blogger widget
Minggu, 23 September 2012

Sebuah Alasan untuk Hidup



Tak seperti biasanya, seorang berbadan tegap dan gagah berdiri sekarang ini sedang tertunduk lesu di sudut ruangan. Sebuah ruangan yang cukup luas dan diterangi dengan cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela jendela yang terbuka. Beberapa perabotan tertata rapi, udara sejuk dari semilir angin begitu terasa menyentuh kulit. 

Begitu terlihat mencolok dengan keadaan ruangan ketika seorang pria hanya duduk di salah satu sudut ruangan tak bergerak dengan kepala yang tertunduk lesu. Seorang wanita tanpa segan masuk ke ruangan dan dengan cepat berjalan menuju ke sudut yang sama.

"Igra..Igra..Igra.." Annisa menepuk lembut tubuh itu sambil memanggil namanya.

Tak ada tanggapan, kembali Annisa mencoba menyadarkan atau pun membangunkan karena Annisa tidak tahu apa yang sedang dilakukan Igra. 

"Sudah...jangan begini." Suara lirih Annisa mencoba kembali mengembalikan jiwa Igra yang lari dari dunia nyata.

Annisa terlihat berhati-hati, dengan lembut dan perlahan Annisa mencoba menyadarkan Igra. Seorang laki-laki yang telah berhasil menggenggam hatinya dengan kuat, menancapkan pondasi yang kuat dalam hatinya dengan ketulusan cinta dari Igra.

Tangan Annisa kembali bergerak, kali ini dia memegang lembut dagu Igra dan diangkatnya perlahan. Sosok kuat dan tegar yang selama ini Annisa lihat tidak tampak sama sekali di wajah Igra. Annisa menatap dalam ke arah Igra, pandangannya terlihat kosong, tak ada pancaran semnangat dan harapan dari tatap mata Igra.

"Silahkan cerita aja, ungkapin semua aja. Aku tau memang berat gagal seperti ini. Luapin aja keluhan kamu, setidaknya masih ada aku yang mau mendengarkan."

Kegagalan dalam perlombaan yang telah Igra persiapkan lama memang sangat menyakitkan. Persiapan berbulan-bulan yang ia lakukan tidak mampu mengantarkan Igra memenangkan perlombaan. Padahal harapan besar dia taruh pada perlombaan ini karena hadiah bagi pemenang adalah beasiswa penuh kuliah s2  hukum di Belanda.

Perjuangan keras selama perlombaan pun tidak menghasilkan apa yang diinginkan Igra. Dimulai dari pembuatan karya tulis ilmiah yang dipersiapkan secara berbulan-bulan, kemudian presentasi sudah dia lakukan semaksimal mungkin tetapi ternyata masih banyak orang lain yang lebih beruntung ternyata.

Angan-angan Igra jika memenangkan perlombaan ini sudah terlukis jelas, bayangan dirinya pergi ke Belanda, membanggakan orang tua, membanggakan kekasihnya dan banyak orang sudah tergambar jelas dalam bayangannya ketika memenangkan perlombaan ini. Perlombaan ini sudah menjadi satu-satunya harapan bagi Igra, menjadi alasan bagi Igra untuk tetap melanjutkan hidup, menatap dunia dengan penuh motivasi dengan semangat. Tetapi yang terjadi benar-benar tak terbayangkan sama sekali.

Annisa mendengarkan dengan baik keluhan-keluhan Igra, diam tak berbicara hanya untuk mendengarkan apa yang terus diucapkan Igra. Annisa ingin agar Igra menumpahkan segala emosinya, meluapkan segala apa yang ada di pikirannya agar tak ada lagi pikiran-pikiran yang menghambat jalan hidupnya nanti.

"Gimana mau hidup coba kalau harapan satu-satunya sudah hilang?!!" 

Annisa tidak ingin menjawab, dia tahu Igra akan terus berbicara," Apa bisa hidup tanpa harapan?Bukannya harapan itu jadi satu alasan untuk bisa hidup??!!"

"Bagaimana bisa semangat kalau tidak ada motivasi??!! Bodoh sekali ya ternyata aku, bisa gagal seperti ini."

Annisa kali ini dengan cepat menanggapi," Kamu tidak bodoh, ingat kamu masih punya impian lain, kamu masih punya aku untuk motivasi dalam hidup kamu. Selama ini kamu sudah sangat tulus, kamu yang sudah banyak memberi pelajaran hidup buat aku. Aku cuma bisa mengingatkan kalau kamu masih punya harapan lain, kalau tidak ada motivasi tinggal cari aja motivasi lain, cari harapan lain di hidup kamu."

Igra terdiam sejenak, dia menatap Annisa, Annisa melanjutkan berbicara, " Aku ingatkan lagi, kamu masih punya impian lain, kamu sudah sering cerita kalau kamu ingin jadi menteri, kamu ingin jadi duta besar, kamu ingin kuliah di luar negeri, kamu ingin jadi seorang profesor, dan banyak lagi. Lihat sendiri kan betapa banyaknya impian kamu? jalan untuk impian kamu itu bukan cuma di perlombaan ini, masih banyak beasiswa lain, masih banyak kesempatan lain untuk bisa kuliah di luar."

"tapi aku sudah berjuang berbulan-bulan untuk ini, aku sudah berharap sepenuhnya untuk ini, apa usaha aku masih kurang? Apa usahaku sia-sia?"

"Tidak ada usaha yang sia-sia, usaha kamu tidak kurang. Bukankah kamu belajar banyak dari persiapan kamu selama ini? Bukankah kamu jadi lebih banyak tahu karena usaha kamu selama ini? Kamu pernah bilang ke aku kalau melihat kegagalan itu jangan hanya dari satu sisi, lihat sisi lainnya, lihat di balik kegagalan itu ada banyak hal yang bisa kamu dapat. Kamu jadi lebih pintar, jadi lebih banyak tahu, jadi punya pengalaman yang sangat berharga buat kamu. Aku ingetin kalau kegagalan itu tidak bisa dilihat dari sisi depannya saja tetapi lihat sisi belakangnya dimana kegagalan menghasilkan banyak hal jika kamu sadari, itu kamu yang bilang ke aku dulu."

Igra terdiam lagi, "Ini lah kenapa aku ada di sini, sebagai pengingat apa yang sudah kamu beri tahu dulu, menjadi orang yang ada buat kamu di saat-saat seperti ini, ada di saat yang tepat buat kamu bukan hanya di saat kamu senang, yang akan selalu aku ingatkan ke kamu percaya kalau aku selalu cinta kamu, cinta yang tulus buat kamu."

Igra tersenyum kecil, "Memang benar ya seseorang bisa hidup karena impian, impian yang memberi harapan, harapan yang menjadi alasan untuk hidup, hidup dengan penuh motivasi dan semangat. Dan betapa beruntungnya aku, kamu masih tetap jadi harapanku, yang membuatku hidup penuh semangat, dan selalu terbayang impian di kepalaku untuk bisa hidup dengan kamu selamanya." 
Jumat, 21 September 2012

Taman Surga



Sehelai daun itu lepas dari ranting yang menopangnya, turun perlahan melayang-layang tanpa tahu akan kemana terjatuh. Annisa menikmati apa yang dilihatnya sekarang, tidak hanya satu tetapi beberapa helai daun lepas tanpa beban.

Bola mata Annisa bergeser ke kiri dan kanan, melihat ke berbagai arah. Dedaunan yang terjatuh mulai berada pada tempat yang sudah ditentukan, bukan karena mereka sendiri tetapi karena angin yang menentukan. Wajah Annisa mengerut, dilihatnya daun kering berwarna coklat jatuh di atas kubangan air, seketika hilang ditelan air keruh berwarna coklat itu.

Ada lagi daun yang baru saja menyentuh tanah kembali terhempas tak berdaya, baru saja sebentar merasakan bau tanah sudah harus melayang lagi tanpa arah. Daun yang masih berwarna hijau itu terlempar tanpa arah tujuan. Daun yang tidak beruntung karena ranting yang menopangnya sudah rapuh, hilang sudah kesempatan menampakkan kehijauannya bagi ribuan pasang mata yang ingin melihatnya. 

Annisa melihat sedih daun hijau itu, seandainya saja ranting yang kuat yang menopangnya sudah tentu akan ada banyak waktu menikmati warna hijau segar daun itu.

“Nampaknya aku belajar banyak dari dedaunan ini.” Annisa berbicara dalam hati

Taman yang begitu luas ini memancing kaki Annisa untuk bergerak, berjalan di atas batu setapak 
menikmati berbagai macam pemandangan yang tersaji rapi. Berbagai macam warna memenuhi pandangan Annisa, bunga-bunga tumbuh sempurna, birunya danau menyejukkan mata,  hijaunya pepohonan menyegarkan mata.

“Rapuh sekali pohon ini.” Tangan berkulit putih Annisa memegang lembut batang pohon yang cukup besar.

Kulit-kulit pohon yang Annisa pegang mengelupas, memperlihatkan seberapa lama pohon ini berdiri dengan berbagai macam dedaunan berganti-ganti menghiasi kepalanya. Sekarang hanya beberapa lembar daun saja yang masih mau menghiasi kepala pohon tua ini.

“Tebang saja seharusnya pohon ini.” Annisa melihat pohon ini sudah tidak layak lagi untuk berdiri di tempat ini, kerapuhannya bagaikan satu titik hitam di atas kertas putih bersih. Satu pohon tua di antara ratusan pohon-pohon muda lainnya.

Tapi tidak tega juga Annisa jika pohon ini harus ditebang, dia masih hidup dan masih ingin berguna walau dengan segala keterbatasannya ini. Setidaknya akan mudah mencari pohon tua ini di antara banyak pepohonan di sini, tampak berbeda dengan lainnya.

“Baik-baik yaa.” Annisa tersenyum pada pohon tua ini dan berjalan meninggalkannya.

“Awww..” Jari telunjuk Annisa meneteskan darah, tertusuk duri tajam yang merobek kulit indahnya.

Dibalik keindahan warna merahnya ternyata ada bahaya yang membayangi. Annisa lupa mawar merah ini berduri. Lupa di balik kelebihan bunga ini, ada kelemahannya yang menyakitkan, duri-duri yang melindungi keindahan mawar ini, sebuah keindahan yang tidak akan mudah di dapat dan dinikmati.

Sambil mengecup jari telunjuknya Annisa melihat ke arah bunga di sebelahnya. Beberapa lebah sedang menikmati menghisap nektar. Bahan dasar bagi madu yang akan mereka buat nanti. Tidak lupa setelah selesai dan terbang meninggalkan bunga itu para lebah menyebar serbuk bunga yang menempel, memberikan bagi banyak bunga lain yang membutuhkan.

Terlukis guratan senyum di wajah Annisa melihat itu, betapa senangnya menjadi saling menguntungkan. Kembali Annisa berjalan menyusuri setapak dengan pijakan yang kuat.
Betapa senangnya pasti air di danau ini ketika tangan mulus Annisa masuk merasakan dinginnya air. 

Wajah Annisa melihat-lihat ke arah air danau ini, wajah cantik dengan rambut panjang terurainya terlukis manis di atas kanvas jernih air danau ini. Rambut bergelombang hitam terurai rapi di pundak Annisa. Mata bulatnya dihiasi dengan bulu mata yang lentik menjadi penyempurna hidungya yang mancung, bibir kecil manisnya semakin melengkapi bagian-bagian wajahnya yang menjadi satu kesatuan yang indah. Betapa beruntungnya air danau jernih itu bisa melihat dengan bebas kecantikan Annisa.

“Dasarnya terlihat jelas ya.” Annisa berbicara sendiri sambil melihat dasar danau yang tidak terlalu dalam itu.

Kejernihan air di pinggir danau ini memperlihatkan dasar berbatu dengan beberapa ikan berenang bebas di antara arus tenang danau. Annisa merasakan ketenangan melihat jernihnya air ini sama ketika ia merasakan ketulusan cinta yang pernah ia rasa, tanpa kecurigaan dan tak ada yang ditutup-tutupi. 

Berbeda ketika Annisa melihat jauh di tengah danau, tak terlihat dasarnya, hanya ketakutan yang ia rasa ketika melihat danau di bagian tengah itu, tak ada kejelasan, dan tak ada kejernihan.

Wajah Annisa berubah kecewa, di kejauhan matahari sudah ingin kembali ke tempat peraduan, sudah ingin mengakhiri pancaran sinar terangnya. Ini pula yang menjadi akhir Annisa menjelajahi taman indah ini, sebuah taman dengan berjuta keindahan dan pelajaran, sebuah taman yang mengajarkan arti kehidupan, memaknai dalam kesendirian, makna hidup yang begitu sederhana.

Contact

agassirindy@gmail.com

Pengikut

Indonesia

Indonesia