blogger widget
Selasa, 10 September 2013

Sore Itu di Rumah


Suasana mencekam menyelimuti sore ini, di luar rumah aku mendengar suara sirine maupun suara tembakan. Aku dan ibu hanya bisa berdiam diri di kamar tanpa suara, berharap tak ada tentara yang masuk ke rumah ini. Aku mendengar di kejauhan orang-orang berteriak dengan keras, suara dobrakan pintu, dan yang paling meyedihkan adalah suara jeritan yang berakhir hening ketika suara tembakan terdengar, yang itu berarti mereka yang dianggap komunis dibunuh di tempat.

“Buka Pintunya!!!!” Sambil seorang tentara mendobrak-dobrak pintu.
Tak ada tanggapan pintu pun mereka dobrak dan segera mereka menyeret keluar seorang anak dan ibunya dari dalam rumah. Beberapa obrolan terdengar walaupun aku tak tahu pasti apa yang mereka bicarakan, beberapa saat kemudian terdengar suara tangisan anak itu dan suara jeritan ibu itu. Tak berapa lama berubah kembali menjadi hening, suara tembakan mengheningkan jerit dan tangis. Aku semakin takut, aku tahu mereka berdua tinggal dekat dengan rumahku, hanya berjarak 3 rumah dari rumahku. Pertanda sebentar lagi para tentara akan sampai ke rumahku.

“Ibu, kita harus lari dari sini.”

“Tidak mungkin Ina, sudah tidak ada waktu untuk kita lari.” Ibuku tak bisa berbuat apa-apa.

“Lalu kita hanya berdiam di sini saja?” Aku semakin takut dan khawatir.

“Itu lah yang bisa kita lakukan sekarang, ibu tak tahu harus berbuat apa, nampaknya ini akan jadi hari terakhir kita.” Perkataan ibu ini makin membuatku takut, aku lemas tak mampu bergerak.
Akhirnya tiba saat penghakiman aku dan ibuku. Aku mendengar suara pintu rumahku dipukul keras-keras. Aku hanya terdiam tak menjawab suara di depan. Tak berapa lama pintu rumahku dihancurkan dengan senapan yang mereka bawa.

Suara langkah kaki para tentara menjadi penghitung detik-detik terakhir aku dan ibuku di dunia. Mereka dengan nada membentak mencari-cari orang di rumah, mendobrak setiap pintu yang ada, mencari orang yang ada di dalamnya.

Sampai pada akhirnya mereka menemukan kamar di mana aku dan ibuku bersembunyi, ibuku berteriak keras dan langsung dipukul dengan senapan yang mereka bawa. Aku hanya bisa diam dan menangis, aku dan ibuku segera diseret keluar dari rumah. Aku dan ibu dipaksa berlutut di jalan di depan rumah.

“Kamu anggota PKI kan??!!” Dengan nada tinggi tentara itu bertanya pada kami.Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku saja, tak mampu kata-kata keluar dari mulutku.

“Jangan Berbohong!!!” Rambutku ditariknya ke atas dan dipaksa melihat wajahnya.

Sekali lagi aku ditanya olehnya dengan tangannya masih menarik kuat rambutku, aku hanya bisa menahan sakit, “ Kamu PKI kan??!!!”

“Bukan.” Aku menjawab dengan suara pelan, tak ada tenaga aku untuk bersuara

Mendengar jawabanku tadi, aku ditampar dengan keras oleh tentara lain, “ Jawab yang keras!! Kamu PKI kan??!!” Ibuku menjerit melihat aku ditampar oleh tentara, melihat itu tentara lain kembali menampar ibuku dengan keras.

Aku memukul tangan tentara yang menarik rambutku, membuatnya terlepas dari rambutku. Aku segera memeluk ibu yang terlihat tak berdaya.

“Mereka berdua bukan anggota PKI.” Suara bernada berat memberi tahu pada tentara yang sudah bersiap mengeksekusi mereka.

“saja mereka.” Suara itu kembali terdengar, aku seperti mengenal suara itu,.suara yang selalu aku ingat dan terus membekas di pendengaranku.

“Siap komandan.” Para tentara dengan kompak menjawab perintah itu.

Para tentara yang ada di depanku segera pergi mendengar perintah tadi. Aku memberanikan diri melihat ke arah orang yang memberi perintah tadi. Aku melihatnya dan ternyata benar, dia adalah Endrian, seorang yang aku cinta dulu. Aku merasa tak percaya, aku melihat matanya dan akhirnya yakin dia adalah Endrian. Endrian tak berkata apa-apa ketika aku melihatnya, dia hanya diam, melihat ke arah para tentaranya yang berjalan menjauh.

Endrian belum beranjak dari tempatnya tadi, jarak yang tidak begitu jauh untuk melihat sosoknya secara utuh. Aku melihat kaki Endrian bersiap untuk melangkah, aku masih tetap tak mau mengalihkan pandanganku darinya. Terjadi hal yang begitu luar biasa, hal yang membuatku serasa dibawa terbang melayang menjauh dari tanah. Kesakitan yang aku rasakan saat ini tak aku rasakan sekarang, ketakutan dan kekhawatiran lenyap begitu saja, hanya kebahagiaan yang aku rasakan saat ini. Endrian sebelum pergi melangkahkan kakinya, kepalanya menoleh padaku, matanya menatap mataku, dan yang menjadi luar biasa adalah Endrian tersenyum kecil padaku.

Hanya tiga detik mungkin senyuman itu terhias di wajahnya, tapi ini sungguh menjadi hal yang luar biasa bagiku, tak bisa terlukiskan kata-kata perasaan yang aku rasakan saat ini. Seorang penyelamat hidupku yang memberi senyumnya padaku, di saat yang begitu tepat, saat dimana aku berdiri di atas jurang kematian, senyuman yang memberiku harapan untuk hidup dan keyakinan yang akan membuatku terus berjuang untuk cinta.

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia