawanan sapi.

Tidak bisa diatur, liar, dan kotor. Itulah gambaran jelas tentang kawanan babi yang harus digembalakan ayahku. Tidak biasa memang ketika harus menggembalakan babi, sifat tidak mau diatur menjadi hal tersulit yang diatasi. tidak jarang para babi itu berlari bebas ketika mereka diberi kebebasan. Ayahku tidak menyerah begitu saja, dia coba beradaptasi dengan sifat para babi itu. Dia mengurung para babi itu dikandang, membiasakan para babi untuk mendengarkan senjata utama di tangannya yaitu lonceng yang diikat di tongkat.Anjing gembala pun sempat turut membantu ayah untuk menggembalakan kawanan babi ini, memberi perintah secara tegas dan keras memang diperlukan untuk mengatasi para babi yang tidak bisa diatur ini.

Mudah memang ketika dahulu ayahku menggembalakan kawanan domba. Sifat penurut, kalem, dan tenang menjadikan tidak ada masalah berarti ketika harus menggembalakan para kawanan domba.

"Nak ayo sini.." Suara ayah sontak membangkitkanku dari khayalan masa lalu.

Aku segera menuju ke arah ayah, ikut membantu ayah menggembalakan kawanan hewan gembala ini. Ada beberapa anjing gembala yang ada di dekat ayah, itu pun hanya sebagai pelengkap saja agar terlihat sebagai penggembala. Ayah tidak perlu anjing gembala itu, semua kawanan hewan itu sudah menurut dan patuh pada ayah. Berbagai cara sudah dia lakukan untuk mengendalikan berbagai macam sifat dari kawanan hewan-hewan ini. Kasih sayang, pengertian, ketegasan, dan menjadi bijak adalah senjata utama ayahku untuk menggembalakan semua ini.

"Ahh..sial!!" Aku mengeluh dalam hati ketika kawanan hewan gembala ini tidak mau menurut padaku. Cara yang kulakukan padahal sama dengan ayahku, aku sudah menggerakkan tongkat milik ayahku, menjadikan lonceng ikut berbunyi seirama dengan goyangan tongkat. Tetapi mereka tidak mau menurut.

"Anakku.." Ayah berjalan mendekatiku.

"Kamu harus sabar nak, tidak mudah memang ketika pertama kali kamu harus mengatur kawanan hewan-hewan ini. Kamu harus tau sifat-sifat mereka, kamu harus mencoba dekat dengan mereka dengan penuh kasih sayang, dan kamu harus selalu bijak ketika membawa hewan-hewan gembala ini nak..."Ayahku memberikan nasehat.

Memang benar tidak mudah ketika pertama kali aku harus menggembalakan kawanan hewan yang bermacam-macam ini. Memang benar apa yang dikatakan ayahku, nasehatnya harus aku dengarkan baik-baik dan harus benar-benar aku terapkan sebaik mungkin.Inilah saatnya aku menggantikan ayahku menjadi seorang pemimpin para hewan-hewan ini, tidak mudah memang. Aku harus mengenal kawanan hewan ini dengan baik, mengerti sifatnya, tau kapan harus bersikap tegas, dan selalu bijak ketika menuntun mereka.
Sabtu, 03 Desember 2011

Andai Aku Tuhan


Pemandangan biasa yang selalu aku lewati, dedaunan hijau menari-nari mengikuti iringan angin, rumput-rumput pendek bergoyang-goyang seirama, dan warna hijau mendominasi sejauh mata memandang. Tak ada pepohonan yang sakit, semua tumbuh dengan subur, daun-daun hijau lebat senantiasa memayungi pepohonan itu.

Tidak terbayangkan betapa indahnya melihat semua itu ketika aku melewati jalan setapak ini, tertata rapi dengan batu-batu kali yang ditanam di tanah. Perlahan berjalan menapaki jalan bebatuan ini,memandang hijaunya rumput, berhati-hati agar tidak menginjaknya. Aku menikmatinya, jalan menuju negeriku.

Semakin berjalan, semakin banyak yang bisa aku lihat. Pemandangan berganti menjadi suatu tontonan yang tidak membosankan untuk menemani perjalananku ini. Dari pepohonan dan rerumputan hijau, kali ini bukit-bukit berjajar tidak beraturan. Terlihat dari jauh bukit batu berdiri tegap menantang langit, diselingi sedikit rumput liar dan pohon kecil di badan bukit. Memberi warna tersendiri untuk bukit-bukit itu, tidak hanya warna batu saja yang terlihat, diselingi warna hijau nampak bukit semakin terlihat sedap untuk dipandang.
"
Ahh..!!Aku tidak menyukai ini!!" Perkataan yang selalu muncul dalam hatiku ketika aku mulai masuk ke perbatasan negeriku sendiri.

Di balik bukit-bukit batu yang baru saja aku lewati selalu saja bersembunyi hal-hal buruk di baliknya. Bukan hanya pemandangan yang tidak enak dipandang, rumah-rumah yang tidak tertata rapi, kelakuan orang-orang di dalamnya, sungguh membuatku tidak ingin kembali ke negeriku sendiri. Tetapi apa daya, aku lahir di negeri ini, aku membanting tulang untuk negeri ini. Setidaknya aku tidak terlalu malu dengan semua ini, negeriku ini selalu bersembunyi di balik bukit-bukit batu yang mengelilinginya, memberiku cukup ketenangan tidak banyak orang lain melihat.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku dan penduduk lainnya hanya bisa diam saja, menutup mulut rapat-rapat, mengaliri telinga dengan keringat yang terus mengucur. Mencari kesibukan sendiri, terus bekerja untuk tidak mendengarkan apa yang diperintahkan pada kami.

Seenaknya sendiri para penguasa memerintah, mengambil hak kami seperti merampas permen dari anak kecil. Begitu mudahnya hak kami dirampas, hak untuk hidup, hak untuk keadilan. Kami hanya lah rakyat yang tidak punya apa-apa, terinjak-injak oleh orang yang lebih berada, diinjak layaknya semut yang sedang berusaha mencari kehidupannya.

Uang menjadi senjata utama di negeri ini, menentukan hidup mati seseorang. Seandainya saja aku dan penduduk lainnya punya uang, tidak akan begini nasibku. Tidak akan mereka bisa mengambil nyawa anakku!! Nyawa yang terbuang sia-sia hanya karena anakku dituduh mencuri beras. Tidak ada keadilan, sang hakim yang katanya bijak, nyatanya dengan mudahnya mengetukkan palu, palu yang mencabut nyawa anakku.

Dibalik semua itu lagi-lagi uang lah yang berperan penting, orang-orang berada tidak ingin negeri yang mereka akui sebagai negeri mereka ini penuh sesak oleh orang-orang tak berguna seperti kami. Tidak ada yang bisa keluar dari negeri ini, kami dipenjara di balik bukit-bukit batu. Hanya ketika kami bekerja paksa untuk mengambil kekayaan alam kami boleh keluar dari negeri ini, itu pun hanya sebentar. Mengangkut hasil alam yang sudah di dapat, membawanya dengan tulang-tulang kurus kami.

Udara yang berbeda ketika kami keluar, udara kebebasan yang begitu segar, udara yang sudah lama tidak kami hirup. Kebebasan, keadilan, hidup layak.Itulah yang selalu aku teriak-teriakkan, teriakan keras dalam hati, tidak mampu jika mulut kecilku ini harus berteriak keadilan, harus menuntut kebebasan. Dengan mudah sabetan pedang akan mendarat di mulutku jika kata-kata itu keluar dan terdengar banyak orang.

Seandainya saja aku Tuhan, aku akan melakukan banyak hal untuk negeri ini. Aku akan membutakan para hakim, akan aku ambil matanya, bukannya hukum itu harusnya buta??!! Tidak akan ada hakim yang bisa melihat, tidak akan tahu berapa uang yang ia dapat ketika disuap. Tidak akan bisa dia melihat mana orang yang miskin, mana orang yang kaya. Dia hanya bisa mendengar, mendengar dengan telinga mereka, mendengar dengan hati mereka, mendengar mana yang merupakan kebenaran, mana yang merupakan kebohongan.

Para pemimpin negeri ini akan aku ambil mulutnya!!!Tidak perlu banyak bicara, tidak perlu banyak
memerintah sana dan sini. Tangan dan kaki lah yang banyak bekerja, biarkan mereka bicara dengan bahasa isyarat, bicara seperlunya, lebih banyak memberi contoh dari pada memerintah,lebih banyak bekerja dari pada berbicara. Akan aku buat lubang yang lebih besar lagi di telinga mereka, semakin jelas mendengar rakyatnya, dan semakin peka pada rakyatnya.

Tapi sayang aku bukanlah Tuhan, bukan seorang yang bisa melakukan segalanya.

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

blog-indonesia.com

Indonesia

Indonesia